JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan biomaterial berbasis keanekaragaman hayati sebagai bahan baku industri pertahanan dan kedirgantaraan.
Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat kemandirian industri nasional sekaligus mendukung pengembangan ekonomi sirkular.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan Indonesia memiliki kekayaan hayati yang dapat dikembangkan menjadi berbagai biomaterial bernilai tinggi, mulai dari material penyerap gelombang radar hingga komponen perlengkapan pertahanan.
Baca juga: Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Salah satu contohnya ialah biopolimer kitosan yang diekstrak dari limbah cangkang udang untuk material penyerap gelombang radar (radar absorbing material) pada pelapis pesawat tempur.
Contoh lainnya ialah pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku perlengkapan keselamatan, seperti helm.
"Ke depan banyak kebutuhan industri pertahanan yang dapat dipenuhi melalui biomaterial. Keanekaragaman hayati Indonesia berpotensi mendukung industri pertahanan, industri kedirgantaraan, dan berbagai sektor lainnya," ujar Arif di Kementerian PPN/Bappenas, Selasa (21/7/2026).
Menurut Arif, biomaterial memiliki keunggulan karena berasal dari sumber daya yang dapat diperbarui (renewable), sehingga lebih berkelanjutan dibandingkan material berbasis sumber daya tak terbarukan.
Untuk mendukung pengembangan biomaterial, BRIN terus memperkuat infrastruktur riset, termasuk melalui fasilitas Cryo-Electron Microscopy (Cryo-EM) yang digunakan untuk penelitian biologi struktural dan molekuler.
Arif mengatakan fasilitas tersebut terbuka bagi peneliti dan perguruan tinggi yang ingin mengembangkan riset berbasis keanekaragaman hayati.
"Kami mempersilakan mahasiswa maupun peneliti dari berbagai perguruan tinggi memanfaatkan fasilitas riset di BRIN untuk mengembangkan penelitian tentang keanekaragaman hayati Indonesia," ujarnya.
Salah satu contoh pemanfaatan biomaterial untuk industri pertahanan saat ini tengah dikembangkan PT Pindad melalui produksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Prima Kharisma mengatakan penelitian yang dimulai sejak 2022 tersebut kini memasuki tahap proyek percontohan.
Baca juga: Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Saat ini perusahaan mampu mengolah sekitar 50 ton tandan kosong kelapa sawit per tahun menjadi nitroselulosa sebagai bahan baku utama propelan atau bahan pendorong amunisi.
"Tahun depan harapan kami dapat meningkatkan kapasitas menjadi 1.000 ton per tahun," ujar Prima dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya