Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif

Kompas.com, 2 Juni 2026, 22:14 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber DW, Euronews

KOMPAS.com - Gelombang panas yang melanda Eropa Barat pada awal musim panas mendorong lonjakan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Kondisi tersebut menyebabkan harga listrik di sejumlah negara Eropa turun hingga di bawah nol atau menjadi negatif karena pasokan energi melebihi permintaan.

Fenomena harga listrik negatif terjadi di pasar grosir energi, tempat produsen dan pembeli listrik melakukan transaksi harian.

Baca juga: Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi

Meski demikian, kondisi ini tidak serta-merta menurunkan tagihan listrik rumah tangga karena harga negatif hanya terjadi pada perdagangan antar pelaku pasar energi.

Harga listrik per jam di Inggris sempat menjadi negatif pada Minggu (24/5/2026), disusul Prancis pada Selasa (26/5/2026), ketika suhu udara meningkat tajam dan produksi listrik tenaga surya melonjak.

Dikutip dari Euronews dan DW, Selasa (2/6/2026), di Semenanjung Iberia yang mencakup Spanyol dan Portugal, frekuensi harga listrik negatif bahkan mencetak rekor baru pada kuartal pertama 2026.

Dalam pasar listrik harian Eropa, produsen energi bersaing menawarkan listrik dengan harga tertentu.

Ketika pasokan melimpah dan permintaan tidak mampu menyerap seluruh produksi, sebagian produsen memilih tetap menjual listrik dengan harga sangat rendah, bahkan negatif, karena biaya menghentikan dan menghidupkan kembali pembangkit dinilai lebih mahal.

Tantangan energi terbarukan

Fenomena ini menyoroti tantangan baru dalam transisi energi Eropa. Di satu sisi, kapasitas energi terbarukan terus bertambah.

Namun di sisi lain, infrastruktur jaringan listrik dan fasilitas penyimpanan energi belum berkembang secepat peningkatan produksi listrik dari sumber energi terbarukan.

Menurut laporan lembaga riset energi Ember, jaringan listrik di Eropa saat ini belum sepenuhnya siap mengakomodasi lonjakan pasokan dari energi surya dan angin.

Sebagian besar jaringan yang ada dirancang untuk melayani pembangkit listrik konvensional yang terpusat, bukan pembangkit energi terbarukan yang tersebar di berbagai lokasi.

Akibat keterbatasan tersebut, listrik yang dihasilkan PLTS dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) tidak selalu dapat disalurkan ke wilayah yang membutuhkan. Ember memperkirakan lebih dari 120 gigawatt kapasitas energi terbarukan yang direncanakan berisiko terhambat akibat keterbatasan jaringan listrik.

Selain jaringan, kapasitas penyimpanan energi juga menjadi tantangan utama. Ketika produksi listrik meningkat tajam pada siang hari, kelebihan energi sulit disimpan untuk digunakan pada malam hari atau saat permintaan meningkat.

Baca juga: RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW

Data SolarPower Europe menunjukkan Uni Eropa memasang kapasitas baru sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy storage system (BESS) sebesar 27,1 gigawatt-hour (GWh) sepanjang 2025.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Pemerintah
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
LSM/Figur
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
LSM/Figur
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Pemerintah
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
Pemerintah
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
Pemerintah
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Pemerintah
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
LSM/Figur
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
LSM/Figur
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Pemerintah
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Pemerintah
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau