Menurut dia, pemanfaatan tanaman pangan lokal berdasarkan karakteristik setiap wilayah dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat keragaman sumber pangan Indonesia.
Pemanfaatan sumber pangan yang lebih beragam juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah kecil komoditas pangan.
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada Maret 2025 menunjukkan, meskipun sekitar 6.000 spesies tanaman telah dibudidayakan, sistem pangan dunia masih sangat bergantung pada sejumlah kecil jenis tanaman.
Dalam laporan Third Report on the State of the World’s Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (SoW3) disebutkan sekitar 60 persen produksi pangan dunia bergantung pada sembilan jenis tanaman.
Kesembilan tanaman tersebut adalah tebu, jagung, beras, gandum, kentang, kedelai, kelapa sawit, bit gula, dan singkong.
Ketergantungan pada sedikit jenis tanaman membuat sistem pangan global lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, maupun gangguan terhadap produksi.
Laporan tersebut disusun berdasarkan informasi dari 128 negara, empat pusat penelitian regional, dan 13 pusat penelitian internasional.
Dalam konteks Indonesia, kekayaan spesies tumbuhan yang belum banyak dimanfaatkan dapat menjadi peluang untuk memperluas sumber pangan sekaligus menjaga keanekaragaman hayati.
Pengembangan tanaman asli tidak hanya berpotensi menghasilkan alternatif pangan, tetapi juga dapat disesuaikan dengan karakteristik lingkungan setiap wilayah. Dengan demikian, diversifikasi pangan dapat berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan sumber daya genetik tanaman untuk menghadapi tantangan pangan dan perubahan iklim di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya