Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat

Kompas.com, 17 Agustus 2026, 12:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - PBB memperingatkan fenomena cuaca El Niño yang berkembang cepat berisiko mendorong sekitar 50 juta orang ke dalam krisis kelaparan akut sebelum akhir tahun depan.

Kondisi ini makin memperburuk keadaan ratusan juta orang yang sudah lebih dulu kelaparan akibat kekeringan panjang di Afrika serta lonjakan harga pangan dampak perang di Iran.

Melansir Guardian, Rabu (5/8/2026) Program Pangan Dunia (WFP) milik PBB menyebut bahwa meskipun dampak El Niño nantinya tidak separah perkiraan, fenomena ini tetap akan memperparah krisis pangan.

Hal ini bisa menambah lebih dari 20 persen jumlah warga dunia yang mengalami krisis pangan akut, dari total 225 juta orang di 45 negara saat ini.

Kawasan Amerika Tengah, Amerika Selatan, Karibia, dan Afrika bagian selatan diperkirakan menjadi wilayah yang terdampak paling parah. Sementara itu, wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara diprediksi akan mengalami curah hujan yang jauh lebih sedikit dari biasanya, yang berpotensi memicu masalah serius bagi sektor pertanian dan para petani.

Baca juga: Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai

Ancaman krisis pangan

Fenomena El Niño tahun ini diprediksi menjadi yang terkuat dalam 70 tahun terakhir. Beberapa pihak bahkan menyebutnya sebagai “Super El Niño”, meskipun istilah ini belum diakui secara resmi.

Satu hal yang pasti, dampak dan kekuatan El Niño kali ini makin parah akibat krisis iklim. Sebelumnya, para ahli memperingatkan bahwa El Niño yang kuat, jika berpadu dengan pemanasan global, bisa menjadikan tahun ini atau kemungkinan besar tahun 2027 sebagai tahun terpanas dalam sejarah.

Analis dari sektor swasta telah memperingatkan bahaya El Niño terhadap lonjakan harga pangan dunia. Namun, laporan dari WFP ini menjadi yang pertama yang menyoroti dampaknya secara langsung terhadap krisis kelaparan global.

WFP berharap dapat menekan dampak cuaca ekstrem ini melalui sistem peringatan dini dan bantuan darurat pencegahan, dengan anggaran yang disiapkan setidaknya sebesar 80 juta dolar AS.

Dampaknya akan terasa dalam jangka panjang, karena cadangan makanan petani biasanya baru akan habis setelah melewati beberapa musim panen.

Misalnya di Afrika bagian selatan musim tanam utama berlangsung dari Oktober tahun ini hingga Maret 2027. Namun, dampak terburuknya baru akan sangat terasa sekitar sembilan bulan kemudian, yaitu saat masa paceklik setelah panen.

“Dampak terbesar terhadap ketahanan pangan di Afrika bagian selatan akan terjadi pada masa paceklik tahun 2027 hingga 2028,” kata Richard Choularton, direktur layanan iklim dan ketahanan WFP.

Para petani sedikit terbantu oleh sisa hasil panen tahun lalu yang terbilang sangat bagus.

“Pada akhir tahun 2025, harga pangan masih tergolong stabil, meskipun sempat ada tekanan kenaikan harga akibat perang di Timur Tengah,” ujar Jean-Martin Bauer, direktur ketahanan pangan WFP.

Tantangan upaya pencegahan 

Sebelumnya, selama fenomena El Niño tahun 2015–2016, sekitar 60 hingga 100 juta orang terdampak krisis kelaparan akut. Istilah itu digunakan WFP untuk menggambarkan kondisi kelaparan parah sebelum sampai pada tahap kelaparan masal (famine).

Saat itu, WFP belum menerapkan sistem penanganan cepat berbasis pencegahan. Oleh karena itu, para ahli berharap dampak cuaca ekstrem kali ini bisa lebih minim, meskipun El Niño yang terjadi mungkin lebih parah.

Baca juga: Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global

Namun, Choularton menyampaikan bahwa upaya pencegahan ini terkendala oleh minimnya data, karena beberapa kegiatan pengumpulan data terpaksa dihentikan akibat kekurangan dana.

Data WFP ini hanya mencakup 45 negara tempat mereka bekerja yang memiliki perkiraan awal kondisi kelaparan. Artinya, dampak buruk bisa saja terjadi di luar wilayah-wilayah yang terpantau tersebut.

Bauer menambahkan bahwa harga pangan berisiko naik di seluruh dunia, tidak hanya di 45 negara tersebut.

“Hal ini juga sangat bergantung pada kebijakan negara-negara pengekspor pangan. Sangat penting bagi negara-negara besar untuk tidak menghentikan ekspor bahan pangan mereka. Di tingkat regional, harga pangan pasti bisa melonjak dan pasokan makanan akan semakin sulit didapat,”

Sementara itu di Inggris dan Eropa, para petani telah memperingatkan dampak cuaca panas ekstrem dan kurangnya curah hujan terhadap hasil panen mereka, sementara para pedagang mulai bersiap menghadapi kenaikan harga pasar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau