Penurunan curah hujan dan peningkatan suhu membuat vegetasi lebih kering dan mudah terbakar. Kondisi tersebut menjadi lebih berisiko pada gambut yang telah mengalami degradasi dan kehilangan sebagian kemampuannya dalam menyimpan air.
"Peranannya pada bahan bakarnya. Ketika suhu menjadi lebih tinggi dan curah hujan menurun, kondisi bahan bakar menjadi lebih kering dan rentan terbakar," kata Fiqri.
Menurut Fiqri, pengelolaan gambut perlu mempertahankan kondisi alaminya yang basah. Tata air menjadi salah satu faktor penting, termasuk dengan mencegah pengeringan gambut akibat ekstraksi air berlebihan maupun pembangunan kanal yang menyebabkan air keluar dari kawasan.
Pemilihan jenis tanaman yang adaptif terhadap kondisi tergenang juga diperlukan untuk menjaga fungsi ekologis sekaligus mendukung pemanfaatan lahan.
Fiqri mengatakan, pola hotspot dapat dimanfaatkan untuk menentukan kawasan yang menjadi prioritas pencegahan dan pengelolaan.
Penelitian mengenai pola kebakaran diperlukan untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi sehingga intervensi dapat dilakukan secara lebih tepat.
Pada lahan gambut yang telah mengalami kekeringan, misalnya, upaya pembasahan dan pemblokiran dapat dilakukan untuk mempertahankan kelembapan gambut.
Namun, pemetaan kerawanan tidak cukup hanya mempertimbangkan kondisi lingkungan. Faktor sosial juga perlu diperhitungkan, termasuk aktivitas manusia dan potensi konflik di sekitar kawasan.
Baca juga: Karhutla Kawah Ijen, Banyuwangi Tetapkan Status Tanggap Darurat 14 Hari
"Jadi, bagaimana lebih ke hubungan bahan bakar kemudian interaksinya dengan sosial. Karena itu mungkin ada interaksi, dan itu juga kaitannya dengan konflik yang terjadi di situ dan implementasi kebijakan," tutur Fiqri.
Dengan pendekatan tersebut, penanganan karhutla dinilai perlu bergeser dari fokus pada pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi menuju pencegahan dan peningkatan ketahanan ekosistem gambut.
Peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar kawasan juga diperlukan, antara lain melalui pemahaman sistem peringatan dini, pengendalian penggunaan api, serta penguatan patroli dan pemantauan kawasan.
Strategi tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah dengan mempertimbangkan kondisi bahan bakar, aktivitas sosial, potensi konflik, dan penerapan kebijakan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya