Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pohon di Hutan Sulit Beradaptasi saat Hadapi Kekeringan Panjang

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 16:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hutan menampung sebagian besar keanekaragaman hayati di dunia dan memegang peranan penting dalam mengatur iklim bumi, tetapi kini hutan makin sering terpapar kekeringan.

Untuk memahami dampak kekeringan ini, peneliti pun coba mengetahui apakah pohon dapat beradaptasi dengan kondisi kekurangan air yang lama dengan mengubah cara kerja tubuh mereka.

Melansir laman resmi Chinese Academy of Sciences, Selasa (25/8/2026) banyak penelitian sebelumnya yang mencoba menjawab pertanyaan ini hanya mengandalkan tanaman dalam pot atau perbedaan curah hujan alami.

Hal ini menyisakan keraguan apakah pohon yang tumbuh di lingkungan hutan asli akan merespons dengan cara yang sama.

Kini, sebuah penelitian hutan global terbaru yang lebih mencerminkan kondisi alami menemukan bahwa pohon ternyata tidak banyak mengubah sifat biologis mereka untuk menghadapi kekeringan panjang.

Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari South China Botanical Garden (SCBG) di bawah Chinese Academy of Sciences (CAS) ini didasarkan pada 40 percobaan pengurangan air hujan yang dilakukan di berbagai hutan di seluruh dunia. Ini menjadi salah satu penilaian lapangan paling menyeluruh mengenai adaptasi pohon terhadap kekeringan hingga saat ini.

Baca juga: Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan

Hasil studi ini telah diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 24 Agustus.

Minim adaptasi

Dalam percobaan tersebut, talang air dipasang di bawah atap pohon untuk mengalihkan sebagian air hujan sebelum menyentuh tanah. Cara ini mengurangi ketersediaan air sementara pohon tetap tumbuh alami di tanah hutan dan di antara komunitasnya.

Metode ini memungkinkan para peneliti untuk mengamati respons jangka panjang pohon terhadap kekeringan dalam kondisi hutan yang sebenarnya, bukan di dalam pot buatan atau sekadar membandingkan daerah dengan curah hujan berbeda.

Para peneliti mengamati 24 sifat biologis pohon yang berkaitan dengan pengangkutan air, ketahanan kekeringan, dan penyerapan karbon.

Di berbagai hutan dengan iklim dan tingkat kekeringan yang berbeda, sifat-sifat seperti ketahanan terhadap penyumbatan pembuluh air, efisiensi penyerapan air, kadar nutrisi daun, hingga kemampuan fotosintesis ternyata menunjukkan sangat sedikit perubahan.

"Pohon menunjukkan penyesuaian yang sangat minim pada kemampuan fotosintesis dan pengangkutan airnya meskipun terus-menerus mengalami kekurangan air," kata Liang Xingyun dari SCBG, penulis utama studi ini.

"Dengan mempertahankan kemampuan tersebut, pohon mungkin dapat memaksimalkan penyerapan karbon saat kondisi membaik setelah hujan turun," terangnya lagi,

Namun, sifat biologis yang tidak berubah ini membawa konsekuensi yang cukup besar.

Kekeringan menyebabkan tekanan air dalam jaringan tubuh pohon menurun, sementara ketahanan pembuluh airnya terhadap penyumbatan tetap tidak berubah. Akibatnya, batas aman pengangkutan air yaitu jarak antara kondisi air yang tersisa di tubuh pohon dengan titik di mana saluran airnya mulai rusak menjadi jauh lebih sempit.

Bekerja sampai batas maksimal

Pohon pun terpaksa beroperasi mendekati batas kemampuan maksimalnya tanpa bisa memperkuat pertahanan diri dari kerusakan saluran air tersebut.

Para peneliti juga menemukan pola yang berbeda pada penyerapan dan penyimpanan karbon. Kemampuan fotosintesis menurun selama kekeringan, terutama karena pori-pori daun menutup untuk menghemat air.

Meski begitu, cadangan karbohidrat di dalam tubuh pohon tetap stabil. Artinya, penurunan penyerapan karbon tidak lantas membuat cadangan makanan pohon langsung habis selama kemarau panjang.

Baca juga: Kelestarian Hutan Tropis Bergantung pada Aktivitas Mamalia Besar

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehabisan cadangan makanan bukanlah ancaman utama bagi pohon saat dilanda kekeringan panjang. Justru menyempitnya batas aman pengangkutan air yang menjadi ancaman paling berbahaya dan mendesak.

"Temuan kuncinya adalah bahwa mempertahankan kemampuan biologis tidak serta-merta membuat pohon lebih aman selama kekeringan," kata Ye Qing dari SCBG, penulis penanggung jawab studi ini.

"Pohon mungkin tetap bisa memanfaatkan masa-masa baik setelah hujan turun, tetapi tubuh mereka bekerja makin mendekati batas kemampuan penyerapan airnya saat kekeringan makin parah," paparnya lagi.

Menurut para peneliti, temuan ini mendobrak anggapan bahwa pohon-pohon di hutan akan beradaptasi secara signifikan dengan iklim yang lebih kering. Penelitian ini juga memberikan acuan penting untuk memperkirakan secara lebih akurat bagaimana merespons perubahan hutan di masa depan akibat kekeringan.

Secara lebih luas, temuan ini menyoroti bahwa makin sempitnya batas aman penyerapan air merupakan masalah utama bagi hutan yang menghadapi kekeringan panjang. Seiring kekeringan yang makin sering dan parah, menyadari keterbatasan pohon dalam beradaptasi menjadi sangat penting untuk memahami dan melindungi masa depan hutan dengan lebih baik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau