Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus Rp178.600 Triliun

Kompas.com, 27 Juni 2026, 15:29 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Ekonomi hijau global telah mencapai tonggak sejarah besar dengan nilai pasar menembus Rp178.600 triliun (10 triliun dolar AS), menurut laporan terbaru dari LSEG.

Jika dianggap sebagai industri mandiri, sektor ini sekarang akan menempati peringkat ketiga terbesar di dunia melampaui sektor kesehatan, dan hanya berada di bawah sektor teknologi serta industri.

Melansir Know ESG, Jumat (26/6/2026) laporan tersebut juga menemukan bahwa ekonomi hijau kini menyumbang 9,9 persen dari seluruh saham perusahaan yang tercatat di bursa global.

Hal ini mencerminkan terus berkembangnya bisnis yang fokus pada produk dan layanan ramah lingkungan. Pendapatan pun mengalami peningkatan di 99 dari 133 kategori produk dan layanan hijau yang dipantau oleh LSEG, yang menunjukkan pertumbuhan yang merata di sektor ini.

Baca juga: Ekonomi Hijau Tumbuh, Uni Eropa Catat Lonjakan Signifikan Green Jobs

Investasi bisnis berkelanjutan tetap kuat

Meskipun ada perubahan kebijakan di beberapa negara termasuk Amerika Serikat yang menarik diri dari komitmen iklim internasional dan mengurangi dukungan untuk insentif energi bersih tertentu, investasi pada bisnis berkelanjutan tetap kuat. Amerika Serikat terus mendominasi pasar hijau global dengan menyumbang 57 persen dari total nilai pasar hijau di seluruh dunia.

Permintaan perusahaan terhadap listrik ramah lingkungan juga semakin cepat. Raksasa teknologi seperti Meta, Amazon, Google, dan Microsoft bertanggung jawab atas hampir setengah dari seluruh perjanjian pembelian daya (PPA) energi bersih yang ditandatangani perusahaan selama tahun 2025. Hal ini memperkuat besarnya peran sektor swasta dalam memperluas penggunaan energi bersih.

Jaakko Kooroshy, Kepala Riset Investasi Berkelanjutan Global di LSEG, mengatakan bahwa transisi hijau telah memasuki babak baru.

Kini, ketahanan energi dan daya saing ekonomi menjadi sama pentingnya dengan pengurangan emisi karbon. Perubahan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan lingkungan semakin dilihat sebagai strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar tujuan penyelamatan lingkungan.

Laporan ini juga menyoroti performa keuangan yang luar biasa dari ekonomi hijau dalam jangka panjang. Sejak tahun 2008, sektor ini berhasil mengungguli pasar saham global sebesar 133 persen, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 18 persen dibandingkan pasar umum yang hanya 12 persen.

Pertumbuhannya pun semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir, di mana laju pertumbuhan ekonomi hijau antara tahun 2023 hingga 2026 meningkat hampir dua kali lipat dibanding periode tiga tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pasar obligasi hijau

Sektor lain yang menunjukkan perkembangan kuat adalah pasar obligasi hijau. Penerbitannya mencetak rekor baru hingga mencapai Rp10.805 triliun (605 miliar dolar AS) pada tahun 2025, naik 5,7 persen dari tahun sebelumnya.

Perusahaan swasta menyumbang lebih dari dua pertiga dari total penerbitan obligasi hijau ini. Sementara itu, proyek-proyek yang berkaitan dengan manajemen dan efisiensi energi menjadi bagian terbesar dari total nilai obligasi hijau yang saat ini beredar, yaitu mencapai Rp58.938 triliun (3,3 triliun dolar AS) pada kuartal pertama tahun ini.

Baca juga: Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa fokus pada kelestarian lingkungan kini memberikan keuntungan finansial. Di antara sekitar 4.000 perusahaan yang terdaftar di FTSE, bisnis yang menghasilkan lebih dari setengah pendapatannya dari aktivitas hijau melaporkan keuntungan operasional yang lebih kuat dibandingkan perusahaan sejenis yang minim aktivitas hijau.

Namun, perusahaan yang masih berada dalam tahap awal transisi ke model bisnis yang lebih hijau sering kali mengalami keuntungan yang lebih rendah karena harus menanggung biaya perubahan tersebut.

Aktivitas penggabungan dan akuisisi perusahaan di sektor hijau juga semakin besar skalanya. Antara tahun 2023 dan 2025, rata-rata nilai transaksi hijau mencapai Rp4,5 triliun (257 juta dolar AS ), jauh melampaui rata-rata nilai transaksi di sektor non-hijau.

Perusahaan industri dan penyedia layanan publik seperti listrik dan air menyumbang lebih dari setengah total nilai akuisisi hijau, di mana sektor layanan publik menjadi salah satu yang paling aktif dalam mendorong investasi berkelanjutan.

Temuan ini menunjukkan bahwa ekonomi hijau tidak hanya berkembang pesat, tetapi juga telah menjadi kekuatan utama yang membentuk arah investasi global, strategi perusahaan, serta pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

sumber https://knowesg.com/finance-technology/green-economy-hits-usd10-trillion-as-sustainable-markets-continue-strong-growth

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus  Rp178.600 Triliun
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus Rp178.600 Triliun
Pemerintah
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Pemerintah
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
Swasta
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
Swasta
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
Pemerintah
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Pemerintah
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pemerintah
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Swasta
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
LSM/Figur
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Pemerintah
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
LSM/Figur
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Pemerintah
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
LSM/Figur
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau