KOMPAS.com - Studi baru menunjukkan bahwa jaringan transportasi dan ketimpangan ekonomi adalah faktor penting yang menentukan seberapa mudah masyarakat mendapat pasokan makanan.
Tim peneliti dari Universitas Oulu bersama Universitas Aalto dan PTT Finlandia membuat metode analisis baru untuk melihat seberapa efektif sistem transportasi global menghubungkan daerah penghasil makanan dengan daerah pembeli, baik dalam kondisi normal maupun saat terjadi gangguan.
Melansir Phys, Kamis (20/6/2026) ketahanan pangan dunia tidak hanya tergantung pada seberapa banyak panen yang dihasilkan, tetapi juga pada kemampuan jaringan transportasi untuk mengantar makanan ke tempat yang membutuhkan.
Untuk memahami masalah ini, para peneliti menggabungkan data global tentang produksi makanan, kebutuhan warga, jalur transportasi, dan biaya pengiriman demi menilai dampak sistem transportasi terhadap akses makanan di seluruh dunia.
Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Analisis ini berfokus pada kebutuhan gizi dari enam kelompok tanaman pangan utama dunia yakni gandum daerah iklim sedang (seperti gandum dan jelai), jagung, beras, sereal tropis (seperti sorgum), umbi-umbian tropis (seperti singkong), dan kacang-kacangan.
Keenam kelompok ini menyumbang sekitar separuh dari total kalori makanan yang diperjualbelikan secara internasional.
Studi ini kemudian meneliti tiga kondisi yaitu biaya angkut yang seragam, perbedaan kondisi ekonomi antardaerah, serta gangguan akibat gagal panen dan kerusakan infrastruktur jalan.
"Studi ini menegaskan bahwa ketersediaan makanan saja tidak menjamin masyarakat bisa mendapatkannya. Biaya transportasi dan ketimpangan ekonomi dapat menghalangi akses warga terhadap makanan, meskipun stok sebenarnya mencukupi," ujar Terhi Ala-Hulkko, peneliti dari Universitas Oulu.
Hasil analisis memperlihatkan bahwa jaringan transportasi saat ini belum mampu meratakan pasokan makanan dunia dengan baik. Kekurangan akses pangan terjadi di banyak wilayah, dan dampaknya paling parah dirasakan di sebagian kawasan Asia dan Afrika.
Ketimpangan ekonomi terbukti semakin memperburuk masalah ini dan menjadi faktor paling berpengaruh terhadap akses makanan. Ketika perbedaan tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat diperhitungkan, jumlah makanan yang menumpuk tak terjual dan jumlah warga yang kekurangan makanan justru sama-sama meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa stok makanan sebenarnya ada, tetapi tidak bisa diangkut secara efisien ke tempat yang paling membutuhkan.
Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Sebagian besar kebutuhan pangan yang tidak terpenuhi terpusat di Asia, terutama di kawasan Asia Selatan, Timur, dan Tenggara. Di Afrika, hasil studi menunjukkan bahwa hasil panen lokal sebenarnya bisa menjangkau warga jika biaya pengiriman dianggap sama rata.
Namun, ketika memperhitungkan tingginya biaya pengiriman di banyak wilayah Afrika, ada sangat banyak makanan yang akhirnya gagal terkirim. Ini membuktikan bahwa mahalnya ongkos kirim itu sendiri menjadi penghambat utama warga mendapatkan makanan.
"Karena jaringan transportasi adalah tulang punggung pengiriman pangan dunia, meningkatkan ketahanan pangan bukan cuma soal memproduksi makanan yang cukup, tetapi juga memastikan makanan itu bisa sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan. Artinya, kita harus memperhatikan fasilitas jalan dan jalur laut, biaya pengiriman, serta ketimpangan ekonomi yang bersama-sama menentukan mudah tidaknya akses ke bahan pangan," tegas Ossi Kotavaara, direktur penelitian dari Universitas Oulu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya