Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Kompas.com, 4 September 2026, 15:10 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Setiap tahun, pemerintah dan organisasi non-pemerintah menghabiskan dana tak sedikit untuk kampanye yang dirancang agar orang-orang mau bertindak menghadapi perubahan iklim.

Namun, strategi mana yang paling ampuh? Apakah kampanye harus mengandalkan rasa takut atau pesan positif, mengedepankan fakta atau menyentuh emosi, serta berfokus pada kata-kata atau gambar?

Melansir Phys, Selasa (1/9/2026) tim peneliti dari Consumer Decision and Sustainable Behavior Lab UNIGE telah melakukan penelitian berskala besar yang pertama untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Para peneliti menganalisis dan menggabungkan temuan dari 71 studi yang menguji dampak strategi komunikasi iklim tertentu, dengan mengumpulkan data dari total 216.000 peserta.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology.

Baca juga: 70 Persen Anak Muda Pilih Perusahaan yang Peduli Lingkungan

Strategi komunikasi berdampak

Strategi-strategi yang diteliti mencakup 15 pendekatan berbeda, mulai dari menyajikan informasi berbasis fakta untuk mengisi kekurangan pengetahuan, hingga menggugah emosi, contohnya dengan membangkitkan rasa kagum pada keindahan alam.

Ada juga pendekatan yang dirancang untuk mempermudah pengambilan keputusan dengan menyoroti dampak tertentu dari perubahan iklim, seperti akibatnya pada kesehatan atau keuangan.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa hampir semua strategi ini berpotensi memberikan dampak positif pada niat dan perilaku masyarakat, serta pada dukungan mereka terhadap kebijakan iklim," jelas Tobias Brosch, direktur laboratorium yang memimpin penelitian ini.

Namun strategi yang menekankan tanggung jawab individu dan kelompok misalnya saja seperti pesan 'keberhasilan ini sangat bergantung pada diri Anda' justru berisiko memicu penolakan atau sikap defensif dari masyarakat.

Cerita lebih ampuh dibandingkan fakta

Namun, tidak semua strategi yang berhasil memiliki tingkat efektivitas yang sama.

Kampanye yang memicu respons emosional yang kuat terutama melalui penyampaian cerita atau dengan membangkitkan rasa kagum pada keindahan alam jauh lebih efektif daripada sekadar menyajikan fakta dan bukti ilmiah.

Baca juga: Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer

Pesan yang menyentuh sisi moral, etika, atau bahkan agama yang menekankan hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri dan wajib kita jaga juga memberikan hasil yang lebih baik.

Para peneliti juga menemukan bahwa pesan akan jauh lebih efektif jika dilengkapi dengan gambar atau visual.

"Di luar perbedaan tersebut, kenyataan bahwa hampir semua strategi ini memberikan dampak positif adalah hal yang menggembirakan," kata Brosch.

"Ini sangat menyemangati karena sebagian besar studi yang diteliti hanya mengukur efek dari pesan yang dilihat orang sebanyak satu kali saja. Padahal kita tahu bahwa pesan yang disampaikan berulang kali bisa memperkuat dampaknya.

Di saat bukti ilmiah sudah sangat jelas dan tantangannya adalah mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata, masih ada ruang yang sangat luas untuk memperbaiki cara kita berkomunikasi tentang iklim," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau