Penulis
"WHO dan UNICEF menyebut, kalau di suatu negara angka anemia defisiensi besinya masih di atas 20 persen, maka negara itu tidak akan maju, karena indeks human capital-nya (sumber daya manusia) ikut rendah," ujar Ray.
Ibu hamil yang mengalami anemia defisiensi besi, lanjut Ray, juga berisiko lebih tinggi melahirkan bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah.
Baca juga: Rentan Anemia, Pasien Penyakit Ginjal Kronik Perlu Cek Hemoglobin
Sehingga siklus masalah gizi ini bisa berlanjut ke generasi berikutnya.
"Ini menyangkut status ekonomi dan kualitas SDM (sumber daya manusia). Ini harus menjadi kampanye nasional untuk mencegah dan menurunkan anemia defisiensi besi," katanya.
Di satu sisi, salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi anemia, menurut Ray, adalah rendahnya angka skrining.
Ia mengutip riset Universitas Gadjah Mada yang menyebut tingkat skrining pada balita di Indonesia masih di bawah 10 persen, artinya sekitar 90 persen kasus berpotensi tidak terdeteksi.
Baca juga: Ibu Hamil Perlu Tahu, Ini Tips Mencegah Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Berdasarkan konsensus bersama pemerintah, universitas, dan tenaga kesehatan yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bidang nutrisi, Ray menuturkan Danone Indonesia merumuskan tiga pilar strategi untuk membantu menekan angka anemia defisiensi besi di Tanah Air.
Pertama, peningkatan kesadaran atau awareness building. Dia menuturkan, Danone Indonesia menggandeng bidan untuk mengedukasi ibu hamil dan keluarga soal asupan gizi yang baik.
Kedua, penguatan riset dan kemitraan penelitian. Ray berujar, Danone Indonesia bersama universitas di sejumlah provinsi telah mempublikasikan lebih dari 40 penelitian ilmiah terkait anemia dan nutrisi.
Salah satu hasil penelitian tersebut bahkan telah diadopsi Kementerian Kesehatan RI sebagai rujukan program pencegahan anemia di tingkat sekolah.
Baca juga: Sering Mengantuk dan Suka Tidur, Benarkah Tanda Anemia? Ini Penjelasan Dokter
Ketiga, skrining yang mudah diakses. Melalui program Inutri, Ray menyebut DanoneIndonesia mengembangkan Iron Calculator, alat skrining berbasis kuesioner digital yang tidak memerlukan pengambilan sampel darah.
Alat ini telah digunakan untuk lebih dari 1 juta skrining terhadap ibu dan balita di Indonesia.
"Menyelesaikan masalah anemia defisiensi besi tidak boleh hanya dengan menyiapkan obat. Harus ada edukasi, harus ada building awareness, dan harus ada fasilitas untuk memastikan anak-anak yang berisiko sudah terdeteksi sejak awal kehidupan," kata Ray.
Baca juga: Sering Mengantuk dan Suka Tidur, Benarkah Tanda Anemia? Ini Penjelasan Dokter
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya