Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda

Kompas.com, 13 Juli 2026, 18:47 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa generasi muda saat ini kemungkinan menua lebih cepat secara biologis dibandingkan generasi terdahulu mereka.
Hal tersebut kemudian diduga menjadi menjadi alasan di balik melonjaknya kasus kanker di usia muda.

Melansir Live Science, Rabu (1/7/2026) belakangan ini, terjadi peningkatan jumlah kasus beberapa jenis kanker pada orang dewasa di bawah usia 50 tahun, seperti kanker payudara, usus besar, ginjal, dan rahim.

Sebuah laporan tahun 2023 menunjukkan bahwa diagnosis kanker pada usia muda melonjak hingga 25 persen di seluruh dunia antara tahun 1990 dan 2019, dan para ilmuwan masih terus menyelidiki penyebab pastinya.

"Tren meningkatnya kasus kanker pada usia yang lebih muda ini sangat nyata, dan ini bukan sekadar karena alat periksa kita sekarang lebih canggih atau karena penyakitnya terdeteksi lebih awal," kata Dr. Jyoti Nangalia, peneliti kanker dari Wellcome Sanger Institute di Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Ada kemungkinan tubuh kita terpapar risiko baru penyebab kanker, atau benteng pertahanan alami di dalam tubuh kita entah bagaimana telah berubah," jelasnya.

Baca juga: Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara

Kesenjangan usia asli dengan usia biologis

Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 22 Juni di jurnal Nature Medicine menunjukkan bahwa generasi muda saat ini memiliki "jarak" yang lebih lebar antara usia asli mereka dan usia biologis dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Jarak yang semakin besar pada orang dewasa muda ini tampaknya berhubungan erat dengan tingginya risiko terkena kanker di usia dini.

Penelitian baru ini memang belum bisa membuktikan secara pasti bahwa penuaan biologis yang lebih cepat adalah penyebab langsung kanker di usia muda, tetapi temuan tersebut memberikan petunjuk baru bagi para ilmuwan yang sedang berusaha mengungkap apa yang memicu tren yang mengkhawatirkan ini.

"Ini benar-benar pembuktian dari sebuah konsep baru," kata Yin Cao, salah satu penulis penelitian dan ahli penyakit molekuler dari Washington University School of Medicine dan Siteman Cancer Center.

Usia asli sangatlah sederhana. Itu adalah jumlah tahun yang telah berlalu sejak seseorang lahir.

Namun, usia biologis bisa sangat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Istilah umum ini menggambarkan berbagai ukuran kesehatan tubuh, termasuk tanda-tanda khusus pada DNA dan di dalam aliran darah.

Hal ini sering kali diukur menggunakan "jam penuaan", alat yang bertujuan untuk mendeteksi apakah kondisi tubuh seseorang bekerja jauh lebih tua daripada usia aslinya di KTP.

Para ilmuwan semakin sering menggunakan ukuran penuaan ini untuk memahami mengapa sebagian orang lebih mudah terserang penyakit tua dibandingkan orang lainnya.

Untuk memeriksa apakah ada hubungan antara usia biologis dan melonjaknya kasus kanker di usia muda, penelitian baru ini memeriksa data lebih dari 150.000 orang dewasa di UK Biobank,sebuah proyek besar di Inggris yang telah memantau kesehatan sekitar setengah juta orang sejak pertengahan tahun 2000-an.

Peneliti memasukkan data tersebut ke dalam PhenoAge, sebuah sistem hitung digital yang bisa menebak "jarak usia" tubuh seseorang dibandingkan usia aslinya.

Analisis tersebut menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Para peserta di Inggris yang lahir antara tahun 1965 dan 1974 memiliki jarak usia tubuh yang lebih tua dibandingkan mereka yang lahir antara tahun 1950 dan 1954 pada usia asli yang sama. Berdasarkan alat ukur PhenoAge, kelompok yang lebih muda ini memiliki tingkat penuaan tubuh yang sedikit lebih cepat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau