KOMPAS.com - Hutan menampung sebagian besar keanekaragaman hayati di dunia dan memegang peranan penting dalam mengatur iklim bumi, tetapi kini hutan makin sering terpapar kekeringan.
Untuk memahami dampak kekeringan ini, peneliti pun coba mengetahui apakah pohon dapat beradaptasi dengan kondisi kekurangan air yang lama dengan mengubah cara kerja tubuh mereka.
Melansir laman resmi Chinese Academy of Sciences, Selasa (25/8/2026) banyak penelitian sebelumnya yang mencoba menjawab pertanyaan ini hanya mengandalkan tanaman dalam pot atau perbedaan curah hujan alami.
Hal ini menyisakan keraguan apakah pohon yang tumbuh di lingkungan hutan asli akan merespons dengan cara yang sama.
Kini, sebuah penelitian hutan global terbaru yang lebih mencerminkan kondisi alami menemukan bahwa pohon ternyata tidak banyak mengubah sifat biologis mereka untuk menghadapi kekeringan panjang.
Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari South China Botanical Garden (SCBG) di bawah Chinese Academy of Sciences (CAS) ini didasarkan pada 40 percobaan pengurangan air hujan yang dilakukan di berbagai hutan di seluruh dunia. Ini menjadi salah satu penilaian lapangan paling menyeluruh mengenai adaptasi pohon terhadap kekeringan hingga saat ini.
Baca juga: Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Hasil studi ini telah diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 24 Agustus.
Dalam percobaan tersebut, talang air dipasang di bawah atap pohon untuk mengalihkan sebagian air hujan sebelum menyentuh tanah. Cara ini mengurangi ketersediaan air sementara pohon tetap tumbuh alami di tanah hutan dan di antara komunitasnya.
Metode ini memungkinkan para peneliti untuk mengamati respons jangka panjang pohon terhadap kekeringan dalam kondisi hutan yang sebenarnya, bukan di dalam pot buatan atau sekadar membandingkan daerah dengan curah hujan berbeda.
Para peneliti mengamati 24 sifat biologis pohon yang berkaitan dengan pengangkutan air, ketahanan kekeringan, dan penyerapan karbon.
Di berbagai hutan dengan iklim dan tingkat kekeringan yang berbeda, sifat-sifat seperti ketahanan terhadap penyumbatan pembuluh air, efisiensi penyerapan air, kadar nutrisi daun, hingga kemampuan fotosintesis ternyata menunjukkan sangat sedikit perubahan.
"Pohon menunjukkan penyesuaian yang sangat minim pada kemampuan fotosintesis dan pengangkutan airnya meskipun terus-menerus mengalami kekurangan air," kata Liang Xingyun dari SCBG, penulis utama studi ini.
"Dengan mempertahankan kemampuan tersebut, pohon mungkin dapat memaksimalkan penyerapan karbon saat kondisi membaik setelah hujan turun," terangnya lagi,
Namun, sifat biologis yang tidak berubah ini membawa konsekuensi yang cukup besar.
Kekeringan menyebabkan tekanan air dalam jaringan tubuh pohon menurun, sementara ketahanan pembuluh airnya terhadap penyumbatan tetap tidak berubah. Akibatnya, batas aman pengangkutan air yaitu jarak antara kondisi air yang tersisa di tubuh pohon dengan titik di mana saluran airnya mulai rusak menjadi jauh lebih sempit.
Pohon pun terpaksa beroperasi mendekati batas kemampuan maksimalnya tanpa bisa memperkuat pertahanan diri dari kerusakan saluran air tersebut.
Para peneliti juga menemukan pola yang berbeda pada penyerapan dan penyimpanan karbon. Kemampuan fotosintesis menurun selama kekeringan, terutama karena pori-pori daun menutup untuk menghemat air.
Meski begitu, cadangan karbohidrat di dalam tubuh pohon tetap stabil. Artinya, penurunan penyerapan karbon tidak lantas membuat cadangan makanan pohon langsung habis selama kemarau panjang.
Baca juga: Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehabisan cadangan makanan bukanlah ancaman utama bagi pohon saat dilanda kekeringan panjang. Justru menyempitnya batas aman pengangkutan air yang menjadi ancaman paling berbahaya dan mendesak.
"Temuan kuncinya adalah bahwa mempertahankan kemampuan biologis tidak serta-merta membuat pohon lebih aman selama kekeringan," kata Ye Qing dari SCBG, penulis penanggung jawab studi ini.
"Pohon mungkin tetap bisa memanfaatkan masa-masa baik setelah hujan turun, tetapi tubuh mereka bekerja makin mendekati batas kemampuan penyerapan airnya saat kekeringan makin parah," paparnya lagi.
Menurut para peneliti, temuan ini mendobrak anggapan bahwa pohon-pohon di hutan akan beradaptasi secara signifikan dengan iklim yang lebih kering. Penelitian ini juga memberikan acuan penting untuk memperkirakan secara lebih akurat bagaimana merespons perubahan hutan di masa depan akibat kekeringan.
Secara lebih luas, temuan ini menyoroti bahwa makin sempitnya batas aman penyerapan air merupakan masalah utama bagi hutan yang menghadapi kekeringan panjang. Seiring kekeringan yang makin sering dan parah, menyadari keterbatasan pohon dalam beradaptasi menjadi sangat penting untuk memahami dan melindungi masa depan hutan dengan lebih baik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya