Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup

Kompas.com, 25 Agustus 2026, 11:39 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Suhu ekstrem di kawasan gurun yang dalam satu dekade terakhir dapat mencapai 50-55 derajat Celsius mulai mengancam kemampuan unta untuk bertahan hidup.

Hewan yang dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap panas dan kekeringan tersebut dilaporkan mengalami dehidrasi, luka lepuh, gangguan ginjal, hingga kematian.

Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu tanda semakin beratnya tekanan perubahan iklim terhadap ekosistem gurun.

Pakar genetika ekologi IPB University, Ronny Rachman Noor mengatakan, peningkatan kematian unta menunjukkan bahwa perubahan iklim mulai melampaui kemampuan adaptasi alami hewan terhadap lingkungannya.

Baca juga: Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular

"Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius," ujar Ronny, dilansir dari laman IPB University, Senin (24/8/2026).

Sejumlah laporan menunjukkan tingginya kematian unta di beberapa wilayah. Di Sool, Somalia, misalnya, sekitar 73 persen unta dilaporkan mati.

Sementara di Kenya, kematian unta akibat hipertermia meningkat 15 persen dalam dua tahun terakhir.

Menurut Ronny, unta sebenarnya memiliki mekanisme fisiologis khusus untuk menghadapi kondisi panas dan kekurangan air. Suhu tubuhnya dapat berubah dari sekitar 34 derajat Celsius pada malam hari menjadi sekitar 41 derajat Celsius pada siang hari tanpa harus banyak berkeringat.

Mekanisme tersebut memungkinkan unta menghemat cairan tubuh ketika berada di lingkungan yang panas dan kering.

Namun, kemampuan adaptasi tersebut memiliki batas. Ketika suhu lingkungan melewati 45 derajat Celsius, mekanisme pengaturan suhu tubuh unta mulai bekerja kurang efektif. Unta kemudian lebih banyak berkeringat dan kehilangan cairan sehingga mengalami tekanan panas.

Pada suhu di atas 50 derajat Celsius, unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam apabila tidak memiliki akses terhadap air atau tempat berlindung. Kondisi tersebut dapat memicu kerusakan ginjal, gangguan metabolisme, hingga kegagalan organ.

Baca juga: Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular

"Karena itu, kita perlu peduli serta mencari solusi untuk melindungi hewan-hewan berharga ini," tutur Ronny.

Kekeringan Perparah Kondisi

Tekanan terhadap unta tidak hanya berasal dari peningkatan suhu. Kekeringan yang menyertai perubahan iklim turut memperparah kondisi karena mengurangi ketersediaan air dan vegetasi yang menjadi sumber makanan.

Kondisi tersebut membuat unta semakin sulit memperoleh air dan pakan. Pada saat yang sama, masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada ternak tersebut ikut terdampak karena kehilangan sumber susu, daging, maupun sarana transportasi.

"Sayangnya, eksploitasi lahan dan desertifikasi semakin memperburuk kondisi ini, sehingga semuanya menjadi semakin sulit," kata Ronny.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau