Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan

Kompas.com, 13 Juli 2026, 19:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com -- PBB menyebut sebagian besar negara berkembang lebih sedikit menganggarkan uang untuk pendidikan dibandingkan untuk membayar utang pada tahun lalu.

Di saat yang sama, bantuan internasional untuk pendidikan global diperkirakan bakal turun sampai 30 persen.

Melansir Guardian, Jumat (10/7/2026) berdasarkan penelitian UNESCO, ada 113 negara berkembang yang mengeluarkan uang lebih banyak demi membayar cicilan utang luar negeri ketimbang mengurus pendidikan di tahun 2025.

Di wilayah Afrika subsahara, situasinya lebih parah karena negara-negara di sana menghabiskan uang 3,6 kali lipat lebih banyak untuk utang daripada untuk sekolah.

Bahkan sebanyak 18 negara dengan utang paling menumpuk mengeluarkan uang lima kali lipat lebih banyak untuk bayar utang dibanding untuk anggaran pendidikan.

Baca juga: Tiga Bahaya Perubahan Iklim Intai Hampir Separuh Anak di Dunia

UNESCO memperingatkan bahwa kondisi ini kemungkinan besar akan semakin memburuk akibat adanya pemotongan bantuan dana. Negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah ke bawah tercatat sudah kehilangan 21 persen bantuan dana pendidikan yang biasa mereka terima di tahun 2023, dan jumlah kerugian dana ini bisa melonjak hingga 30 persen pada tahun 2027.

Beberapa negara seperti Afghanistan, Mali, Niger, dan Liberia bahkan sudah kehilangan lebih dari 40 persen bantuan dana pendidikan mereka hanya dalam waktu tiga tahun.

"Cara yang berjalan saat ini benar-benar membuat negara-negara terjebak dalam lingkaran setan penghematan, kurangnya investasi, dan pembangunan yang mandek," kata Min Jeong Kim, direktur divisi pendidikan UNESCO.

"Hal ini benar-benar melemahkan pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut, merusak pendapatan dalam negeri mereka, dan pada akhirnya juga menurunkan kemampuan mereka untuk melunasi utang seiring berjalannya waktu," ungkapnya lagi.

Jumlah pembayaran utang

Menurut kelompok aktivis Debt Justice yang berbasis di Inggris, jumlah pembayaran utang oleh negara-negara miskin mencapai rekor tertinggi dalam 35 tahun terakhir pada tahun lalu, di mana ada 56 negara yang menghabiskan hampir seperlima dari total seluruh pendapatan mereka hanya untuk membayar cicilan utang.

"Pembayaran utang negara-negara ini melonjak drastis setelah terjadinya serangkaian bencana, mulai dari Covid, kenaikan harga energi dan suku bunga, hingga bencana iklim," terang Tim Jones, direktur kebijakan di Debt Justice.

"Di negara-negara yang terkena dampak paling parah, hal ini menyebabkan pemotongan anggaran untuk layanan penting seperti kesehatan dan pendidikan," katanya.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia

Situasi ini diperparah oleh pemotongan bantuan dana dari Amerika Serikat dan Eropa. Pemotongan tersebut membuat dana bantuan untuk pendidikan merosot sebesar 600 juta dolar AS pada tahun 2024 dan diperkirakan bakal turun lebih banyak lagi.

Gabungan dari pemotongan bantuan dana asing dan dialihkannya uang negara untuk membayar utang telah merusak sistem pendidikan. Akibatnya, banyak sekolah tidak menerima cukup uang untuk beroperasi dan para guru tidak digaji.

Dalam jangka panjang, ada kekhawatiran bahwa rusaknya sistem pendidikan ini akan melemahkan kemampuan negara-negara berutang untuk memajukan ekonomi mereka dan membuat mereka makin kesulitan mengatasi beban utang di masa depan.

UNESCO menyatakan bahwa harus ada perubahan dalam cara pemberian keringanan utang. Sistemnya harus diubah dari bantuan jangka pendek yang bersifat sementara menjadi perjanjian jangka panjang yang memungkinkan negara-negara tersebut tetap bisa mendanai fasilitas umum mereka.

sumber https://www.theguardian.com/global-development/2026/jul/10/developing-countries-spend-more-foreign-debt-education-aid-cuts-unesco

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Pemerintah
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Pemerintah
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Pemerintah
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Pemerintah
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
LSM/Figur
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
Pemerintah
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Pemerintah
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Pemerintah
Separuh Moluska Dunia Terancam Punah, Dampak Penambangan Laut Dalam
Separuh Moluska Dunia Terancam Punah, Dampak Penambangan Laut Dalam
LSM/Figur
Pertama di Dunia, Airbus Rencana Garap Mesin Pesawat Bertenaga Hidrogen Listrik
Pertama di Dunia, Airbus Rencana Garap Mesin Pesawat Bertenaga Hidrogen Listrik
Swasta
Cegah Polusi Bau, FIFGROUP Gresik-BUMDes Melirang Hidupkan Kembali Potensi Pupuk Guano
Cegah Polusi Bau, FIFGROUP Gresik-BUMDes Melirang Hidupkan Kembali Potensi Pupuk Guano
Swasta
PBB: 1 Juta Perempuan Kehilangan Akses Bantuan Kemanusiaan
PBB: 1 Juta Perempuan Kehilangan Akses Bantuan Kemanusiaan
Pemerintah
Bukan Cuma Soal Makan, Begini Agar Zat Besi Benar-benar Terserap Tubuh Anak
Bukan Cuma Soal Makan, Begini Agar Zat Besi Benar-benar Terserap Tubuh Anak
Swasta
Anemia Terus Mengintai Indonesia, Bisa Ancam Kualitas SDM
Anemia Terus Mengintai Indonesia, Bisa Ancam Kualitas SDM
Swasta
Imbas Perubahan Iklim, Kerugian Gagal Panen Global Tembus Rp 361,6 Triliun per Tahun
Imbas Perubahan Iklim, Kerugian Gagal Panen Global Tembus Rp 361,6 Triliun per Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau