KOMPAS.com - Menampung air hujan dari atap rumah lalu menggunakannya untuk menyiram bangunan saat cuaca panas dapat membantu kota menghemat penggunaan AC, menurunkan suhu udara, dan mengurangi dampak gelombang panas. Hal ini terungkap dari penelitian terbaru dari The University of Manchester.
Kota-kota di seluruh dunia saat ini menghadapi kenaikan suhu udara yang mengancam kesehatan masyarakat, merusak fasilitas umum, dan membebani pasokan listrik.
Semakin banyak orang menggunakan AC agar tidak kepanasan membuat kebutuhan listrik makin melonjak, dan udara panas yang dibuang dari mesin AC justru membuat area perkotaan terasa jauh lebih panas.
Teknologi menyiram area perkotaan pun mulai menjadi cara penting untuk meredakan panas ekstrem di kota, tetapi penggunaannya sering kali terhambat karena keterbatasan stok air.
Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Melansir Phys, Rabu (5/8/2026) dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Earth's Future, para peneliti kemudian menggunakan simulasi komputer dan kecerdasan buatan (AI) untuk menguji sebuah sistem. Sistem ini menampung air hujan dari atap, lalu menyiramkannya secara otomatis ke bangunan saat cuaca sedang panas.
Dengan mengambil kota Tokyo sebagai contoh kasus, mereka menemukan bahwa mendinginkan atap berhasil mengurangi penggunaan listrik untuk AC. Atap yang lebih adem membuat panas tidak banyak masuk ke dalam ruangan, sementara berkurangnya penggunaan AC membuat udara panas yang dibuang ke luar bangunan juga makin sedikit.
Kombinasi kedua hal ini membantu menekan suhu kota secara keseluruhan, mengurangi jumlah hari gelombang panas, dan meredakan parahnya cuaca panas ekstrem.
"Kota-kota di seluruh dunia makin kesulitan menghadapi cuaca panas ekstrem. Penggunaan AC memang bisa menjaga orang tetap nyaman dan aman dari panas, tetapi AC menyedot sangat banyak listrik dan membuang panas tambahan ke udara di sekitar kota," kata Dr. Zhonghua Zheng, penulis utama penelitian ini, dari The University of Manchester.
"Studi kami menunjukkan bahwa menampung air hujan dari atap dan menggunakannya secara cerdas untuk pendinginan bisa menjadi cara praktis untuk mengurangi penggunaan listrik sekaligus menurunkan suhu kota," paparnya lagi.
Hal yang sangat menggembirakan adalah manfaat dari metode ini justru terasa semakin besar saat cuaca bertambah panas. Ini menandakan bahwa cara ini akan makin penting di masa depan seiring bumi yang terus memanas."
Penelitian ini menunjukkan bahwa kapan alat penyiram air dinyalakan ternyata berdampak jauh lebih besar daripada ukuran tangki air maupun jumlah air yang digunakan.
Para peneliti juga menemukan bahwa ukuran yang lebih besar tidak selalu berarti lebih baik. Tangki penyimpan yang sangat besar hanya memberikan sedikit penurunan tambahan pada penggunaan listrik dan suhu panas. Selain itu, menyiramkan air secara berlebihan tidak selalu membuat udara makin adem karena sebagian air justru menggenang di atas atap alih-alih menguap.
Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Para peneliti menyampaikan bahwa metode ini dapat membantu pemerintah daerah dan perencana kota untuk menilai seberapa efektif sistem pendingin berbasis air hujan jika diterapkan di wilayah mereka, dengan tetap memperhitungkan faktor praktis seperti biaya, ketersediaan air, dan aturan setempat.
Di tengah perjuangan kota-kota menghadapi kenaikan suhu udara, tim peneliti yakin bahwa sistem pendingin berbasis air hujan di atap bisa menjadi bagian dari langkah besar untuk mengatasi perubahan iklim kota, menjaga daya tahan lingkungan, serta melindungi kesehatan masyarakat.
"Tangki air hujan ini juga memiliki manfaat tambahan lain, yaitu mengurangi genangan air dan risiko banjir di perkotaan. Pendekatan ini adalah contoh nyata dari 'solusi alami untuk masalah alam', di mana air hujan dimanfaatkan sebagai sumber daya alam untuk meredakan panas ekstrem sekaligus mencegah masalah genangan air," tambah Junjie Yu, peneliti doktoral di The University of Manchester.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya