KOMPAS.com - Gelombang panas laut dapat berdampak buruk bagi kesehatan anak-anak yang tinggal di pemukiman pesisir negara berkembang.
Hal ini terungkap dalam penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Penn State dan University of North Carolina at Chapel Hill.
Gelombang panas laut sendiri merupakan yaitu kondisi saat suhu air laut menjadi jauh lebih panas dari biasanya.
Melansir Phys, Selasa (1/9/2026) studi yang baru saja diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menemukan bahwa paparan gelombang panas laut berkaitan erat dengan meningkatnya risiko anak-anak mengalami gizi buruk akut, tubuh terlalu kurus, stunting, hingga kematian.
Penulis pendamping studi, Brian Thiede, profesor sosiologi pedesaan dan demografi di Penn State, menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena iklim pesisir sangat bergantung pada hasil laut.
Baca juga: UNICEF: 660 Anak Terinfeksi HIV Setiap Hari Selama 2025
Ikan merupakan sumber protein dan gizi penting bagi masyarakat pesisir. Gelombang panas laut dapat merusak pasokan ikan karena mengubah wilayah jelajah ikan, menurunkan kualitas gizi ikan, hingga menyebabkan kematian massal pada ikan.
"Gangguan pada ekosistem laut ini bisa berdampak langsung pada pasokan makanan, serta menimbulkan dampak turunan dengan menekan penghasilan nelayan dan menaikkan harga pangan bagi konsumen," ujarnya.
"Faktor-faktor ini dapat memengaruhi kemampuan keluarga untuk membeli makanan atau memenuhi kebutuhan penting lainnya, seperti layanan kesehatan," kata Thiede lagi.
Thiede menambahkan bahwa temuan ini mempertegas bahwa perubahan iklim telah merusak banyak sistem di bumi yang sangat krusial bagi kesehatan dan kelangsungan hidup manusia, termasuk masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dan pangan mereka pada laut.
"Para peneliti dan pembuat kebijakan harus memberikan perhatian lebih pada masyarakat pesisir dan membedakan secara jelas risiko yang dihadapi warga pesisir dibanding warga di pedalaman. Masyarakat pesisir menghadapi risiko iklim yang sangat khas akibat kondisi lingkungan dan mata pencaharian mereka," terang Thiede.
Menurut para peneliti, gelombang panas laut kini makin sering terjadi dan kondisinya makin parah seiring perubahan iklim global. Gelombang panas ini dapat memicu berbagai perubahan lingkungan lainnya yang berdampak langsung pada kehidupan manusia, dengan masyarakat pesisir di negara-negara berkembang menjadi kelompok yang paling rentan.
Thiede menyampaikan bahwa perhatian terhadap dampak kesehatan akibat gelombang panas laut ini sangat penting karena beberapa alasan, salah satunya adalah kenyataan bahwa sebagian besar penduduk dunia memang tinggal di kawasan sekitar pesisir.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan
"Suhu lautan meningkat dengan sangat cepat, membuat gelombang panas ini makin sering terjadi dan makin parah. Selain itu, kondisi kesehatan yang buruk memiliki dampak luas dan beruntun, mulai dari ancaman nyata seperti penyakit dan kematian, hingga dampak buruk pada pendidikan dan pekerjaan yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin," papar Thiede lagi.
Dalam studi ini, para peneliti menggabungkan data kesehatan serta tingkat kelangsungan hidup anak-anak dan perempuan dari lebih dari 9.800 wilayah pesisir di 36 negara berkembang, dengan data suhu permukaan laut global.
Selanjutnya, mereka melacak gelombang panas laut yang terjadi di perairan dekat pemukiman warga pada bulan-bulan dan tahun-tahun sebelum kesehatan mereka diperiksa.
Tim peneliti kemudian menggunakan metode statistik untuk melihat secara pasti hubungan antara paparan gelombang panas laut tersebut dengan kondisi kesehatan dan kelangsungan hidup warga.
Tim peneliti menemukan bahwa setiap peningkatan signifikan dari jumlah gelombang panas laut selama periode dua tahun, meningkatkan risiko kematian anak sebesar 5,4 persen, risiko anak mengalami wasting (tubuh terlalu kurus dibanding tingginya) sebesar 6,5 persen, dan risiko stunting (tubuh pendek dibanding usianya) sebesar 8,8 persen.
Baca juga: Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Para peneliti juga menemukan bahwa dampak paling parah terjadi di negara-negara yang sangat bergantung pada perikanan skala kecil dibandingkan dengan sektor industri perikanan komersial serta di wilayah perkotaan pesisir.
"Meskipun dampak di area perkotaan mungkin terasa mengejutkan, hal ini sejalan dengan bukti luas bahwa warga kota juga sangat rentan terhadap perubahan lingkungan," ujar Thiede.
"Masyarakat kota mungkin jarang yang bekerja sebagai petani atau nelayan dibanding warga desa, tetapi mereka tetap rentan terkena dampak lewat jalur pasar, seperti saat harga ikan melambung tinggi," katanya.
Para peneliti menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya pemberian bantuan gizi atau program perlindungan sosial bagi warga yang terdampak gelombang panas laut.
Para praktisi dan pembuat kebijakan juga bisa memanfaatkan perkiraan suhu laut dalam sistem peringatan dini mereka untuk mengantisipasi ke mana bantuan harus disalurkan. Mereka menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di wilayah pesisir masih sangat dibutuhkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya