KOMPAS.com - Penerbitan obligasi hijau secara global mencetak rekor baru pada kuartal kedua tahun 2026 dengan mencapai 193 miliar dolar AS.
Menurut laporan terbaru dari Moody’s tersebut, lonjakan ini didorong oleh pertumbuhan yang kuat dari para penerbit di Eropa, sekaligus mengerek total penerbitan obligasi berkelanjutan secara keseluruhan dibanding periode yang sama tahun lalu.
Melansir ESG Today, Senin (31/8/2026) meskipun porsinya jauh lebih kecil dalam pasar keuangan berkelanjutan, penerbitan obligasi biru juga menyentuh rekor tertinggi sepanjang paruh pertama tahun ini.
Angka tersebut bahkan telah melampaui total volume sepanjang tahun 2025. Sebaliknya, volume obligasi keberlanjutan dan obligasi terkait keberlanjutan justru mengalami penurunan.
Secara keseluruhan, laporan menunjukkan bahwa total penerbitan obligasi berkelanjutan dunia yang mencakup obligasi hijau, sosial, keberlanjutan, terkait keberlanjutan, dan transisi naik 4 persen (year-over-year) pada Q2 2026.
Baca juga: Bank Dunia Kantongi Rp 70,78 Triliun dari Penjualan Obligasi Berkelanjutan
Meski begitu, total penerbitan sepanjang tahun ini masih sedikit di bawah angka paruh pertama tahun 2025 akibat melambatnya pergerakan pada Q1 2026.
Berdasarkan wilayah, laporan menunjukkan bahwa Eropa makin mendominasi pasar obligasi berkelanjutan. Eropa menyumbang 58 persen dari total volume penerbitan pada Q2 2026 dan 56 persen pada Q1, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 44 persen dan 43 persen.
Sementara wilayah Asia Pasifik menyumbang 20 persen pada Q2 2026, turun drastis dari 32 persen pada tahun sebelumnya, sementara Amerika Utara turun tipis menjadi 8 persen dari sebelumnya 9 persen.
Berdasarkan jenis obligasi, penerbitan obligasi hijau naik 2 persen pada Q2 2026 dibanding tahun lalu, mencapai rekor triwulanan sebesar 193 miliar dolar AS.
Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan pesat di Eropa sebesar 34 persen, yang menyumbang hampir dua pertiga dari total penerbitan obligasi hijau pada kuartal tersebut. Sebaliknya, volume di Asia Pasifik anjlok 42 persen dari capaian Q2 2025 yang sempat sangat kuat, dan Amerika Utara turun sekitar 16 persen menjadi 15,4 miliar dolar AS.
Menariknya, penurunan volume di Amerika Utara terutama disebabkan oleh penurunan penerbitan dari lembaga pemerintah dan pemerintah daerah, sedangkan penerbitan dari sektor korporasi dan lembaga keuangan di Amerika Utara justru naik masing-masing sekitar 8 persen dan 12 persen dibanding tahun sebelumnya.
Laporan tersebut juga mencatat pertumbuhan signifikan pada obligasi sosial dengan volume penerbitan melonjak 18 persen dibanding tahun lalu menjadi 42 miliar dolar AS, didorong oleh sektor lembaga pemerintah.
Baca juga: Investor Rela Bayar Lebih Mahal untuk Obligasi Hijau
Sementara itu, penerbitan obligasi keberlanjutan tumbuh 19 persen pada Q2 dibanding tahun lalu, meskipun secara kumulatif (year-to-date) nilainya masih di bawah capaian tahun sebelumnya. Penerbitan obligasi terkait keberlanjutan terus meredup, anjlok 63 persen secara kumulatif dan bertahan di kisaran 3 miliar dolar AS selama empat kuartal berturut-turut.
Penerbitan obligasi biru meski porsinya masih kecil di pasar obligasi berkelanjutan, melesat hingga 6 kali lipat dibanding tahun lalu pada paruh pertama 2026 menjadi 3,7 miliar dolar AS.
Moody’s menilai pertumbuhan ini dipicu oleh terbitnya standar pasar resmi di tengah meningkatnya permintaan investor dan kebutuhan pembiayaan di sektor ekonomi biru.
Capaian blue bonds pada paruh pertama 2026 ini mencetak rekor semesteran baru, melampaui total capaian sepanjang tahun 2025 yakni 2,6 miliar dolar AS, dan mendekati rekor tertinggi sepanjang tahun 2024 (4,7 miliar dolar AS).
Berdasarkan jenis penerbit, lembaga keuangan dan korporasi non-keuangan tetap menjadi kategori terbesar pada Q2, masing-masing menyumbang 29 persen dan 26 persen dari total penerbitan.
Namun, pertumbuhan sepanjang tahun ini terutama didorong oleh lembaga pemerintah dan negara, dengan kenaikan penerbitan dari kedua sektor ini masing-masing sebesar 22 persen dan 15 persen pada paruh pertama 2026.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya