KOMPAS.com-Data terbaru dari International Council on Mining and Metals (ICMM) menunjukkan bahwa hampir dua pertiga fasilitas tambang dan logam di seluruh dunia menghadapi ancaman krisis air yang parah.
Ini artinya, tempat-tempat tambang tersebut menghadapi risiko tinggi dari minimal satu masalah air yakni kelangkaan air, penyusutan sumber air, ancaman kekeringan, risiko banjir, atau pasokan air yang tidak stabil setiap tahunnya.
Melansir Edie, Rabu (22/7/2026) hampir 40 persen tambang di dunia menghadapi krisis air yang tinggi hingga sangat tinggi, atau berada di wilayah yang sangat kering di mana air hampir tidak tersedia. Sementara itu, sekitar 4,9 persen tambang harus menghadapi beberapa masalah air sekaligus.
Yang perlu diketahui, banyak lokasi tambang dalam analisis ini menghasilkan bahan-bahan yang sangat penting untuk pembuatan teknologi bersih dan sistem utama lainnya.
Bahan-bahan ini sering disebut sebagai 'mineral kritis' atau 'mineral transisi' yang merupakan mineral wajib ada untuk peralihan ke energi bersih.
Contohnya adalah litium, kobalt, nikel, tembaga, aluminium, dan logam tanah jarang yang semuanya digunakan untuk membuat kincir angin, baterai penyimpan energi, panel surya, hingga mobil listrik.
Baca juga: Proyek Hibrida Berpotensi Mempercepat Transisi Energi Eropa
"Riset kami menunjukkan bahwa masalah air sudah menjadi isu yang sangat serius bagi sektor pertambangan dan logam," kata Dr. Emma Gagen, Direktur Data dan Riset ICMM.
"Jika risiko air ini tidak dipahami dan dikelola dengan baik oleh perekonomian dunia, kita berisiko tanpa sadar membuat proses transisi energi ini terhambat," paparnya lagi.
Studi ini juga menunjukkan bahwa risiko air ini tidak dirasakan secara merata di semua wilayah atau jenis hasil tambang.
Tembaga dan litium, yang digunakan untuk membuat baterai dan kabel listrik, membutuhkan sangat banyak air dalam proses penambangannya. Sayangnya, produksi kedua bahan ini justru sering berpusat di wilayah-wilayah yang mengalami krisis air parah.
Di Cile, misalnya, sebanyak 85,8 persen lokasi tambangnya menghadapi krisis air parah sekaligus pasokan air yang tidak stabil.
Sementara itu, lebih dari 80 persen lokasi tambang di Afrika dan Timur Tengah menghadapi risiko kekeringan yang tinggi, dan di Oseania, 74 persen tambang menghadapi pasokan air yang sangat tidak menentu setiap tahunnya.
"Seiring melonjaknya penambangan dan produksi mineral kritis di seluruh dunia akibat transisi energi, negara-negara kini berjuang mencari cara untuk memenuhi tingginya permintaan tersebut sambil tetap mendorong praktik penambangan yang bertanggung jawab," ungkap Crystal Davis, Direktur Global untuk Program Pangan, Lahan, & Air di World Resources Institute (WRI).
Risiko dalam produksi bahan-bahan paling penting di dunia ini ternyata tidak hanya berdampak pada lingkungan.
Business and Human Rights Resource Centre (BHRRC) juga menemukan bahwa kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terkait penambangan mineral transisi meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya