KOMPAS.com - Ambisi raksasa teknologi seperti Amazon, Google, dan Microsoft untuk cepat mendapatkan sumber listrik demi mendukung kecerdasan buatan (AI) justru merusak target ramah lingkungan mereka.
Hal ini dipicu oleh investasi gabungan mereka yang sangat besar, mencapai sekitar 750 miliar dolar AS hanya pada tahun 2025 dan 2026 untuk memperluas pusat data.
Melansir Trellis, Rabu (15/7/2026) ketiga perusahaan tersebut melaporkan kenaikan emisi gas buang yang sangat tinggi dalam laporan lingkungan terbaru mereka.
Penyebab utamanya adalah konsumsi listrik. Emisi akibat penggunaan listrik melonjak lebih dari sepertiga (33 persen) di Amazon dan Google, serta naik lebih dari 20 persen di Microsoft.
Konsumsi listrik Google melonjak sebesar 37 persen menjadi 43,6 juta megawatt-jam. Ini adalah kenaikan tahunan terbesar dalam sejarah Google.
Baca juga: Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
"Karena perkembangan AI yang cepat membuat kebutuhan energi kami meningkat, peralihan ke energi bersih menghadapi hambatan besar seperti lamanya proses menyambungkan proyek energi baru ke jaringan listrik, sistem jaringan listrik yang terpecah-pecah, serta kurangnya pasokan energi bersih yang andal dan bisa menyala 24 jam penuh," kata Google dalam laporan lingkungan hidupnya yang dirilis 30 Juni.
Sejak tahun 2019, konsumsi listrik Google telah melonjak sebesar 250 persen. Akibatnya, emisi polusi yang dihasilkan dari penggunaan listrik di lokasi-lokasi mereka juga ikut naik 37 persen dari tahun sebelumnya.
Emisi berbasis lokasi dihitung berdasarkan rata-rata penggunaan listrik di wilayah setempat. Sementara itu, emisi berbasis pasar dihitung dengan memasukkan faktor pendukung seperti kupon energi terbarukan atau tarif khusus energi ramah lingkungan.
Sementara itu, Microsoft melaporkan kenaikan sebesar 21 persen untuk emisi listrik di wilayah operasional mereka, sementara total konsumsi listriknya melonjak 24 persen menjadi 37 juta megawatt-jam.
Sedangkan Amazon tidak memberi tahu total konsumsi listrik mereka dalam laporan lingkungan yang terbit 1 Juli. Perusahaan tersebut melaporkan kenaikan emisi listrik sebesar 34 persen, tetapi tidak menjelaskan secara pasti apakah hitungan itu menggunakan metode berbasis lokasi atau berbasis pasar .
Amazon juga tidak memisahkan data emisi yang khusus berasal dari Amazon Web Services (AWS). Meski begitu, mereka memublikasikan ukuran lain seperti efektivitas penggunaan daya (PUE).
Ukuran ini membandingkan jumlah listrik yang dipakai pusat data untuk sistem pendingin mesin dengan listrik untuk menjalankan komputer itu sendiri. Makin dekat angka tersebut ke angka 1, maka makin bagus dan efisien.
Rata-rata efektivitas penggunaan daya di seluruh pusat data Amazon adalah 1,14. Sementara itu, angka Google berada di 1,09, dan Microsoft di 1,17.
Meskipun sangat boros listrik, Amazon, Google, dan Microsoft tetap berkomitmen untuk menurunkan emisi polusi mereka pada tahun 2030 dan seterusnya.
Alasannya adalah selama sepuluh tahun terakhir, ketiga perusahaan ini telah menandatangani kontrak untuk menyalurkan lebih dari 115 gigawatt energi terbarukan yang sebagian besar tenaga surya dan angin ke jaringan listrik dunia.
Mereka juga berencana menjadikan investasi energi nuklir sebagai tumpuan utama.
Amazon sendiri sudah memesan hampir 2 gigawatt tenaga nuklir pada Juni lalu dan menandatangani dua proyek nuklir baru. Microsoft mendukung beberapa teknologi nuklir masa depan, sementara Google telah menyiapkan kapasitas nuklir di Ohio. Namun, tidak ada yang seberani Meta yang sudah membuat kesepakatan nuklir hingga 7,7 gigawatt.
Baca juga: Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Investasi besar pada baterai raksasa juga akan sangat membantu. Pada akhir tahun 2025, Amazon memiliki 15 proyek energi surya yang dilengkapi dengan tempat penyimpanan energi, dengan kapasitas sekitar 2,3 gigawatt.
Google juga telah berinvestasi beberapa kali pada baterai yang tahan lama agar energi dari angin dan surya bisa disimpan dan digunakan lebih lama.
Selain itu, perhatian akan lebih banyak tertuju ke wilayah Asia.
Amazon mendukung sekitar 2,2 gigawatt energi bersih di kawasan Asia Pasifik, wilayah yang pasokan listriknya sebenarnya masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Sebagai gambaran, total investasi energi bersih Amazon di seluruh dunia adalah sekitar 40 gigawatt. Google secara terang-terangan menyebut Asia sebagai wilayah yang paling sulit untuk membeli listrik bebas karbon, meskipun tahun lalu mereka sudah berhasil menandatangani kerja sama di Malaysia dan Jepang.
Sementara itu, Microsoft mendanai Southeast Asia Clean Energy Facility yang sejauh ini telah menyalurkan 230 juta dolar AS untuk proyek-proyek energi bersih tahap awal di Asia Tenggara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya