KOMPAS.com - Panas dari pembakaran bahan bakar di Base Camp Everest dan pembuangan urine yang dialirkan langsung ke atas gletser ternyata sanggup mencairkan hingga 2.500 ton es dan salju setiap tahunnya, menurut penelitian terbaru.
Melansir Independent, Kamis (3/9/2026) temuan tersebut merupakah hasil studi tim peneliti internasional setelah mempelajari Gletser Khumbu yang merupakan lokasi base camp di jalur pendakian sisi Nepal. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Regional Environmental Change.
Selama musim pendakian di musim semi, ribuan pendaki, pemandu, dan staf pendukung berkumpul di kamp tersebut. Area pemukiman sementara ini tumbuh menjadi desa wisata yang sangat ramai, lengkap dengan kafe espresso, TV layar lebar, internet cepat, mandi air hangat, hingga lantai tenda yang dilengkapi pemanas.
Baca juga: Pemanasan Global Percepat Pencairan Es di Papua, Gletser Tropis Terakhir Asia akan Punah
Studi tersebut mengungkap bahwa penggunaan sekitar 1.600 tenda selama 50 hari musim pendakian pada tahun 2023 menghabiskan 824 tabung gas elpiji, 18.935 liter minyak tanah, dan 5.130 liter bensin untuk kebutuhan memasak, pemanas, serta listrik.
Saat digabungkan dengan energi panas dari urine manusia, total energi yang dihasilkan mencapai 849.174 megajoule.
Energi sebesar ini diperkirakan sanggup mencairkan sekitar 2.492 ton es dan salju dengan perkiraan berkisar antara 1.964 hingga 3.020 ton. Air sebanyak itu setara dengan isi satu kolam renang ukuran Olimpiade, sekitar 83 truk tangki, atau 16.700 bak mandi standar.
Urine ternyata menjadi salah satu sumber panas utama di sana. Para pendaki dan pemandu minum air dalam jumlah sangat banyak di ketinggian untuk mencegah dehidrasi, sehingga menghasilkan sekitar 6.000 liter urine setiap harinya.
Meskipun kotoran padat dikumpulkan dan dibawa turun gunung, sebagian besar urine dibuang langsung ke atas gletser. Para peneliti memperkirakan panas dari urine ini saja sanggup mencairkan sekitar 154 ton es dalam satu musim pendakian.
Data satelit juga menunjukkan tren pemanasan yang lebih luas di sekitar area kamp. Setelah menganalisis citra satelit Landsat dari tahun 1991 hingga 2023, para peneliti menemukan bahwa suhu permukaan di lokasi kamp naik rata-rata 0,28 derajat C per tahun, sekitar dua kali lebih cepat dibanding area Gletser Khumbu di sekitarnya.
Baca juga: Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Tim peneliti, termasuk Kim Lal Gautam dari Departemen Pengelolaan Pertanahan Nepal, menyatakan bahwa dampak nyata dari aktivitas manusia kemungkinan jauh lebih besar. Sebab, perhitungan mereka belum memasukkan energi panas dari helikopter, suhu tubuh para pendaki, serta hewan yak yang dipakai untuk mengangkut barang.
Meskipun perubahan iklim tetap menjadi penyebab utama mencairnya gletser Everest, para peneliti menegaskan bahwa menempatkan ribuan orang setiap tahun di atas gletser yang rapuh adalah tindakan yang tidak berkelanjutan.
"Untuk jangka panjang, opsi pemindahan base camp dari atas gletser ke area daratan sekitar yang lebih stabil harus mulai dipertimbangkan," ujar peneliti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya