Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim

Kompas.com, 26 Juni 2026, 18:35 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Sebuah laporan menemukan bahwa menjamurnya pusat data dan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini makin sering menjadi sasaran gugatan hukum terkait lingkungan di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Chile, hingga Irlandia.

Melansir Guardian, Kamis (25/6/2026) laporan tahunan terbaru dari London School of Economics (LSE) mengungkapkan ada sekitar 3.600 gugatan hukum terkait iklim yang diajukan sejak tahun 2015.

Analisis mereka menyebut adanya peningkatan jumlah kasus yang memprotes sumber energi, pemborosan air, serta polusi udara dari pusat data. Semua hal tersebut dinilai berdampak buruk pada perubahan iklim.

Salah satu kasus pertama terjadi pada tahun 2020 di ibu kota Chile, Santiago, saat Google berencana membangun pusat data raksasa di wilayah Cerrillos.

Sekelompok warga dan pemerintah daerah setempat menggugat izin yang diberikan kepada Google karena mereka khawatir proyek tersebut akan merusak pasokan air kota yang sudah kritis akibat krisis iklim.

Gugatan hukum tersebut berhasil menghentikan proyek Google di Cerrillos dengan alasan bahwa dampak buruknya terhadap iklim belum diperhitungkan dengan benar. Namun, gugatan ini tidak mampu membendung ledakan pembangunan pusat data lainnya di tempat lain, yang kini terus menyedot air dari lahan basah di Chile yang sebenarnya sudah dilanda kekeringan parah.

Baca juga: Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global

Kasus di Irlandia

Laporan dari LSE tersebut juga menunjukkan bahwa Irlandia menjadi wilayah yang paling panas dengan kasus gugatan hukum terhadap pusat data.

Pemerintah Irlandia sebenarnya ingin industri ini terus diperluas, padahal pusat data di sana sudah memakan lebih dari seperlima (20 persen) total energi listrik di seluruh negara tersebut.

Komisi Pengaturan Utilitas (CRU) Irlandia menyatakan bahwa pengguna energi skala besar seperti pusat data masih diizinkan menggunakan bahan bakar fosil selama enam tahun ke depan. Setelah masa itu habis, mereka wajib menggunakan setidaknya 80 persen energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Lembaga swadaya masyarakat (NGO) seperti Friends of the Irish Environment (FIE), Friends of the Earth Ireland, dan ClientEarth sedang mengajukan peninjauan hukum ke pengadilan atas keputusan tersebut.

Mereka menilai aturan baru itu akan menjebak Irlandia untuk terus menggunakan gas fosil yang mahal dan menghasilkan polusi tinggi selama bertahun-tahun ke depan.

FIE juga telah mengajukan beberapa tuntutan hukum lain terkait pusat data di Irlandia, termasuk menggugat Badan Perlindungan Lingkungan setempat karena telah memberikan izin untuk sebuah proyek pusat data di wilayah Dublin Selatan.

Perlawanan hukum terhadap pusat data juga makin meluas di Amerika Serikat. Di California, pemerintah kota Pittsburg kini wajib memaksa pusat data di sana untuk menggunakan energi terbarukan dan memakai air daur ulang untuk mendinginkan komputernya.

Sementara itu di negara bagian Georgia dan Pennsylvania, gugatan hukum masih berjalan untuk memprotes keputusan pemerintah daerah yang mengizinkan pembangunan pembangkit listrik bahan bakar fosil baru yang terhubung dengan pusat data.

Kasus lain di Mississippi, AS mempermasalahkan perusahaan xAI milik Elon Musk yang dinilai melanggar Undang-Undang Udara Bersih. Mereka dituduh menjalankan mesin genset gas metana portabel tanpa memiliki izin resmi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau