JAKARTA, KOMPAS.com - Pencegahan kebocoran emisi gas rumah kaca (GRK) metana (CH4) dapat meningkatkan daya saing sektor minyak dan gas (migas) di Indonesia.
Investor mempertimbangkan jejak metana sektor migas sebagai bagian dari kepatuhan terhadap komitmen internasional, Oil and Gas Methane Partnership (OGMP).
"Jepang dan Korea Selatan sudah masuk ke dalam Clean LNG Coalitio, mereka menginginkan emisi GRK-nya rendah. Nah, jika emisi GRK Indonesia rendah dengan mengurangi emisi metana, otomatis akan lebih kompetitif. Iya, tentunya (meningkatkan daya saing investasi). Lebih compliance," ujar COO & Researcher ECADIN, Candra Sri Sutama usai acara Methane in Oil & Gas Media Briefing, Senin (8/6/2026).
Baca juga: RI Perlu Susun Regulasi Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas
Untuk itu, industri migas di Indonesia perlu mengurangi jejak metana karena mengekspor Liquefied Natural Gas (LNG) terbesar ke Jepang dan Korea Selatan. LNG dari Indonesia menjadi sumber energi di Jepang dan Korea Selatan, sehingga jejak metananya akan mempengaruhi perhitungan emisi GRK dan life cycle assesment (LCA) dari komoditas yang mereka produksi.
Agar Jepang dan Korea Selatan bisa mengekspor komoditasnya ke Uni Eropa, kedua negara Asia Timur itu banyak membantu industri migas di Indonesia mengurangi kebocoran emisi GRK metana.
Jepang dan Korea Selatan terdampak langsung Carbon Border Adjustment Mechanisme, kebijakan Uni Eropa yang menerapkan tarif atau pajak terhadap produk impor berdasarkan jumlah emisi GRK yang dihasilkan selama proses pembuatannya.
"Jadi, kalau Jepang dan Korea Selatan ingin mengurangi footprint carbon produk-produk mereka atau mau terutama diekspor ke Eropa, mereka tertarik untuk mengurangi footprint carbon energi mereka," tutur Candra.
Kebocoran emisi GRK metana pada sektor industri migas di Indonesia sebenarnya senantiasa dipantau International Methane Emissions Observatory (IMEO), insiatif dari UNEP atau program lingkungan PBB.
Baca juga: Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana
Pemantauan kebocoran emisi GRK metana di Indonesia tersebut melalui satelit dan pengukuran lapangan memakai drone. Namun, pemantauan kebocoran emisi GRK metana di Indonesia menggunakan satelit agak sulit karena banyak awan dan vegetasi.
Untuk itu, Indonesia perlu menyusun regulasi untuk mengatur manajemen pengurangan emisi GRK metana di industri migas untuk memperkuat daya saingnya.
Indonesia bisa berkaca dari keberhasilan Uni Eropa dalam mengatur emisi GRK metana untuk sektor migasnya. Uni Eropa juga sudah mengatur metana dari migas yang dimpornya, sehingga semua yang masuk dikenakan kewajiban melaporkan emisi GRK-nya.
"Ini sempat ada konflik sebenarnya dengan salah satu negara pengekpor di Timur Tengah, karena mereka tidak mau diatur, tapi Eropa bersikukuh. Jadi, mereka bergerak lebih satu step lagi yaitu tidak hanya regulasi di dalam Eropa tapi juga mengatur yang mengekspor ke dalam Eropa dan ini otomatis menjadi concern negara-negara lain, termasuk Indonesia yang langsung atau tidak langsung mengekspor ke Eropa," ucapnya.
Baca juga: Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT
Bahkan, Norwegia sudah mengatur metana sektor migas sejak 1970-an, yang mana saat ini jejak emisi GRK-nya paling kecil di seluruh dunia. Norwegia terus memperbaiki manajemen pengurangan emisi GRK metana, termasuk memakai penalti dan pajak terhadap karbon yang dihasilkan oleh sektor migas.
Berdasarkan International Energy Agency (IEA) tahun 2025, sektor energi, seperti batu bara dan migas, menyumbang sebesar 41 persen dari total emisi GRK metana di Indonesia. Sedangkan sektor pertanian berkontribusi terhadap 39 persen dan limbah 18 persen dari total emisi GRK metana di Indonesia.
Menurut Candra, mengurangi emisi GRK metana pada sektor migas lebih gampang ketimbang pertanian yang tidak terkonsentrasi. "Kalau di migas sudah lebih jelas, kira-kira di mana bocornya itu, kita bisa ukur karena kita sudah tahu kebocorannya itu kira-kira di sebelah mana dan di situ kita bisa ukur dan bisa tanggulangi dengan lebih konkret," tutur Candra.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya