Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN: Limbah Industri Minyak Atsiri Berpotensi Diolah jadi Biobriket Energi Biomassa

Kompas.com, 11 Juli 2026, 12:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Limbah padat dari industri minyak atsiri berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung pengembangan energi alternatif berbasis biomassa sekaligus mengurangi limbah agroindustri.

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anny Sulaswatty, mengatakan limbah dari berbagai tanaman penghasil minyak atsiri, seperti akar wangi, serai wangi, kayu manis, cengkeh, jahe, hingga kayu cendana, gaharu, dan masoi, masih memiliki kandungan karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar padat.

"Banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket, tetapi poin utamanya adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40 persen," ujar Anny, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu (11/7/2026).

Baca juga: Inovasi Guru di Gayo Lues Jaga Hutan Lewat Penyulingan Atsiri

Salah satu limbah yang dinilai paling menjanjikan adalah residu padat hasil penyulingan rimpang jahe (Zingiber officinale). Selama ini limbah tersebut umumnya belum dimanfaatkan secara optimal, padahal masih mengandung lignoselulosa yang dapat diolah menjadi biochar dan selanjutnya diproses menjadi biobriket.

Menurut Anny, limbah rimpang jahe memiliki kandungan lignin mencapai 45,98 persen sehingga berpotensi menjadi bahan baku biobriket berkualitas.

"Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket. Melalui proses pirolisis, limbah ini dapat ditingkatkan kualitasnya," katanya.

Dikembangkan melalui proses karbonisasi

Dalam penelitian tersebut, limbah penyulingan jahe terlebih dahulu dikeringkan sebelum melalui proses karbonisasi untuk menghasilkan biochar. Biochar kemudian dicampur dengan berbagai jenis perekat, dicetak menjadi biobriket, dan diuji karakteristiknya.

Penelitian mengevaluasi pengaruh berbagai jenis perekat terhadap kualitas biobriket, mulai dari kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, hingga nilai kalor.

Selain itu, tim peneliti melakukan karakterisasi fisikokimia menggunakan berbagai teknik analisis laboratorium untuk melihat perubahan struktur material selama proses pembuatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa proses karbonisasi mampu meningkatkan kandungan karbon sekaligus menghasilkan struktur biochar yang lebih berpori. Sementara itu, pemilihan perekat yang tepat berpengaruh terhadap densitas dan kekuatan mekanik biobriket.

"Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat, memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah," ujar Anny.

Dukung ekonomi sirkular

Menurut Anny, pemanfaatan limbah penyulingan jahe menjadi biobriket tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah agroindustri, tetapi juga menjadi solusi atas meningkatnya akumulasi limbah dari industri minyak atsiri dan herbal.

Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat diubah menjadi bahan bakar padat terbarukan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pemanfaatan limbah biomassa, baik di tingkat industri maupun masyarakat.

Baca juga: Nilam, Harapan, dan Mimpi Besar Aceh Jadi Kota Parfum Kedua setelah Grasse Prancis

Teknologi tersebut dinilai berpotensi diterapkan di sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghasilkan limbah rimpang jahe dalam jumlah besar.

"Di tengah meningkatnya kebutuhan akan energi terbarukan, pengembangan biobriket berbasis limbah pertanian menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan," kata Anny.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, pemanfaatan limbah biomassa sebagai biobriket juga dinilai dapat mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, meningkatkan efektivitas pengelolaan limbah, serta menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian dan agroindustri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau