Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 19:06 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BANDUNG, KOMPAS.com - Perusahaan rintisan bioteknologi asal Bandung, Mycotech Lab (MYCL), mengolah limbah pertanian dan kehutanan menjadi biomaterial berbasis jaringan akar jamur atau miselium.

Biomaterial tersebut dikembangkan sebagai alternatif material berbasis plastik yang selama ini banyak digunakan dalam industri fesyen dan manufaktur.

Co-founder MYCL Ronaldiaz Hartantyo mengatakan, proses produksi biomaterial dilakukan dengan membudidayakan jamur menggunakan nutrisi yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan.

Baca juga: Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika

MYCL saat ini dapat mengolah lebih dari 40 jenis limbah pertanian dan kehutanan lokal, termasuk bonggol jagung dan tengkawang.

“Prosesnya sebenarnya seperti membudidayakan jamur, dengan memberikan nutrisi dari limbah pertanian dan kehutanan,” ujar Ronaldiaz, Kamis (20/8/2026).

Melalui rekayasa miselium, MYCL menghasilkan material dengan karakteristik yang berbeda dari plastik. Material tersebut memiliki kekuatan tarik (tensile strength), porositas, ketahanan terhadap api, serta sirkulasi udara (breathability) yang menjadi keunggulannya.

Ronaldiaz mengatakan, karakteristik tersebut juga membuat material berbasis miselium lebih nyaman digunakan untuk produk yang bersentuhan langsung dengan tubuh.

“Saya alergi kulit sintetis atau faux leather. Jadi, beruntusan. Kalau misalnya pakai ini (biomaterial berbasis jamur), saya sudah pakai ini lima tahun, enggak masalah karena materialnya sebenarnya bisa bernapas,” katanya.

Tantangan harga dan pasar

Meski memiliki sejumlah keunggulan, biomaterial berbasis miselium masih menghadapi tantangan dari sisi harga.

Menurut Ronaldiaz, biaya produksi material tersebut masih lebih tinggi dibandingkan plastik. Salah satu penyebabnya adalah skala bisnis dan ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia yang belum berkembang secara optimal.

Kondisi tersebut membuat MYCL lebih banyak membidik pasar internasional. Produk biomaterialnya telah dipasarkan melalui sejumlah distributor di Amerika Serikat, Australia, hingga Eropa.

MYCL juga telah mengantongi sejumlah sertifikasi dan standar untuk pasar internasional, di antaranya REACH Compliant dan OEKO-TEX.

Menurut Ronaldiaz, pasar Eropa relatif lebih terbuka terhadap material berkelanjutan karena meningkatnya perhatian konsumen terhadap isu lingkungan serta adanya regulasi yang mendorong penggunaan material dengan jejak karbon lebih rendah.

Kondisi tersebut berbeda dengan pasar Indonesia yang masih relatif sensitif terhadap harga.

“Market Indonesia sebenarnya potensial karena konsumtif sekali, hanya saja kelas menengahnya sedang babak belur. Sustainability mindset-nya belum masuk banget ke sini,” ucapnya.

Baca juga: Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih

Karena itu, Indonesia saat ini lebih banyak berperan sebagai lokasi produksi bagi MYCL karena ketersediaan bahan baku dari sektor pertanian dan kehutanan.

Diklaim memiliki jejak karbon rendah

Selain memanfaatkan limbah, salah satu keunggulan yang dikembangkan MYCL adalah aspek jejak karbon.

MYCL mengklaim biomaterial berbasis miselium yang diproduksinya memiliki karakter karbon negatif. Berdasarkan data teknis perusahaan, setiap square feet material dapat menghasilkan jejak karbon sekitar minus 12 kilogram CO2 ekuivalen.

Pada 2025, MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa dan menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau digunakan sebagai mulsa.

MYCL juga meng-upcycle sekitar 1,70 ton limbah substrat kembali ke dalam rantai nilai.

Jika dibandingkan dengan produksi kulit hewan, biomaterial MYCL pada 2025 disebut mampu menghemat sekitar 39.887 liter air dan menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 27,5 ton CO2.

Angka-angka tersebut merupakan data teknis yang disampaikan MYCL mengenai dampak lingkungan dari material yang dikembangkannya.

Bisa terurai menjadi kompos

Biomaterial berbasis miselium MYCL juga memiliki karakteristik yang memungkinkan material tersebut terurai secara alami setelah masa pakainya berakhir.

Ronaldiaz menjelaskan, jamur dalam material telah berhenti tumbuh setelah proses produksi dan pengaplikasian ke dalam produk selesai.

Namun, ketika masa pakai produk berakhir, material dapat dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan dibuang ke tanah untuk terurai secara alami menjadi kompos.

Baca juga: 3 Ton Sampah Plastik Diangkut dari Pantai Liang Sulawesi Utara lewat Global Ocean Cleanup

“Jadi media tanam pun bisa. Tapi tenang saja, ini enggak bakal biodegrade ketika sedang dipakai,” ujar Ronaldiaz.

Menurut dia, karakteristik tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan material yang lebih berkelanjutan karena produk tidak berhenti menjadi limbah setelah digunakan.

Portofolio terus dikembangkan

MYCL kini mengembangkan sejumlah jenis material, mulai dari mycelium composite, mycelium leather, hingga seaweed biopolymer.

Hingga 2026, material tersebut telah dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk produk fesyen, insulasi bangunan, hingga aplikasi berbasis miselium untuk teknologi bernilai tambah tinggi.

Pengembangan tersebut dilakukan untuk memperluas pemanfaatan biomaterial sekaligus meningkatkan skala penggunaan bahan baku yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan.

‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau