Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis

Kompas.com, 6 Agustus 2026, 16:27 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Generasi baru teknologi panel surya atau solar photovoltaic (PV) dinilai lebih sesuai diterapkan di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Teknologi Heterojunction (HJT) dan Perovskite-Silicon Tandem mampu mempertahankan kinerja pada suhu tinggi sekaligus menawarkan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan teknologi Tunnel Oxide Passivated Contact (TOPCon) yang saat ini mendominasi pasar global.

Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE), Organisasi Riset Energi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Abdul Rosyid mengatakan salah satu keunggulan utama teknologi HJT adalah memiliki temperature coefficient yang rendah.

Karakteristik tersebut membuat performa panel surya tidak mudah menurun meski beroperasi pada suhu tinggi.

Baca juga: Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon

"Ini juga menarik untuk negara tropis seperti Indonesia. Dengan low temperature coefficient dan kemampuan bifaciality (menyerap cahaya dari dua sisi), teknologi HJT memberikan keuntungan lebih besar untuk wilayah beriklim tropis," ujar Rosyid dalam webinar, Kamis (6/8/2026).

Menurut Rosyid, industri panel surya terus mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi yang sebelumnya didominasi Aluminum Back Surface Field (Al-BSF) kemudian berkembang ke Passivated Emitter and Rear Cell (PERC), sebelum saat ini bergeser ke teknologi TOPCon.

Meski demikian, HJT dan Perovskite-Silicon Tandem dipandang sebagai generasi berikutnya yang berpotensi menjadi standar baru industri panel surya dunia.

Teknologi HJT mampu mencapai efisiensi lebih dari 27 persen dengan tingkat bifaciality di atas 95 persen. Sementara itu, teknologi Tandem yang menggabungkan silikon kristalin dengan material perovskite diproyeksikan mampu menembus efisiensi di atas 35 persen.

Namun demikian, pengembangan kedua teknologi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait aspek keandalan (reliability) dan ketahanan terhadap kelembapan (moisture resistance).

"Ini menjadi tantangan masa depan sekaligus strategi yang potensial bagi pengembangan manufaktur PV di Indonesia. Harapannya pada 2028 atau 2029 teknologi Tandem sudah mulai berkembang," kata Rosyid.

Indonesia dinilai memiliki pasar yang besar

Rosyid menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan industri panel surya seiring target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).

Permintaan diperkirakan akan datang dari berbagai segmen, mulai dari PLTS skala utilitas, PLTS atap (rooftop), PLTS terapung (floating PV), hingga kebutuhan sektor industri.

Dari sisi manufaktur, Indonesia dinilai telah memiliki kapasitas yang cukup baik untuk perakitan modul surya. Saat ini terdapat lebih dari 23 perusahaan lokal dan lebih dari 10 perusahaan asing, termasuk SEG Solar, yang beroperasi di kawasan industri seperti Batang dan Batam.

Meski demikian, produksi sel surya di dalam negeri masih menjadi tantangan karena sebagian besar komponen utama dan bahan baku masih bergantung pada impor.

Baca juga: Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional

Rosyid mengatakan BRIN saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan manufaktur panel surya generasi baru melalui kajian literatur, kunjungan riset, serta analisis risiko.

"Kami berharap dapat menyusun strategic roadmap nasional untuk pengembangan manufaktur skala percontohan HJT dan Tandem. Visinya adalah HJT today, Tandem tomorrow," ujarnya.

Peluang melakukan lompatan teknologi

Menurut Rosyid, Indonesia memiliki kesempatan untuk langsung mengembangkan teknologi panel surya generasi terbaru tanpa harus terlalu lama bergantung pada teknologi yang mulai ditinggalkan pasar global.

Dengan membangun kemampuan manufaktur HJT sejak sekarang, Indonesia dinilai berpeluang mengambil peran dalam rantai pasok global panel surya generasi berikutnya.

"Pengembangan teknologi HJT hari ini merupakan pijakan penting menuju masa depan industri panel surya Tandem. Dengan membangun kemampuan manufaktur generasi baru sejak sekarang, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu memproduksi panel surya yang efisien, hemat bahan baku, dan berdaya saing global," kata Rosyid.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Pemerintah
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pemerintah
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
LSM/Figur
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Pemerintah
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Swasta
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Pemerintah
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau