KOMPAS.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terpantau menyebar ke lima provinsi. Yaitu, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
Berdasarkan 'National Geographic Society', abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan dan partikel kaca yang keluar waktu letusan gunung berapi.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama mengatakan, abu atau debu vulkanik berpotensi berukuran sangat kecil atau dikenal sebagai Particulate Matter 2.5 (PM2.5).
Baca juga: Cara Membersihkan Abu Vulkanik di Rumah agar Tidak Terhirup
PM2.5 dapat masuk ke bagian terkecil di dalam paru-paru atau alveolus, di mana tempat terjadinya pertukaran gas untuk tubuh manusia. Menurut Tjandra, setidaknya ada lima dampak kesehatan dari abu vulkanik ini.
Pertama, gangguan paru dan pernapasan. Mereka yang terpaksa menghirup abu vulkanik berisiko mengalami keluhan batuk, iritasi tenggorok, gangguan, seperti bronkitis (bronchitis-like illnesses).
Abu vulkanik yang terhirup juga berisiko memperburuk kondisi pengidap penyakit paru kronik, seperti asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
"Kalau 'hujan abu' maka semua kita baiknya di dalam ruangan saja. Tentang kelompok rentan, maka semua berisiko, (termasuk) anak, lansia, wanita hamil, (dan pengidap) penyakit paru kronik," ujar Tjandra kepada Kompas.com, Senin (7/9/2026).
Kedua, partikel padat yang ada di abu vulkanik bisa menyebabkan iritasi kulit dan mata sampai ke peradangan dan conjunctivitis. Ketiga, jika debu mengotori sumber air dan makanan, maka berpotensi terjadi gangguan saluran pencernaan.
Keempat, gas yang kemungkinan terbawa bersama abu, seperti sulfur dioksida, berisiko memicu keluhan sakit kepala, pusing, dan gangguan bernapas.
Kelima, pada situasi ekstrem di mana kadar abu yang terhisap sangat banyak sekali, maka berpotensi menimbulkan keadaan asfiksia yang terasa seperti tercekik. Ini kemungkinan bisa terjadi terutama bagi mereka yang berada amat dekat dengan lokasi letusan.
Baca juga: Bahaya Abu Vulkanik Anak Krakatau, Bisa Lukai Pernapasan dan Kornea Mata
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah potensi risiko dari tersebarnya abu vulkanik. Pertama, Tjandra mengimbau untuk mengikuti informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atau institusi resmi lain tentang bagaimana situasi letusan gunung yang sedang terjadi dan kadar abu vulkanik di area tempat tinggal kita.
Ia berharap, pemerintah bisa memberikan informasi ke masyarakat luas secara up to date, sehingga semua dapat bersikap yang tepat dan sesuai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya