Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia

Kompas.com, 3 Juli 2026, 10:08 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dampak perubahan iklim dinilai tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan sudah dirasakan langsung oleh anak-anak di berbagai wilayah Indonesia.

Krisis air bersih akibat musim kemarau yang semakin panjang, misalnya, memaksa sebagian anak menghabiskan waktu untuk mencari air sehingga mengurangi kesempatan mereka belajar maupun bermain.

National Director Wahana Visi Indonesia (WVI) Angelina Theodora mengatakan, kondisi tersebut banyak dijumpai di daerah yang memiliki keterbatasan sumber air, seperti Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, maupun Asmat, Papua Selatan.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi

"Kalau kemarau, air enggak ada, seperti Sumba Barat Daya, Asmat yang airnya memang harus menunggu air hujan. Nah, di tempat-tempat seperti itu kami melihat sebetulnya isu perubahan iklim ini konsekuensinya atau dampak negatifnya sudah dirasakan saat ini," ujar Angelina usai Festival Kisah Inspiratif di Perpustakaan Nasional, Kamis (2/7/2026).

Menurut dia, ketika sumber air di sekitar permukiman mengering, anak-anak sering kali ikut bertanggung jawab mencari air bersih ke lokasi yang lebih jauh.

"Jadi, anak-anak kebagian tugas, seperti harus mengambil air ke sungai, terus sungainya kering, mereka harus pergi ke tempat yang lebih jauh dan sebagainya," katanya.

Angelina menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut perlindungan hak anak.

Ketika anak harus menghabiskan waktu untuk mencari air bersih, kesempatan mereka memperoleh pendidikan, bermain, maupun beristirahat menjadi berkurang. Menurut dia, situasi itu dapat dipandang sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak.

Dampak belum disadari

Meski demikian, dampak langsung perubahan iklim terhadap kehidupan anak dinilai belum banyak disadari masyarakat. Akibatnya, isu lingkungan kerap dianggap belum mendesak dibandingkan persoalan lain.

"Isu lingkungan ini sering tidak mendapatkan prioritas karena kita menganggap konsekuensinya masih lama. Mungkin suhu naik setengah derajat setiap tahun, tapi apa sih implikasinya? Jadi, kita merasa masih ada banyak hal lain yang lebih urgen," ujar Angelina.

Ia mendorong pemerintah dan masyarakat mulai mengambil langkah nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim tanpa menunggu kondisinya semakin memburuk.

Selain memicu krisis air bersih, Angelina mengingatkan bahwa sejumlah penelitian juga menunjukkan kenaikan suhu global dapat mempercepat penyebaran penyakit, termasuk demam berdarah dengue (DBD), karena mempercepat perkembangbiakan nyamuk dan memperpendek masa inkubasi virus.

Sementara itu, perhatian terhadap dampak perubahan iklim terhadap anak juga menjadi sorotan di tingkat internasional.

Baca juga: Tiga Bahaya Perubahan Iklim Intai Hampir Separuh Anak di Dunia

Profesor Hukum dan Hak Anak di Dunia yang Berkelanjutan Universitas Leiden, Ann Skelton, bersama kandidat Doktor Ruhama Yilma Abebe, menilai pendapat penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) yang mengakui perubahan iklim sebagai isu hak asasi manusia belum memberikan perhatian yang memadai terhadap hak-hak anak.

Dalam analisis yang dipublikasikan Universitas Leiden, keduanya menilai anak-anak hanya disebut secara sepintas sebagai kelompok rentan tanpa pembahasan khusus mengenai perlindungan hak mereka. Padahal, anak merupakan kelompok yang paling terdampak oleh krisis iklim sekaligus aktif menyuarakan keadilan iklim di berbagai forum internasional.

Menurut mereka, kurangnya pengakuan terhadap perspektif anak membuat pendapat penasihat ICJ kehilangan kesempatan untuk menegaskan perlindungan hukum yang lebih kuat bagi kelompok tersebut dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
LSM/Figur
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Pemerintah
Aspirasi Anak Lebih Mudah Diakomodasi di Desa Dibandingkan Perkotaan
Aspirasi Anak Lebih Mudah Diakomodasi di Desa Dibandingkan Perkotaan
LSM/Figur
Lawan Serbuan Batik Tiruan, APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026 di JICC
Lawan Serbuan Batik Tiruan, APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026 di JICC
LSM/Figur
Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali
Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali
LSM/Figur
HUT ke-46 Dekranas Dorong Pengrajin Lokal Tembus Pasar Global dengan Produk Ramah Lingkungan
HUT ke-46 Dekranas Dorong Pengrajin Lokal Tembus Pasar Global dengan Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Ubah Paradigma Pamong, Program KDMK Dorong Kepala Desa Jadi Lokomotif Perubahan
Ubah Paradigma Pamong, Program KDMK Dorong Kepala Desa Jadi Lokomotif Perubahan
Pemerintah
Atasi Polusi Udara Akut, New Delhi Umumkan Kebijakan EV Terbaru
Atasi Polusi Udara Akut, New Delhi Umumkan Kebijakan EV Terbaru
Pemerintah
ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti
ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti
Swasta
Bumi Kian Mendidih dan Seruan Laudato Si' yang Terus Ditunda
Bumi Kian Mendidih dan Seruan Laudato Si' yang Terus Ditunda
Pemerintah
“First Family Photo”, Pelukan Emosional Fujifilm bagi Anak Panti
“First Family Photo”, Pelukan Emosional Fujifilm bagi Anak Panti
BrandzView
Mandatori B50 Berlaku, KAI Pastikan Seluruh Lokomotif dan Sarana Diesel Siap Beroperasi
Mandatori B50 Berlaku, KAI Pastikan Seluruh Lokomotif dan Sarana Diesel Siap Beroperasi
BUMN
Ketika Desa-Desa di Lingkar Industri Nikel Morowali Berubah jadi Sentra Kos
Ketika Desa-Desa di Lingkar Industri Nikel Morowali Berubah jadi Sentra Kos
LSM/Figur
Data Baru Sebut Suhu Lautan Dunia Pecahkan Rekor Terpanas Sepanjang Juni
Data Baru Sebut Suhu Lautan Dunia Pecahkan Rekor Terpanas Sepanjang Juni
Pemerintah
Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau