Para peneliti kemudian menerapkan cara yang sama pada sekitar 10.000 peserta di bank data Amerika Serikat.
Di sana, mereka menemukan pola yang jauh lebih parah. Orang-orang yang lahir antara tahun 1990 dan 1999 memiliki jarak penuaan tubuh yang melonjak jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang lahir antara tahun 1965 dan 1969.
Pada kelompok data di Inggris, para peneliti menemukan bahwa peserta yang usia tubuhnya menua lebih cepat lebih mudah terkena kanker tumor padat. Hubungan ini paling kuat ditemukan pada kanker paru-paru, kanker saluran pencernaan, dan kanker rahim. Temuan ini didasarkan pada catatan medis asli para pasien.
Ketika para peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan usia biologis mereka, kelompok yang tubuhnya paling tua memiliki risiko terkena kanker tumor padat 15 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tubuhnya paling muda.
Untuk menyelidiki lebih dalam, para penulis menggunakan sistem hitung lain yang bisa menebak penuaan biologis pada organ dan sistem tubuh tertentu lewat protein dalam darah.
Pada hampir 20.000 peserta, mereka menemukan bahwa sistem imun yang menua sebelum waktunya berhubungan erat dengan tingginya risiko kanker paru-paru di usia muda. Begitu pula dengan jaringan lemak yang menua lebih cepat, berhubungan dengan tingginya risiko kanker usus besar di usia muda.
Apakah ini berarti generasi muda menua lebih cepat dan hal itu menyebabkan peningkatan kasus kanker? Mungkin saja, tetapi bisa juga tidak karena ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan dari temuan penelitian ini.
Baca juga: Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia
Pola ini menurut peneliti masih perlu dibuktikan lagi pada kumpulan data dan kelompok masyarakat yang lain.
Selain itu tes penuaan biologis, termasuk sistem PhenoAge, juga masih tergolong baru, dan dampak pastinya belum sepenuhnya dipahami. Meskipun tes ini jelas bisa menggambarkan kondisi kesehatan dan risiko penyakit pada sekelompok besar orang, hasil tes yang berbeda bisa memberikan jawaban yang sangat bertolak belakang jika digunakan pada satu orang yang sama.
Lebih lanjut, sama seperti penelitian pengamatan lainnya yang menggunakan bank data raksasa, sangat sulit untuk memisahkan antara mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat.
"Masalah utama dari laporan ilmiah ini adalah soal hubungan kecocokan lawan sebab-akibat," kata Cao.
"Meski begitu, penelitian ini tetap berguna. Jika ini hanya sebatas kecocokan data, ini bisa jadi cara memantau kesehatan masyarakat dan risiko kanker. Namun jika ini adalah sebab-akibat langsung, ini bisa memberi gambaran bagaimana kanker terbentuk," paparnya lagi.
Cao berharap metode yang digunakan timnya bisa menjadi alat bantu baru yang berguna untuk mencari tahu mengapa semakin banyak anak muda yang terkena kanker.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya