China, India, Jepang, dan beberapa perusahaan swasta juga sedang gencar menjalankan program Bulan mereka masing-masing.
Baca juga: Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
Namun, seiring makin ramainya aktivitas di luar angkasa, kekhawatiran akan dampaknya terhadap lingkungan juga makin meningkat.
Konsep kelestarian antariksa mengimbau agar semua penjelajahan dan kegiatan di luar Bumi dilakukan dengan tetap menjaga lingkungan ruang angkasa bagi generasi mendatang.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, negara-negara anggota PBB telah menyetujui pedoman untuk membatasi timbulnya sampah antariksa.
Cara yang dilakukan antara lain dengan mengurangi limbah yang tidak perlu, mencegah ledakan, melarang perusakan sengaja terhadap pesawat ruang angkasa, serta menyingkirkan satelit dan bagian roket yang sudah tidak terpakai dari orbit secara aman.
Di bawah Konvensi Tanggung Jawab PBB tahun 1972, negara-negara yang meluncurkan objek ke luar angkasa wajib bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh objek mereka di Bumi, termasuk untuk peluncuran yang dilakukan secara gabungan oleh beberapa negara.
Untuk mengatasi risiko-risiko baru ini, Badan Lingkungan PBB (UNEP) dan Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa bekerja sama memperkuat pemahaman ilmiah tentang dampak kegiatan antariksa terhadap lingkungan. Kerja sama ini juga bertujuan memastikan agar perlindungan lingkungan dimasukkan ke dalam aturan tata kelola ruang angkasa di masa depan.
Saat manusia bersiap untuk kembali dan menetap di Bulan, PBB menegaskan bahwa menjaga lingkungan ruang angkasa dan Bumi harus tetap menjadi fokus utama dalam babak baru penjelajahan ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya