Selama empat hingga enam minggu, setiap kelompok kemudian mengimplementasikan proyek yang telah mereka susun. Bentuk kegiatannya berbeda-beda sesuai kebutuhan masing-masing pesantren, tetapi seluruhnya bertujuan menghadirkan solusi yang kontekstual dan berkelanjutan.
Para santri tidak hanya menguasai pengetahuan tentang literasi lingkungan, tetapi juga mendapatkan berbagai soft skills, seperti kepemimpinan, rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, dan kolaborasi. Setelah memperoleh pendampingan, para santri didorong mempresentasikan ide dan hasil proyek yang telah mereka jalankan sebagai bagian dari proses belajar.
Pada akhirnya, membangun masa depan anak tidak hanya dilakukan melalui buku pelajaran ataupun nilai rapor. Anak-anak juga membutuhkan lingkungan yang memberi ruang untuk mencoba, berinisiatif, berkolaborasi, dan belajar dari pengalaman nyata.
Ketika pesantren menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang memahami ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama, tetapi juga menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, mampu bekerja sama, serta berani mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di sekitarnya.
Semangat itulah yang sejalan dengan pesan Hari Anak Nasional, yakni membangun masa depan anak bukan hanya tanggung jawab keluarga atau sekolah, melainkan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman, sehat, dan bermakna.
Ketika anak diberi kesempatan belajar dari kehidupan, mereka pun memiliki bekal yang lebih kuat untuk menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya