Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan

Kompas.com, 11 September 2026, 11:15 WIB
Sri Noviyanti

Editor

“Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kita manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari,” ujarnya.

Menurut Rokhmin, pemanfaatan energi surya dapat dilakukan secara bertahap pada berbagai kebutuhan sektor perikanan, mulai dari kapal penangkap ikan hingga fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.

Langkah tersebut juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan sektor perikanan terhadap bahan bakar fosil.

Baca juga: HUT RI ke-81, KKP Dorong Kampung Nelayan Jadi Pusat Ekonomi Baru

Gagasan pemanfaatan energi matahari untuk sektor perikanan sebenarnya telah mulai diinisiasi sejak Rokhmin menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Saat itu, kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dilakukan untuk mengembangkan pemanfaatan energi surya di sektor tersebut.

Teknologi pendinginan makin efisien

Upaya membangun rantai dingin yang lebih berkelanjutan pada saat yang sama mendorong berkembangnya teknologi penyimpanan yang tidak hanya mampu menjaga kualitas hasil perikanan, tetapi juga menggunakan energi secara lebih efisien.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan bagi wilayah pesisir dan sentra perikanan yang membutuhkan fasilitas penyimpanan dingin untuk menjaga hasil tangkapan sebelum didistribusikan ke pasar. Teknologi cold storage yang lebih fleksibel dan hemat energi dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung kebutuhan tersebut.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan untuk menjawab kebutuhan itu adalah cold storage portabel dari TITAN Containers. PT DS Solutions International, sebagai perwakilan resmi TITAN Containers di Indonesia, menghadirkan teknologi tersebut dalam pameran RHVAC Indonesia 2026 yang berlangsung di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2, Hall 5 dan 6, mulai Rabu (9/9/2026) hingga Jumat (11/9/2026).

Dalam ajang yang mempertemukan pelaku usaha, engineer, dan operator industri refrigerasi, HVAC, serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portabel, yakni ArcticBlast 20FT dan ArcticStore Horizon 40FT.

Baca juga: Bisnis Cold Chain Mulai Bidik Pasar Indonesia, Diklaim Bisa Stabilkan Harga Pangan

ArcticBlast 20FT dirancang untuk proses rapid chilling dan blast freezing. Dengan sistem mesin ganda, unit ini mampu menurunkan suhu hingga -40 derajat Celsius. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk komoditas yang membutuhkan proses pendinginan atau pembekuan secara cepat, termasuk seafood, sehingga kualitas produk dapat lebih terjaga selama proses penyimpanan.

Sementara itu, ArcticStore Horizon 40FT merupakan generasi terbaru keluarga ArcticStore yang diperkenalkan untuk pertama kalinya di Indonesia melalui ajang tersebut. Unit ini memiliki rentang suhu -30 hingga +30 derajat Celsius.

Dari sisi efisiensi energi, TITAN menyebut ArcticStore Horizon dapat mengurangi konsumsi energi rata-rata hingga 55 persen dibandingkan reefer konvensional. Efisiensi tersebut didukung panel insulasi generasi terbaru dan penggunaan refrigeran dengan Global Warming Potential (GWP) sebesar 0,5.

Baca juga: KAI Logistik Perkuat Layanan Cold Chain, Angkutan Reefer Melonjak 39 Persen

Unit Horizon juga dapat dilengkapi panel surya opsional yang secara tipikal mampu mengurangi konsumsi energi hingga 25 persen lebih lanjut. Pemanfaatan teknologi seperti ini menunjukkan bagaimana kebutuhan menjaga kualitas pangan dapat berjalan beriringan dengan upaya mengurangi konsumsi energi dalam rantai pasok.

Pentahelix untuk Kampung Nelayan yang lebih berkelanjutan

Pengembangan rantai dingin juga membutuhkan lebih dari sekadar penyediaan teknologi. Pemanfaatan fasilitas secara optimal membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dari nelayan, pembudidaya, pengolah, pedagang, hingga konsumen.

Karena itu, Rokhmin mendorong keterlibatan seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, industri, akademisi dan peneliti, komunitas nelayan serta pelaku usaha perikanan, dan media.

Pemerintah, kata dia, memiliki peran penting karena memiliki anggaran, sumber daya, sekaligus kewenangan untuk membangun kebijakan yang mendukung ekosistem tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau