KOMPAS.com - Studi baru menemukan jenis polusi yang berasal dari kapal mungkin lebih berbahaya dibandingkan polusi dari lalu lintas jalan raya.
Hal tersebut terungkap setelah peneliti dari University of Southampton melakukan studi polusi udara di area pelabuhan di Southampton, di Inggris. Sebagai informasi, pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan utama Inggris untuk perdagangan dan pelayaran laut dalam.
Studi kemudian mengungkapkan bahwa jenis polusi udara yang berasal dari kapal mungkin lebih berbahaya dibandingkan polusi dari lalu lintas jalan raya.
Melansir Guardian, Jumat (4/9/2026) dengan bantuan staf pelabuhan, tim tersebut menghabiskan waktu lebih dari dua tahun untuk mengambil sampel polusi udara di pelabuhan. Setiap sumber polusi memiliki karakteristik yang berbeda.
Di sisi arah angin dari terminal kapal pesiar, polusi udara menunjukkan ciri khas berupa partikel ultrahalus yang mengandung logam seperti vanadium, nikel, kobalt, dan molibdenum.
Baca juga: Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Para peneliti juga mengamati bagaimana partikel ultrahalus yang terkumpul di dekat terminal kapal pesiar memengaruhi sel paru-paru, termasuk melalui pengujian pada sel yang disumbangkan oleh warga Southampton.
"Partikel ultrahalus dalam emisi kapal-kapal ini lebih mampu memicu sel untuk melepaskan berbagai sinyal komunikasi kimia yang berkaitan dengan peradangan, serta mengurangi kemampuan sel tersebut dalam mencegah replikasi virus," ungkap Profesor Matthew Loxham, pemimpin proyek dari University of Southampton.
Pengujian lebih lanjut menunjukkan bahwa peradangan sel dan penurunan kemampuan melawan virus umum ini disebabkan oleh partikel vanadium. Terdapat hubungan yang jelas antara keberadaan partikel vanadium ultrahalus di sisi arah angin terminal kapal pesiar dan jumlah kapal pesiar yang sedang bersandar di pelabuhan.
"Saat minyak bumi diolah, kandungan vanadium alami biasanya menumpuk pada bahan bakar berat setelah bensin dan minyak tanah dipisahkan. Ketika bahan bakar berat ini dibakar oleh kapal, sebagian logam tersebut menguap dan keluar melalui asap pembuangan," jelas Loxham.
"Saya kaget melihat kandungan vanadium dan nikel pada partikel asap kapal pesiar jauh lebih tinggi dibanding kapal kontainer. Terkadang, kelima terminal kapal pesiar terisi penuh, di mana satu kapal bisa menampung lebih dari 5.000 penumpang. Kapal-kapal ini terus menyalakan mesin untuk pemanas, air panas, penerangan, dan memasak kebutuhan yang tidak diperlukan oleh kapal kargo," papar Dr. Nat Easton, salah satu peneliti studi.
Baca juga: Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Juru bicara Associated British Ports (APB) mengungkapkan Pelabuhan Southampton adalah pelopor dalam merintis langkah-langkah perbaikan kualitas udara, menjadi pelabuhan pertama di Inggris yang menyediakan fasilitas listrik darat skala besar agar kapal bisa mematikan mesin saat bersandar.
Saat ini, sekitar 15 persen kapal pesiar telah menggunakan fasilitas listrik darat tersebut.
Pihak APB menyampaikan kekhawatiran terkait metode yang digunakan dalam penelitian tersebut dan keraguan atas tingkat keakuratan beberapa kesimpulan yang disampaikan kepada media.
Saat ini belum ada pengukuran khusus untuk menilai penyebaran partikel sangat halus maupun logam vanadium dari area pelabuhan.
"Dampak buruk ini berkaitan dengan kandungan kimia dan partikel sangat halus. Keduanya sama-sama belum dipantau secara rutin," tambah Easton.
Aturan baru dari Uni Eropa sebenarnya akan mewajibkan pengukuran partikel sangat halus di area rawan polusi seperti pelabuhan dan bandara, namun aturan ini tidak berlaku di Inggris.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya