JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menyiapkan peta jalan pengembangan green jobs atau pekerjaan hijau untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam proses transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Pengembangan green jobs menjadi salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Pemerintah menyiapkan kebijakan dari sisi penyediaan tenaga kerja, mulai dari pendidikan, pelatihan, hingga standar kompetensi, sekaligus mendorong terciptanya lapangan kerja hijau dari sisi permintaan.
Direktur Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Nur Hygiawati Rahayu mengatakan, pengembangan green jobs tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri.
Baca juga: Ekonomi Hijau Tumbuh, Uni Eropa Catat Lonjakan Signifikan Green Jobs
“Kolaborasi dengan dunia usaha, institusi pendidikan, dan mitra pembangunan menjadi kunci dalam menyiapkan talenta yang dibutuhkan untuk mendukung transisi menuju ekonomi hijau,” ujar Nur dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Besarnya peluang green jobs sejalan dengan kebutuhan investasi untuk mencapai target net zero emission (NZE).
Proyeksi BloombergNEF memperkirakan jalur menuju NZE di Indonesia dapat menarik investasi hingga 3,8 triliun dollar AS atau sekitar Rp 68.540 triliun sampai 2050.
Investasi tersebut diperkirakan dapat menciptakan sekitar 1,3 juta pekerjaan langsung di sektor energi terbarukan.
Namun, pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja hijau belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan pekerja dengan keterampilan yang sesuai.
Laporan LinkedIn Green Skills Report 2025 menunjukkan talenta yang memiliki green skills direkrut 46,6 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata perekrutan lintas sektor.
Angka tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang memiliki kompetensi terkait keberlanjutan.
Di sisi lain, studi Koaksi Indonesia pada 2026 menemukan adanya kesenjangan antara tenaga kerja yang tersedia dan kebutuhan industri. Sejumlah lulusan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan, tetapi belum memenuhi kebutuhan perusahaan karena keterbatasan pengalaman praktis, keterampilan teknis, maupun sertifikasi.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan, pemerintah juga akan merumuskan kembali definisi green jobs yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia.
Menurut dia, Indonesia membutuhkan klasifikasi pekerjaan hijau yang dapat menggambarkan karakteristik ekonomi dan lingkungan nasional.
“Kita jangan didikte oleh negara lain atau terdikte klasifikasi organisasi lain, sehingga posisi kita seolah-olah buruk,” kata Rachmat.
Baca juga: Lapangan Kerja Green Jobs Meningkat hingga 27 Persen
Ia mengatakan, pengembangan green jobs tidak semata-mata berkaitan dengan pekerjaan yang berhubungan langsung dengan lingkungan atau penghijauan. Pekerjaan hijau juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan struktur ekonomi akibat transisi energi dan perubahan iklim.
Karena itu, menurut Rachmat, Indonesia perlu memiliki ukuran dan definisi yang jelas mengenai pekerjaan hijau agar kebutuhan tenaga kerja dapat dipetakan sekaligus menjadi acuan bagi dunia usaha dan lembaga pendidikan.
“Kalau kita tidak hati-hati, tidak segera melahirkan green jobs ke depannya, seluruh dunia akan mengalami kesulitan bersama,” ujarnya.
Pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan keterampilan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri yang berkembang seiring transisi ekonomi hijau.
Nur mengatakan, peta jalan green jobs akan mempertemukan kebutuhan industri dengan sistem pendidikan dan pelatihan. Penyelarasan tersebut diperlukan agar lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan terkait keberlanjutan, tetapi juga keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan.
Kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri menjadi salah satu persoalan yang perlu diatasi. Dengan demikian, pengembangan green jobs tidak hanya berorientasi pada penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga pada penyiapan tenaga kerja yang mampu mengisi pekerjaan tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya