"Bisa jatuh di tanah, bisa jatuh di badan air, bisa menimbulkan hujan asam, bisa menimbulkan kerusakan hutan yang masih sehat karena juga dampak dari deposisi itu bisa merusak tumbuhan," ucapnya.
Baca juga: BNPB Terus Pantau Wilayah Terdampak Karhutla, Kalteng Masih Terbanyak dengan 63 Titik Api
Selain itu, deposisi asam ini bersifat korosif. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, terdapat kasus jembatan yang roboh akibat korosi yang dipicu oleh penumpukan salju asam.
Di Indonesia, kata dia, benda-benda bersejarah seperti candi-candi berbahan batu sangat rentan terhadap kerusakan akibat pencemaran udara ini. Partikel asam dapat melapuk batuan candi secara perlahan, yang secara ekonomi menimbulkan kerugian sangat besar jika dihitung dari nilai pelestarian budaya dan potensi pariwisata.
Di sisi lain, satwa, seperti orangutan, yang memiliki struktur anatomi paru-paru mirip manusia, sangat menderita akibat pencemaran udara yang dipicu karhutla.
"Jadi, kalau manusia paru-parunya rusak, orangutan juga bisa rusak paru-parunya," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya