Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 10:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Hutan tropis membutuhkan lebih dari sekadar pepohonan untuk tetap sehat. Hutan tropis juga memerlukan mamalia besar untuk menyebarkan benih, mengacak-acak tanah hutan, dan membantu mengembalikan nutrisi dari daun dan tanaman mati ke dalam tanah agar ekosistem tetap sehat.

Melansir Earth, Selasa (25/8/2026) ketika mereka punah atau hilang, hutan mungkin masih terlihat subur dari luar, tetapi perubahan penting sebenarnya sudah mulai terjadi di dalam tanah dan tumpukan daun gugur di bawahnya.

Eksperimen selama 14 tahun di Brasil menemukan bahwa mamalia yang hidup di darat dapat mengubah kondisi tanah dan daun gugur, meskipun faktor musim dan kondisi lokal tetap memberikan pengaruh yang lebih besar secara keseluruhan.

Mamalia besar mengubah kondisi tanah hutan

Penelitian yang dipimpin oleh Letícia Gonçalves Ribeiro dari Universitas Negeri São Paulo (UNESP) ini menghitung berapa banyak mamalia yang menggunakan setiap wilayah hutan beserta total berat badan mereka.

Penelitian ini berfokus pada babi hutan Amerika, rusa red brocket, dan tapir dataran rendah.

Babi hutan Amerika memengaruhi kondisi permukaan tanah lewat aktivitas makan, berjalan, menggali, dan membuang kotoran.

Baca juga: Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung

“Ketika datang ke suatu area, mereka menghabiskan banyak waktu untuk menginjak-injak dan mengacak-acak tanah demi mencari buah serta benih yang jatuh, sambil membuang kotoran dan air seni,” ujar Ribeiro.

“Alhasil, mereka memengaruhi perputaran nutrisi, mengubah kandungan kimia tanah, serta meragamkan serasah yaitu lapisan daun, ranting, dan buah yang menumpuk di atas tanah,” terangnya.

Area yang lebih banyak dilalui mamalia memiliki campuran daun, ranting, buah, biji, dan bahan lapuk yang jauh lebih merata.

Area tersebut juga memiliki lebih sedikit lignin alias zat keras pada tumbuhan yang biasanya membuat proses pembusukan jadi lambat.

Dengan menginjak-injak dan mengacak-acak tumpukan daun gugur, mamalia membantu memecah bahan-bahan tersebut menjadi potongan kecil sehingga lebih cepat membusuk.

Selain itu, area yang ramai mamalia mengandung lebih banyak kalium pada lapisan daun gugur, terutama saat musim kemarau, meskipun peningkatan ini tidak terlihat di dalam tanahnya.

Sebagian besar dari 12 pengukuran serasah daun tidak menunjukkan perubahan yang jelas akibat aktivitas mamalia.

Sebagai contoh, jumlah total dedaunan gugur, nitrogen, serta karbon tidak memperlihatkan hubungan yang pasti dengan jumlah mamalia yang ada.

Area yang sering dilalui mamalia memiliki tanah yang sedikit kurang asam.

“Kadar aluminium, yang bisa meracuni tanaman jika jumlahnya terlalu tinggi, berkurang di area yang ramai hewan. Unsur ini punya hubungan erat dengan tingkat keasaman tanah dan kalsium,” kata Ribeiro.

“Keseimbangan antara keduanya sangat dibutuhkan agar tanah menjadi lebih subur,” terangnya lagi.

Mamalia bekerja lewat pergerakan mereka

Profesor Mauro Galetti dari Universitas Negeri São Paulo memimpin proyek ini. Ia menggambarkan hewan pemakan tumbuhan (herbivora) berukuran besar sebagai hewan yang perilakunya bisa membentuk banyak bagian dari hutan.

“Penelitian kami makin memperjelas betapa pentingnya peran herbivora besar di dalam hutan. Hewan-hewan yang justru paling sering jadi sasaran pemburu ini bertindak sebagai perancang ekosistem, memengaruhi segala hal mulai dari jenis tanaman di sekitar hingga kandungan kimia tanah,” ujar Profesor Galetti.

Perancang ekosistem adalah sebutan untuk hewan yang dapat mengubah lingkungan sekitarnya sehingga memengaruhi kelangsungan hidup tanaman dan hewan lain.

Selama 14 tahun, aktivitas seperti menggali, menginjak-injak, mencampur daun gugur dengan tanah, dan membuang kotoran ternyata membawa perubahan yang lebih terlihat dibanding perubahan pada pohon-pohon yang sudah tua.

Kendati demikian faktor musim memberikan pengaruh paling kuat terhadap sebagian besar kondisi tanah dan dedaunan gugur.

Mikroba tanah membantu membusukkan sisa-sisa tanaman mati. Mikroba ini bekerja kurang aktif saat bulan-bulan yang dingin dan kering, sementara curah hujan juga memengaruhi jumlah beberapa nutrisi yang ada di dalam tanah.

Baca juga: Ekspor Monyet Ekor Panjang Dinilai Tak Sejalan dengan Tren Riset Tanpa Hewan

Kondisi tanah berbeda-beda dari satu area ke area lain, bahkan dalam jarak yang sangat dekat.

Perbedaan kemiringan tanah, bebatuan, kelembapan, perakaran, dan organisme mikroskopis di dalam tanah turut menjelaskan perubahan ini.

Lebih lanjut, bahkan di wilayah yang pohon-pohonnya masih berdiri tegak, hilangnya mamalia besar akibat perburuan dan penurunan populasi dapat mengubah cara nutrisi bergerak di dalam hutan.

Kehadiran mamalia memang hanya memengaruhi beberapa bagian dari daun gugur dan tanah. Meski begitu, melindungi mamalia besar tetap membantu menjaga agar fungsi-fungsi penting hutan terus berjalan.

Pengaruh mereka terhadap tanah dan dedaunan gugur menjadi alasan kuat lainnya untuk melestarikan mereka, walaupun faktor lingkungan lain secara umum memberikan dampak yang lebih besar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau