Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun

Kompas.com, 14 Juli 2026, 19:57 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Besaran Dana Desa diproyeksikan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengurangi kapasitas desa untuk membangun infrastruktur dan layanan dasar apabila tidak diimbangi dengan sumber pendanaan lain.

Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, Ivanovich Agusta, mengatakan Dana Desa yang sebelumnya dapat mencapai sekitar Rp 930 juta per desa diperkirakan turun menjadi sekitar Rp 345 juta per desa pada 2026.

Bahkan, menurut proyeksinya, pada 2031 rata-rata Dana Desa yang diterima hanya sekitar Rp 79 juta per desa sebelum kembali meningkat pada tahun berikutnya.

Baca juga: Curhatan Kepala Desa Minta Tunda Pemotongan Dana Desa

"Baru nanti di 2032 mungkin naik jadi Rp 500 juta per desa. Desa masih butuh untuk membangun, tetapi mereka mulai kekurangan material finansial. Nah, ini adalah kesempatan membangun desa yang hilang ketika Dana Desa kemudian dialihkan untuk KDKMP," ujar Ivanovich dalam acara "100 Sesi, Ribuan Gagasan: Merayakan Pengetahuan Keberlanjutan dan Investasi Sosial di Indonesia", Senin (13/7/2026).

Menurut Ivanovich, penurunan Dana Desa dipengaruhi pengalihan anggaran untuk sejumlah program prioritas nasional, termasuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Ia menilai, kondisi tersebut membuka ruang bagi sektor swasta untuk memperbesar investasi sosial di desa. Dukungan dari dunia usaha dinilai penting ketika kebutuhan pembangunan desa masih tinggi, sementara transfer dana dari pemerintah mulai berkurang.

"Waktu investasi sosial sektor swasta paling strategis justru sekarang ketika hasrat desa untuk membangun masih ada, tetapi material dan finansialnya sudah tidak ada lagi," katanya.

Berdasarkan data Komposisi Anggaran Pendapatan Desa Nasional 2023, kontribusi sektor swasta terhadap pendanaan desa baru mencapai sekitar 0,04 persen. Selama periode 2015-2024, pembangunan desa masih banyak ditopang Dana Desa, alokasi dana desa (ADD), dana bagi hasil, dan bantuan keuangan dari pemerintah daerah.

Baca juga: Legislator: Cegah Penyalahgunaan, Pengelolaan Dana Desa Harus Transparan

Ivanovich memperkirakan penurunan Dana Desa hingga 2032 berpotensi menghambat berbagai program pembangunan di desa.

Salah satunya, sekitar 2.800 pasar desa diperkirakan gagal dibangun sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan sekitar 340.000 wirausaha desa.

Selain itu, sekitar 47.000 hektare lahan sawah berisiko mengalami kesulitan irigasi akibat tertundanya pembangunan embung dan jaringan pengairan.

Rentan bencana

Minimnya anggaran juga diperkirakan meningkatkan kerentanan sekitar 4.500 desa terhadap bencana tanah longsor karena pembangunan infrastruktur mitigasi perubahan iklim tidak dapat dilakukan secara optimal.

"Kalau kita melihat musibah hidrologi semakin banyak karena infrastruktur sulit dibangun, maka kemungkinan 4.500 desa ini semakin tinggi risikonya mengalami bencana tanah longsor," ujarnya.

Di samping itu, pembangunan berbagai fasilitas dasar, seperti mandi, cuci, kakus (MCK), pondok bersalin desa (Polindes), drainase, pendidikan anak usia dini (PAUD), pos pelayanan terpadu (Posyandu), hingga penyediaan sumur bersih juga berpotensi terkendala akibat keterbatasan anggaran.

Sebelumnya, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menetapkan delapan prioritas penggunaan Dana Desa pada 2026. Direktur Fasilitasi Pemanfaatan Dana Desa Kemendes PDT Friendy Parulian Sihotang mengatakan salah satu fokus utamanya adalah penanganan kemiskinan ekstrem melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

Baca juga: Menkeu Purbaya Terbitkan Aturan Baru, DAU hingga Dana Desa Bisa Biayai Kopdes Merah Putih

Berbeda dengan tahun sebelumnya, besaran BLT pada 2026 tidak lagi ditentukan berdasarkan persentase pagu Dana Desa, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing desa. Nilai bantuan ditetapkan paling banyak Rp 300.000 per bulan untuk setiap keluarga penerima manfaat dan dapat disalurkan sekaligus sesuai hasil musyawarah desa.

Selain itu, Dana Desa 2026 juga diprioritaskan untuk mendukung desa tangguh bencana dan berketahanan iklim, antara lain melalui pengelolaan sampah, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengendalian banjir dan longsor, serta rehabilitasi mangrove dan berbagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
IPB: Dana Desa Diproyeksikan Menurun, Desa Berpotensi Kehilangan Kesempatan Membangun
LSM/Figur
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
65,5 Persen Kepala Keluarga Perempuan Tanpa Bansos Terancam Kenaikan Muka Air Laut
Pemerintah
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Warga Lereng Gunung Lewotobi Dapat Akses Air Bersih dari Pembangunan Sumur Bor
Swasta
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah Percepat Pipanisasi Air Bersih untuk Tekan Penurunan Muka Tanah
Pemerintah
AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah
AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah
Pemerintah
Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam  Kedaulatan Negara
Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam Kedaulatan Negara
Pemerintah
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Pemerintah
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Pemerintah
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
Pemerintah
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Pemerintah
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan
LSM/Figur
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
Pemerintah
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
Pemerintah
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Paus Abu-Abu di Samudra Pasifik Terancam Punah Akibat Kelaparan Massal
Pemerintah
Separuh Moluska Dunia Terancam Punah, Dampak Penambangan Laut Dalam
Separuh Moluska Dunia Terancam Punah, Dampak Penambangan Laut Dalam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau