Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam

Kompas.com, 2 Juni 2026, 18:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Dua studi terbaru yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Institut Nasional untuk Riset Antariksa Brasil (INPE) mengungkapkan bahwa hutan Amazon di Brasil sudah mulai mengalami kondisi buruk yang sebenarnya baru diprediksi akan terjadi beberapa puluh tahun ke depan.

Melansir Phys, Kamis (28/5/2026) kondisi tersebut meliputi musim kemarau yang berlangsung lebih lama dan perubahan pola curah hujan.

Tanpa adanya aturan dan tindakan nyata yang kompak untuk mengatasi perubahan iklim, situasi ini bisa memburuk dengan sangat cepat, sehingga mengancam kelestarian biodiversitas, pengisian kembali cadangan air alami, serta fungsi utama dari hutan itu sendiri.

Salah satu studi menunjukkan bahwa musim kemarau di Amazon kini semakin panjang, dari yang tadinya empat bulan menjadi enam bulan, dengan kekurangan air mencapai lebih dari -150 milimeter (mm) selama periode tersebut.

Baca juga: Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon

Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Climatology ini menunjukkan adanya ketidakstabilan iklim yang lebih besar, munculnya lebih banyak cuaca ekstrem di luar musimnya, serta meningkatnya kerusakan hutan yang disebabkan oleh kebakaran.

Sementara studi lainnya, yang dimuat dalam jurnal Perspectives in Ecology and Conservation, menganalisis bencana kekeringan yang terjadi di Amazon antara tahun 2023 dan 2024, di mana saat itu Brasil terkena dampak parah dari El Niño.

Lahan terdampak 

Hasil penelitian mengungkap adanya kenaikan sebesar 9 persen pada area yang terbakar dan kenaikan 19 persen pada peringatan kerusakan hutan, dengan hingga 4,2 juta hektare lahan terkena dampak api saat puncak kekeringan.

Hasil-hasil ini membuktikan bahwa lingkaran setan antara kekeringan, kebakaran, dan kerusakan hutan kini semakin parah serta memperlemah kemampuan hutan untuk pulih kembali.

"Beberapa tahun lalu, ketika kami mulai membahas perkiraan cuaca untuk Amazon, masa depan yang buruk itu sering kali terasa masih sangat jauh dan hanya ada di bayangan yang paling suram. Namun, sekarang kita justru melihat ramalan yang paling buruk itu benar-benar terjadi di masa kini. Saat kita membandingkan data hari ini dengan perkiraan masa lalu, kita bisa melihat betapa gentingnya situasi sekarang karena ramalan buruk tersebut sudah menjadi kenyataan dalam analisis iklim kita," kata Débora Dutra, seorang insinyur lingkungan dan sanitasi, calon doktor di INPE, sekaligus penulis utama dari kedua studi tersebut.

Dampak kekeringan terhadap Amazon

Studi ini dilakukan oleh peneliti di Amazon bagian barat daya, mencakup negara bagian Acre serta sebagian wilayah dari negara bagian Amazonas dan Rondônia.

Wilayah tersebut merupakan area yang memiliki lebih dari 90 persen tutupan hutan, namun saat ini sedang menghadapi tekanan yang sangat berat akibat penebangan hutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perkiraan kondisi di mana emisi gas rumah kaca sangat tinggi, kekurangan air akan semakin parah selama musim kemarau di Amazon, khususnya di bagian barat daya hutan tersebut.

Perkiraan cuaca menunjukkan bahwa musim kemarau akan berlangsung lebih lama dan lebih kering dengan peningkatan krisis air antara bulan Juni dan September. Kekurangan air ini bahkan bisa menembus angka di bawah -21 mm per bulan pada akhir abad nanti jika menggunakan perkiraan yang paling buruk.

Tren yang semakin memburuk ini kemungkinan besar akan berdampak langsung pada hutan, termasuk meningkatnya kematian pohon, kerusakan hutan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Baca juga: Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran

Hal ini juga akan mengurangi kemampuan Amazon untuk bertindak sebagai penyerap karbon, yang akan memperkuat lingkaran setan antara kerusakan hutan dan pemanasan global.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Pemerintah
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
LSM/Figur
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
LSM/Figur
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Pemerintah
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
Pemerintah
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
Pemerintah
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Pemerintah
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
LSM/Figur
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
LSM/Figur
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Pemerintah
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Pemerintah
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau