Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan

Kompas.com, 15 Agustus 2026, 10:20 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Menampung air hujan dari atap rumah lalu menggunakannya untuk menyiram bangunan saat cuaca panas dapat membantu kota menghemat penggunaan AC, menurunkan suhu udara, dan mengurangi dampak gelombang panas. Hal ini terungkap dari penelitian terbaru dari The University of Manchester.

Kota-kota di seluruh dunia saat ini menghadapi kenaikan suhu udara yang mengancam kesehatan masyarakat, merusak fasilitas umum, dan membebani pasokan listrik.

Semakin banyak orang menggunakan AC agar tidak kepanasan membuat kebutuhan listrik makin melonjak, dan udara panas yang dibuang dari mesin AC justru membuat area perkotaan terasa jauh lebih panas.

Teknologi menyiram area perkotaan pun mulai menjadi cara penting untuk meredakan panas ekstrem di kota, tetapi penggunaannya sering kali terhambat karena keterbatasan stok air.

Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat

Pendinginan menggunakan air hujan dari atap

Melansir Phys, Rabu (5/8/2026) dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Earth's Future, para peneliti kemudian menggunakan simulasi komputer dan kecerdasan buatan (AI) untuk menguji sebuah sistem. Sistem ini menampung air hujan dari atap, lalu menyiramkannya secara otomatis ke bangunan saat cuaca sedang panas.

Dengan mengambil kota Tokyo sebagai contoh kasus, mereka menemukan bahwa mendinginkan atap berhasil mengurangi penggunaan listrik untuk AC. Atap yang lebih adem membuat panas tidak banyak masuk ke dalam ruangan, sementara berkurangnya penggunaan AC membuat udara panas yang dibuang ke luar bangunan juga makin sedikit.

Kombinasi kedua hal ini membantu menekan suhu kota secara keseluruhan, mengurangi jumlah hari gelombang panas, dan meredakan parahnya cuaca panas ekstrem.

"Kota-kota di seluruh dunia makin kesulitan menghadapi cuaca panas ekstrem. Penggunaan AC memang bisa menjaga orang tetap nyaman dan aman dari panas, tetapi AC menyedot sangat banyak listrik dan membuang panas tambahan ke udara di sekitar kota," kata Dr. Zhonghua Zheng, penulis utama penelitian ini, dari The University of Manchester.

"Studi kami menunjukkan bahwa menampung air hujan dari atap dan menggunakannya secara cerdas untuk pendinginan bisa menjadi cara praktis untuk mengurangi penggunaan listrik sekaligus menurunkan suhu kota," paparnya lagi.

Hal yang sangat menggembirakan adalah manfaat dari metode ini justru terasa semakin besar saat cuaca bertambah panas. Ini menandakan bahwa cara ini akan makin penting di masa depan seiring bumi yang terus memanas."

Waktu penyiraman jauh lebih penting

Penelitian ini menunjukkan bahwa kapan alat penyiram air dinyalakan ternyata berdampak jauh lebih besar daripada ukuran tangki air maupun jumlah air yang digunakan.

Para peneliti juga menemukan bahwa ukuran yang lebih besar tidak selalu berarti lebih baik. Tangki penyimpan yang sangat besar hanya memberikan sedikit penurunan tambahan pada penggunaan listrik dan suhu panas. Selain itu, menyiramkan air secara berlebihan tidak selalu membuat udara makin adem karena sebagian air justru menggenang di atas atap alih-alih menguap.

Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem

Para peneliti menyampaikan bahwa metode ini dapat membantu pemerintah daerah dan perencana kota untuk menilai seberapa efektif sistem pendingin berbasis air hujan jika diterapkan di wilayah mereka, dengan tetap memperhitungkan faktor praktis seperti biaya, ketersediaan air, dan aturan setempat.

Di tengah perjuangan kota-kota menghadapi kenaikan suhu udara, tim peneliti yakin bahwa sistem pendingin berbasis air hujan di atap bisa menjadi bagian dari langkah besar untuk mengatasi perubahan iklim kota, menjaga daya tahan lingkungan, serta melindungi kesehatan masyarakat.

"Tangki air hujan ini juga memiliki manfaat tambahan lain, yaitu mengurangi genangan air dan risiko banjir di perkotaan. Pendekatan ini adalah contoh nyata dari 'solusi alami untuk masalah alam', di mana air hujan dimanfaatkan sebagai sumber daya alam untuk meredakan panas ekstrem sekaligus mencegah masalah genangan air," tambah Junjie Yu, peneliti doktoral di The University of Manchester.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau