Menurut Prima, pemanfaatan limbah sawit dipilih karena Indonesia masih menghadapi keterbatasan pasokan *cotton linter* atau serat kapas yang selama ini menjadi bahan baku utama industri propelan dunia.
Selain memperkuat kemandirian industri pertahanan, penggunaan limbah sawit juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis.
Prima mengatakan pengembangan tersebut menjadi semakin penting karena pasokan propelan global masih sangat terbatas. Saat ini hanya terdapat sekitar lima hingga enam produsen besar di dunia yang memproduksi propelan.
Kondisi tersebut diperburuk oleh konflik geopolitik yang menyebabkan harga propelan melonjak dari sekitar 19–20 dollar AS per kilogram sebelum perang Rusia-Ukraina menjadi sekitar 100–140 dollar AS per kilogram setelah konflik di Timur Tengah memanas.
Selain harga yang meningkat tajam, waktu tunggu pengadaan propelan impor juga dapat mencapai empat hingga lima tahun sehingga berpotensi mengganggu ketahanan industri pertahanan nasional.
Meski demikian, PT Pindad masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku karena karakteristik limbah tandan kosong kelapa sawit berbeda-beda di setiap pabrik kelapa sawit.
Prima berharap pabrik propelan pertama di Indonesia dapat mulai beroperasi pada semester kedua 2027. Jika target tersebut tercapai, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit secara komersial.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya