Salah satunya melalui berbagai program yang mendorong santri belajar langsung dari persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar, sekaligus mengembangkan kepemimpinan, kerja sama, dan kemampuan memecahkan masalah melalui pengalaman nyata.
Peran pesantren menjadi semakin strategis ketika dunia menghadapi berbagai tantangan baru di era saat ini, mulai dari perubahan iklim, persoalan sampah, hingga ketahanan pangan.
Melalui lingkungan pendidikan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, pesantren memiliki peluang besar dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan kepada para santri sejak dini.
Salah satu cerita datang dari Pondok Pesantren Al Hasan, Rembang. Proses pengolahan sampah di pesantren ini berhasil dijadikan sebagai gerakan yang sepenuhnya dijalankan oleh para santri melalui sistem bank sampah.
Sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026, bank sampah yang mereka kelola berhasil mengumpulkan sekitar 1.850 kilogram sampah, atau rata-rata 185 kilogram setiap bulan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dipilah dan dikelola secara lebih sistematis.
Upaya tersebut tidak berhenti pada pengelolaan sampah anorganik saja. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming. Berkat kompos hasil produksi sendiri, berbagai tanaman seperti terong, kangkung, hingga stroberi dapat tumbuh di lingkungan pesantren.
Kegiatan urban farming di Pondok Pesantren Al Hasan.“Perjalanan kami tentu tidak selalu berjalan mulus. Pada awal pelaksanaan program, kami sempat kesulitan menemukan pengepul yang dapat menerima sampah secara rutin. Selain itu, lahan pertanian yang berada di dekat tepian sungai juga kerap tergenang ketika hujan deras turun,” ujar perwakilan Pesantren Al Hasan,Ustadzah Halwa Anjani, pada Kompas.com, Kamis (23/7/2026).
Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar. Para santri berinisiatif membuat pot tanam secara mandiri agar tanaman tetap dapat tumbuh meski lahan sering terendam air.
Dari pengalaman itu mereka belajar bahwa setiap persoalan dapat dihadapi melalui kreativitas, kerja sama, dan kemauan untuk terus mencoba.
Pondok Pesantren Al Hasan, Rembang, adalah salah satu pesantren yang menjadi bagian dari program Green Pesantren oleh Kementerian Agama RI bersama Unilever Indonesia.
Melalui program tersebut, para santri didorong aktif untuk menemukan solusi dari permasalahan lingkungan melalui pendekatan edukatif, kolaboratif, dan kreatif. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan pengetahuan mengenai lingkungan, melainkan juga menumbuhkan generasi muda yang mampu menjadi agen perubahan di komunitasnya masing-masing.
Program tersebut diawali dengan kegiatan kick-off dan lokakarya yang memperkenalkan para santri pada berbagai isu keberlanjutan.
Para santri mempelajari prinsip-prinsip sustainability, teknik pengelolaan sampah, pengomposan, hingga pemanfaatan lahan melalui urban farming. Seluruh materi dirancang agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.
Setelah memperoleh pembekalan, setiap pesantren membentuk tim yang terdiri atas tiga hingga lima santri dengan pendampingan seorang guru. Bersama-sama mereka mengidentifikasi persoalan lingkungan yang ada di pesantrennya masing-masing, menyusun gagasan, lalu merancang proposal proyek keberlanjutan yang akan dijalankan.
Tahapan tersebut menjadi ruang belajar yang penting bagi para santri. Mereka tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga belajar berdiskusi, menyampaikan pendapat, menyusun rencana kerja, hingga membagi peran dalam tim.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya