Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor

Kompas.com, 7 September 2026, 13:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Studi baru menemukan jenis polusi yang berasal dari kapal mungkin lebih berbahaya dibandingkan polusi dari lalu lintas jalan raya.

Hal tersebut terungkap setelah peneliti dari University of Southampton melakukan studi polusi udara di area pelabuhan di Southampton, di Inggris. Sebagai informasi, pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan utama Inggris untuk perdagangan dan pelayaran laut dalam.

Studi kemudian mengungkapkan bahwa jenis polusi udara yang berasal dari kapal mungkin lebih berbahaya dibandingkan polusi dari lalu lintas jalan raya.

Melansir Guardian, Jumat (4/9/2026) dengan bantuan staf pelabuhan, tim tersebut menghabiskan waktu lebih dari dua tahun untuk mengambil sampel polusi udara di pelabuhan. Setiap sumber polusi memiliki karakteristik yang berbeda.

Di sisi arah angin dari terminal kapal pesiar, polusi udara menunjukkan ciri khas berupa partikel ultrahalus yang mengandung logam seperti vanadium, nikel, kobalt, dan molibdenum.

Baca juga: Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid

Polusi dan dampaknya pada kesehatan

Para peneliti juga mengamati bagaimana partikel ultrahalus yang terkumpul di dekat terminal kapal pesiar memengaruhi sel paru-paru, termasuk melalui pengujian pada sel yang disumbangkan oleh warga Southampton.

"Partikel ultrahalus dalam emisi kapal-kapal ini lebih mampu memicu sel untuk melepaskan berbagai sinyal komunikasi kimia yang berkaitan dengan peradangan, serta mengurangi kemampuan sel tersebut dalam mencegah replikasi virus," ungkap Profesor Matthew Loxham, pemimpin proyek dari University of Southampton.

Pengujian lebih lanjut menunjukkan bahwa peradangan sel dan penurunan kemampuan melawan virus umum ini disebabkan oleh partikel vanadium. Terdapat hubungan yang jelas antara keberadaan partikel vanadium ultrahalus di sisi arah angin terminal kapal pesiar dan jumlah kapal pesiar yang sedang bersandar di pelabuhan.

"Saat minyak bumi diolah, kandungan vanadium alami biasanya menumpuk pada bahan bakar berat setelah bensin dan minyak tanah dipisahkan. Ketika bahan bakar berat ini dibakar oleh kapal, sebagian logam tersebut menguap dan keluar melalui asap pembuangan," jelas Loxham.

"Saya kaget melihat kandungan vanadium dan nikel pada partikel asap kapal pesiar jauh lebih tinggi dibanding kapal kontainer. Terkadang, kelima terminal kapal pesiar terisi penuh, di mana satu kapal bisa menampung lebih dari 5.000 penumpang. Kapal-kapal ini terus menyalakan mesin untuk pemanas, air panas, penerangan, dan memasak kebutuhan yang tidak diperlukan oleh kapal kargo," papar Dr. Nat Easton, salah satu peneliti studi.

Baca juga: Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta

Juru bicara Associated British Ports (APB) mengungkapkan Pelabuhan Southampton adalah pelopor dalam merintis langkah-langkah perbaikan kualitas udara, menjadi pelabuhan pertama di Inggris yang menyediakan fasilitas listrik darat skala besar agar kapal bisa mematikan mesin saat bersandar. 

Saat ini, sekitar 15 persen kapal pesiar telah menggunakan fasilitas listrik darat tersebut.

Pihak APB menyampaikan kekhawatiran terkait metode yang digunakan dalam penelitian tersebut dan keraguan atas tingkat keakuratan beberapa kesimpulan yang disampaikan kepada media.

Saat ini belum ada pengukuran khusus untuk menilai penyebaran partikel sangat halus maupun logam vanadium dari area pelabuhan.

"Dampak buruk ini berkaitan dengan kandungan kimia dan partikel sangat halus. Keduanya sama-sama belum dipantau secara rutin," tambah Easton.

Aturan baru dari Uni Eropa sebenarnya akan mewajibkan pengukuran partikel sangat halus di area rawan polusi seperti pelabuhan dan bandara, namun aturan ini tidak berlaku di Inggris.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau