KOMPAS.com - Studi global terhadap lebih dari 23.000 spesies moluska laut memprediksi adanya pergeseran besar dalam ukuran tubuh hewan-hewan tersebut pada tahun 2100, termasuk pertumbuhan yang mengejutkan pada beberapa jenis hewan dan wilayah lautan.
Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan di University of Louisiana at Lafayette ini membantah anggapan lama soal dampak perubahan iklim pada kehidupan laut bahwa lautan yang makin hangat tidak serta-merta membuat ukuran tubuh semua hewan menjadi lebih kecil.
Studi ini dipimpin oleh Isaac Trindade-Santos saat melakukan penelitian postdoctoral di laboratorium UL Lafayette bersama penulis utama Dr. Craig McClain. Trindade-Santos sendiri kini menjadi peneliti postdoctoral di University of Helsinki.
Melansir laman resmi University of Helsinki, Sabtu (5/9/2026) para peneliti menganalisis lebih dari 23.000 spesies moluska laut yang mencakup kerang, tiram, siput, cumi-cumi, gurita, dan chiton.
Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Studi menemukan bahwa ukuran tubuh mereka diproyeksikan bakal mengecil di sebagian besar wilayah lautan pada tahun 2100. Namun, perubahan ini sama sekali tidak merata. Beberapa kelompok hewan mungkin mengecil secara drastis, sementara kelompok lainnya justru diprediksi bertambah besar.
Studi ilmiah berjudul "Nonuniform resizing of marine life under climate change" ini telah melalui peninjauan sesama ahli dan diterbitkan pada 31 Agustus di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
"Selama bertahun-tahun, gagasan bahwa laut yang semakin hangat akan membuat biota laut mengecil dianggap seperti aturan umum," kata McClain.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Di seluruh skala global, kami menemukan bahwa beberapa hewan paling dasar di lautan merespons perubahan iklim dengan cara yang sangat berbeda dan beberapa di antaranya justru tumbuh lebih besar. Kompleksitas ini sangat penting untuk dipahami saat kita merancang masa depan ekosistem laut," terangnya.
Para peneliti menggabungkan lebih dari 2,79 juta catatan keberadaan spesies dengan data ukuran tubuh untuk mempelajari bagaimana suhu, oksigen, dan produktivitas lautan memengaruhi lima kelompok utama moluska. Mereka kemudian membuat simulasi proyeksi hingga tahun 2100 di 10 wilayah lautan utama, baik dalam skenario emisi iklim tinggi maupun rendah.
Baca juga: Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Penelitian ini memanfaatkan data sejarah alam yang dikumpulkan selama berabad-abad, termasuk catatan spesies dan informasi ukuran tubuh dari basis data keanekaragaman hayati terbuka.
Dalam skenario emisi tinggi, para peneliti memproyeksikan penurunan ukuran tubuh rata-rata yang signifikan pada sekitar dua pertiga kelompok hewan dan wilayah lautan yang diteliti. Pada beberapa kasus, panjang tubuh rata-rata dapat menyusut hingga 16 persen pada tahun 2100.
Perubahan panjang tubuh tersebut bisa berdampak pada penurunan bobot yang jauh lebih besar. Sebagai contoh, penurunan panjang rata-rata kerang sebesar 16,2 persen di Laut Baltik diperkirakan bakal menurunkan bobot tubuh rata-rata mereka hingga 41 persen.
Dalam skenario emisi tinggi, kelompok sefalopoda yang mencakup cumi-cumi dan gurita serta kerang taring diproyeksikan tumbuh jauh lebih besar di Samudra Arktik, dengan kenaikan panjang rata-rata masing-masing sebesar 2,9 persen dan 3,3 persen.
Para peneliti menemukan bahwa perbedaan respons ini sangat bergantung pada faktor geografis dan biologis. Sefalopoda, misalnya, membutuhkan banyak oksigen tetapi memiliki sistem peredaran darah yang efisien serta siklus hidup yang cepat.
Hal ini memungkinkan mereka bertahan atau bahkan tumbuh lebih besar di air yang memanas. Sebaliknya, kelompok hewan bercangkang tebal seperti kerang dan siput laut terlihat jauh lebih rentan mengalami penyusutan ukuran.
"Yang paling mengejutkan saya adalah betapa besarnya pengaruh lokasi geografis," kata Trindade-Santos.
"Kelompok hewan yang sama bisa saja diproyeksikan mengecil di satu wilayah laut, tetapi malah bertambah besar di wilayah laut lainnya. Hal ini terjadi karena suhu laut, penurunan kadar oksigen, dan produktivitas lingkungan tidak berubah secara seragam di semua tempat. Kita harus melihat gambaran utuhnya baik dari sisi biologi hewan tersebut maupun kondisi spesifik lingkungannya untuk memahami apa yang akan terjadi di masa depan," paparnya.
Baca juga: Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah
Tingkat keparahan dari perubahan tersebut juga sangat bergantung pada jumlah emisi gas rumah kaca di masa mendatang.
Dalam skenario emisi rendah, penurunan ukuran tubuh secara signifikan hanya terjadi pada 14 dari 50 kombinasi kelompok hewan dan wilayah laut yang diteliti, kurang dari separuh angka yang diproyeksikan dalam skenario emisi tinggi. Sementara itu, jumlah hewan yang diprediksi membesar ukurannya relatif tetap sama.
"Dua skenario masa depan yang kami bandingkan menunjukkan perbedaan yang sangat jelas," kata Trindade-Santos.
"Tingginya tingkat emisi adalah penentu utama seberapa banyak kelompok hewan yang akan mengecil, bukan menentukan berapa banyak hewan yang membesar. Seberapa drastis ukuran biota laut akan menyusut, pada dasarnya, masih menjadi pilihan yang kita buat hari ini," tambahnya.
Temuan ini membawa dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar perubahan fisik hewan-hewan tersebut. Moluska memegang peranan sangat vital dalam ekosistem laut, mulai dari menyaring air, memutar siklus nutrisi, menyediakan habitat, menyimpan karbon, hingga menyokong industri perikanan dan ketahanan pangan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya