Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian

Kompas.com, 6 Agustus 2026, 08:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Pemerintah China menginvestasikan dana sebesar 319 juta dolar AS (sekitar Rp5,71 triliun) untuk mencegah bencana pertanian dan memperbaiki fasilitas pengairan yang rusak akibat dampak cuaca ekstrem.

Kementerian Keuangan China mengonfirmasi bahwa dana ini akan digunakan untuk memperkuat penanganan bencana di sektor pertanian sekaligus memperbaiki infrastruktur air yang penting.

Melansir Know ESG, Selasa (4/8/2026) langkah ini diambil karena cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan hujan lebat semakin sering terjadi. Kondisi tersebut terus mengancam hasil panen, merusak sistem irigasi, serta mengganggu pasokan dan ketahanan pangan nasional.

Melindungi lahan pertanian dan fasilitas air

Sebagian besar dana tersebut akan dialokasikan untuk melindungi lahan pertanian dan memperbaiki fasilitas air yang vital. Saluran irigasi, waduk, sistem pembuangan air, dan proyek pencegah banjir sangat penting untuk menjaga produksi pangan tetap stabil.

Baca juga: Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian

Tanpa fasilitas yang memadai, para petani akan kesulitan mengairi sawah, menampung luapan air hujan, maupun bangkit kembali setelah dilanda bencana alam.

Dengan berinvestasi pada perbaikan dan pencegahan sejak awal, pemerintah China berharap dapat menekan kerugian ekonomi akibat bencana di masa depan, sekaligus membantu para petani untuk bisa kembali bekerja normal dengan lebih cepat.

Investasi pencegahan ini juga diperkirakan dapat menghemat biaya darurat dan perbaikan dalam jangka panjang.

Pengumuman ini menunjukkan upaya China yang lebih luas dalam menjaga ketahanan pangan dalam negeri. Mengingat cuaca di berbagai wilayah China sangat beragam, sehingga menjaga hasil pertanian tetap stabil membutuhkan infrastruktur kuat yang mampu mengatasi kekeringan sekaligus menampung luapan air hujan.

Penyesuaian diri terhadap perubahan iklim kini makin menjadi prioritas pemerintah di seluruh dunia, dan pengelolaan air dianggap sebagai salah satu bagian terpentingnya.

Sistem pengairan yang andal memungkinkan kawasan pertanian lebih siap menghadapi perubahan cuaca, memastikan tanaman mendapat cukup air saat kemarau, serta mengurangi risiko banjir saat hujan deras.

Berbeda dengan program bantuan darurat jangka pendek, bantuan dana terbaru dari China ini juga berfokus pada pembangunan kembali infrastruktur fisik demi ketahanan jangka panjang.

Fasilitas pengairan yang lebih baik dapat membantu melindungi mata pencaharian warga desa, menekan kerugian hasil panen, dan memperkuat stabilitas ekonomi daerah.

Dampak bagi pelaku bisnis dan investor

Kucuran dana ini juga membawa dampak lebih luas bagi para pelaku bisnis dan investor. Gangguan pertanian akibat cuaca ekstrem dapat memengaruhi produsen makanan, pabrik, pedagang eceran, perusahaan logistik, hingga pedagang komoditas.

Hasil panen yang menurun, jalur transportasi yang rusak, dan biaya produksi yang membengkak dapat merembet ke seluruh rantai pasok, menimbulkan ketidakpastian keuangan bagi bisnis yang bergantung pada sektor pertanian.

Baca juga: Kurangi Emisi Pertanian, Pesan Kesehatan Dinilai Lebih Efektif ketimbang Isu Iklim

Seiring makin besarnya risiko iklim, para investor kini semakin memperhitungkan ketersediaan air, kualitas infrastruktur, dan kesiapsiagaan bencana saat menilai ketahanan bisnis jangka panjang.

Meski investasi pemerintah dapat mengurangi sebagian dari risiko tersebut, perusahaan juga dituntut untuk memperketat pengawasan pemasok, memvariasikan sumber bahan baku, dan memperbaiki rencana cadangan.

Ketahanan sektor pertanian China sendiri memiliki peran penting bagi dunia karena negara ini merupakan salah satu pemain terbesar di pasar pangan dan komoditas global. Gangguan apa pun pada hasil pertanian di dalam negeri China dapat memengaruhi arus perdagangan internasional, harga bahan pokok, hingga rantai pasok pangan dunia.

Meski dana sebesar 319 juta dolar AS ini dirancang untuk penanganan bencana mendesak dan perbaikan fasilitas air, langkah ini juga mencerminkan pergeseran fokus pemerintah ke arah penyesuaian terhadap perubahan iklim.

Seiring makin seringnya bencana akibat cuaca mengancam sistem pertanian global, memperkuat infrastruktur air akan terus menjadi strategi kunci untuk menjaga ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau