Sumber emisi tersebut antara lain metode produksi yang belum menerapkan prinsip agroekologi, penggunaan bahan bakar untuk transportasi pangan, serta pembusukan limbah pangan di tempat pembuangan akhir (TPA) yang menghasilkan metana.
Proses pengolahan pangan juga menjadi bagian dari rantai emisi yang perlu diperhitungkan.
“Akumulasi dari keseluruhan itu dari hulu ke hilir yang mengakibatkan sistem pangan, kita ngomong sistem pangan ya, bukan hanya salah satu bagiannya saja, itu kita jadi kontributor kedua terbesar nasional GRK saat ini,” ujar Gina.
Karena itu, menurut dia, kebijakan pangan perlu melihat sistem pangan secara menyeluruh, mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan limbah.
Persoalan emisi dari sektor pangan juga berkaitan dengan target emisi nol bersih (net zero emission/NZE) Indonesia.
Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa sebelumnya mengingatkan bahwa semakin lambat emisi nasional mencapai puncak, semakin besar upaya dan biaya yang dibutuhkan untuk menurunkannya.
“Karena emisi mencapai puncak itu belum tentu langsung turun. Bisa saja datar, terus baru turun. Kalau puncaknya semakin lama, menurunkannya untuk turun dengan cepat itu lebih mahal biayanya,” ujar Fabby di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Menurut Fabby, sektor energi serta hutan dan lahan perlu mencapai NZE lebih awal dibandingkan target nasional pada 2060.
Ia juga mengingatkan risiko terlalu besar jika pencapaian target NZE mengandalkan kemampuan hutan dan laut dalam menyerap sisa emisi.
Menurut dia, tidak ada jaminan kapasitas penyerapan karbon ekosistem tersebut akan selalu terjaga, terutama jika terjadi deforestasi dan perubahan penggunaan lahan.
“Pengalaman Indonesia tuh udah kelihatan banget, loh. Misalnya ada moratorium, sebelumnya moratorium sawit ya, tapi lihat luasan sawit tetap juga. Kemudian, buka hutan di Merauke untuk food estate, 2 juta hektar. Ya, nanti ada presiden baru, wah, saya mau buka hutan, siapa yang dijamin?” ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya