Editor
Festival Indonesia di Chiba kemudian menggunakan budaya sebagai medium untuk mempertemukan masyarakat Indonesia dan Jepang.
Sejumlah kesenian dari kedua negara ditampilkan dalam satu rangkaian acara, antara lain Taiko dan Yosakoi dari Jepang serta Reog Ponorogo dan berbagai tari tradisional Indonesia.
Pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Mereka juga diberi kesempatan mencoba menabuh Taiko dan mengikuti tarian Yosakoi. Dalam pertunjukan Reog, pengunjung bahkan dapat mencoba menaikinya dengan pengawasan panitia.
Pertemuan semacam itu membuat pengenalan budaya berlangsung secara langsung. Masyarakat Jepang dapat mengenal budaya Indonesia, sementara masyarakat Indonesia juga memperoleh kesempatan berinteraksi dengan budaya dan masyarakat lokal Jepang.
Secretary-General Asian Productivity Organization Dr. Indra Pradana Singawinata menilai kegiatan semacam ini penting sebagai ruang silaturahmi sekaligus memperkenalkan budaya masing-masing negara.
Menurut dia, pertukaran budaya juga perlu disertai pengenalan nilai-nilai positif, seperti ketertiban dan keramahan.
Besarnya jumlah pengunjung menjadi salah satu gambaran tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan yang mempertemukan budaya Indonesia dan Jepang.
Festival yang terbuka dan gratis tersebut tidak hanya dihadiri masyarakat Indonesia yang tinggal di Chiba dan sekitarnya, tetapi juga masyarakat Jepang yang datang untuk menikmati pertunjukan serta mengenal budaya Indonesia.
Baca juga: Komitmen Lindungi Kesehatan Karyawan, GNI Gelar Health Talk
Selama dua hari, jumlah pengunjung mencapai hampir 15.000 orang, jauh melampaui target awal sekitar 5.000 pengunjung.
Antusiasme tersebut juga terlihat dari tingginya permintaan terhadap produk kuliner Indonesia yang dijual selama festival.
Sejumlah tenant mengalami permintaan yang lebih tinggi dari perkiraan. Salah satu tenant bahkan menghabiskan stok makanan yang disiapkan untuk dua hari pada hari pertama sehingga harus kembali memproduksi makanan untuk memenuhi permintaan pada hari berikutnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya juga dapat membuka ruang bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperkenalkan produk sekaligus berinteraksi langsung dengan konsumen di Jepang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya