Padahal, dua area terbakar seluas 1.000 hektare belum tentu memiliki nilai ekologis yang sama. Area terbakar pertama kemungkinan mempunyai keanekaragaman hayati relatif rendah dibandingkan area kedua yang menjadi habitat spesies endemik, wilayah penting bagi satwa, koridor ekologis, kawasan gambut, lokasi sumber daya air, dan ruang hidup masyarakat lokal. Nilai yang hilang bisa sangat berbeda, meski secara angka, sama-sama 1.000 hektare.
"Karena itu, kita perlu mengubah pertanyaan dari: 'Berapa hektare hutan yang terbakar?' menjadi: 'Apa saja yang berada di dalam kawasan tersebut dan berapa nilai yang hilang ketika ekosistem itu terbakar?' Inilah pentingnya memasukkan biodiversity value, natural capital value dan kearifan lokal dalam perhitungan dampak kebakaran," ujar Kurniawan kepada Kompas.com, Senin (24/8/2026).
Baca juga: Jepang Bantu Padamkan Karhutla Kalimantan, 180 Personel Akan Gunakan Asrama Haji Pontianak
Lebih dari sekadar pohon, Kurniawan menilai, karhutla berisiko menyebabkan hilangnya beberapa lapisan nilai sekaligus. Pertama, species value, dengan flora dan fauna dapat mati atau kehilangan habitat dan sumber makanan. Kedua, habitat value, dengan kerusakan habitat bisa mengganggu reproduksi, rantai makanan, sampai pergerakan satwa.
Ketiga, genetic value, dengan setiap spesies membawa sumber daya genetik yang mungkin memiliki manfaat bagi pangan, obat-obatan, teknologi, dan ilmu pengetahuan di masa depan. Keempat, ecosystem service value, dengan hutan pengatur tata air, melindungi tanah, menyimpan karbon, mendukung penyerbukan, dan menjalankan berbagai fungsi ekologis.
Kelima, social and cultural value, yang dikenal dengan wisdom local sebagai DNA Sustainability Indonesia. Social and cultural value relatif sulit dimasukkan dalam perhitungan ekonomi. Artinya, harga kayu yang terbakar bukanlah nilai sebenarnya dari sebuah hutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya