REMBANG, KOMPAS.com - Matahari belum terlalu tinggi ketika sejumlah santri mulai beraktivitas di halaman pesantren.
Sebagian membawa karung berisi botol plastik dan kardus bekas, sementara yang lain sibuk memilah sampah organik yang nantinya diolah menjadi kompos. Tak jauh dari lokasi itu, beberapa tanaman terong, kangkung, hingga stroberi tumbuh di dalam pot-pot sederhana.
Bagi orang luar, aktivitas tersebut mungkin tampak seperti rutinitas membersihkan lingkungan. Namun, bagi para santri, setiap kegiatan memiliki makna yang lebih besar.
Dari sana mereka belajar bekerja sama, bertanggung jawab, mencari solusi, hingga memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kepedulian terhadap sesama.
Pemandangan seperti itu menunjukkan bahwa proses belajar di pesantren kini tidak lagi hanya berlangsung di dalam ruang kelas.
Seiring berkembangnya tantangan yang dihadapi masyarakat, pesantren juga terus beradaptasi menjadi ruang belajar yang membantu anak-anak mengenal kehidupan melalui pengalaman sehari-hari.
Semangat tersebut sejalan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli. Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa membangun masa depan anak bukan hanya melalui pendidikan akademik, melainkan juga dengan menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka secara utuh.
Selain keluarga sebagai tempat pertama anak belajar, lingkungan pendidikan memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter. Sekolah dan pesantren menjadi ruang bagi anak untuk belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, memimpin, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah perubahan zaman, kemampuan tersebut menjadi bekal yang sama pentingnya dengan prestasi akademik.
Anak-anak membutuhkan kesempatan untuk belajar dalam menyelesaikan persoalan, berkolaborasi, dan berani mengambil inisiatif sejak dini. Pembelajaran seperti itu sering kali lahir bukan dari teori di dalam kelas, melainkan dari pengalaman yang mereka alami setiap hari.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis asrama, salah satu keunggulan yang dimiliki oleh pesantren adalah proses pembelajaran yang berlangsung hampir sepanjang waktu. Interaksi antar santri, pembiasaan hidup mandiri, hingga kegiatan bersama menjadi bagian dari pendidikan karakter yang dilakukan secara alami.
Tidak mengherankan jika banyak pesantren kini mulai mengembangkan berbagai aktivitas yang menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, memanfaatkan lahan kosong untuk bercocok tanam, hingga melibatkan santri dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Pesantren adalah salah satu pilar pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Agama, pada 2025 terdapat 42.435 pesantren dengan 3.164.986 santri yang tersebar di berbagai provinsi.
Dengan ekosistem pendidikan sebesar itu, pesantren memiliki potensi besar untuk tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang yang membentuk karakter, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membiasakan anak-anak menerapkan nilai-nilai kehidupan dalam keseharian.
Besarnya ekosistem tersebut juga membuka peluang lahirnya berbagai kolaborasi untuk memperkuat proses pembelajaran di pesantren.
Salah satunya melalui berbagai program yang mendorong santri belajar langsung dari persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar, sekaligus mengembangkan kepemimpinan, kerja sama, dan kemampuan memecahkan masalah melalui pengalaman nyata.
Peran pesantren menjadi semakin strategis ketika dunia menghadapi berbagai tantangan baru di era saat ini, mulai dari perubahan iklim, persoalan sampah, hingga ketahanan pangan.
Melalui lingkungan pendidikan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, pesantren memiliki peluang besar dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan kepada para santri sejak dini.
Salah satu cerita datang dari Pondok Pesantren Al Hasan, Rembang. Proses pengolahan sampah di pesantren ini berhasil dijadikan sebagai gerakan yang sepenuhnya dijalankan oleh para santri melalui sistem bank sampah.
Sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026, bank sampah yang mereka kelola berhasil mengumpulkan sekitar 1.850 kilogram sampah, atau rata-rata 185 kilogram setiap bulan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dipilah dan dikelola secara lebih sistematis.
Di Pondok Pesantren Al Hasan, para santri ikut memilah sampah plastik.Upaya tersebut tidak berhenti pada pengelolaan sampah anorganik saja. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming. Berkat kompos hasil produksi sendiri, berbagai tanaman seperti terong, kangkung, hingga stroberi dapat tumbuh di lingkungan pesantren.
Kegiatan urban farming di Pondok Pesantren Al Hasan.“Perjalanan kami tentu tidak selalu berjalan mulus. Pada awal pelaksanaan program, kami sempat kesulitan menemukan pengepul yang dapat menerima sampah secara rutin. Selain itu, lahan pertanian yang berada di dekat tepian sungai juga kerap tergenang ketika hujan deras turun,” ujar perwakilan Pesantren Al Hasan,Ustadzah Halwa Anjani, pada Kompas.com, Kamis (23/7/2026).
Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar. Para santri berinisiatif membuat pot tanam secara mandiri agar tanaman tetap dapat tumbuh meski lahan sering terendam air.
Dari pengalaman itu mereka belajar bahwa setiap persoalan dapat dihadapi melalui kreativitas, kerja sama, dan kemauan untuk terus mencoba.
Pondok Pesantren Al Hasan, Rembang, adalah salah satu pesantren yang menjadi bagian dari program Green Pesantren oleh Kementerian Agama RI bersama Unilever Indonesia.
Melalui program tersebut, para santri didorong aktif untuk menemukan solusi dari permasalahan lingkungan melalui pendekatan edukatif, kolaboratif, dan kreatif. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan pengetahuan mengenai lingkungan, melainkan juga menumbuhkan generasi muda yang mampu menjadi agen perubahan di komunitasnya masing-masing.
Program tersebut diawali dengan kegiatan kick-off dan lokakarya yang memperkenalkan para santri pada berbagai isu keberlanjutan.
Para santri mempelajari prinsip-prinsip sustainability, teknik pengelolaan sampah, pengomposan, hingga pemanfaatan lahan melalui urban farming. Seluruh materi dirancang agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.
Setelah memperoleh pembekalan, setiap pesantren membentuk tim yang terdiri atas tiga hingga lima santri dengan pendampingan seorang guru. Bersama-sama mereka mengidentifikasi persoalan lingkungan yang ada di pesantrennya masing-masing, menyusun gagasan, lalu merancang proposal proyek keberlanjutan yang akan dijalankan.
Tahapan tersebut menjadi ruang belajar yang penting bagi para santri. Mereka tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga belajar berdiskusi, menyampaikan pendapat, menyusun rencana kerja, hingga membagi peran dalam tim.
Selama empat hingga enam minggu, setiap kelompok kemudian mengimplementasikan proyek yang telah mereka susun. Bentuk kegiatannya berbeda-beda sesuai kebutuhan masing-masing pesantren, tetapi seluruhnya bertujuan menghadirkan solusi yang kontekstual dan berkelanjutan.
Para santri tidak hanya menguasai pengetahuan tentang literasi lingkungan, tetapi juga mendapatkan berbagai soft skills, seperti kepemimpinan, rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, dan kolaborasi. Setelah memperoleh pendampingan, para santri didorong mempresentasikan ide dan hasil proyek yang telah mereka jalankan sebagai bagian dari proses belajar.
Pada akhirnya, membangun masa depan anak tidak hanya dilakukan melalui buku pelajaran ataupun nilai rapor. Anak-anak juga membutuhkan lingkungan yang memberi ruang untuk mencoba, berinisiatif, berkolaborasi, dan belajar dari pengalaman nyata.
Ketika pesantren menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang memahami ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama, tetapi juga menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, mampu bekerja sama, serta berani mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di sekitarnya.
Semangat itulah yang sejalan dengan pesan Hari Anak Nasional, yakni membangun masa depan anak bukan hanya tanggung jawab keluarga atau sekolah, melainkan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman, sehat, dan bermakna.
Ketika anak diberi kesempatan belajar dari kehidupan, mereka pun memiliki bekal yang lebih kuat untuk menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya