Editor
“Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kita manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari,” ujarnya.
Menurut Rokhmin, pemanfaatan energi surya dapat dilakukan secara bertahap pada berbagai kebutuhan sektor perikanan, mulai dari kapal penangkap ikan hingga fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.
Langkah tersebut juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan sektor perikanan terhadap bahan bakar fosil.
Baca juga: HUT RI ke-81, KKP Dorong Kampung Nelayan Jadi Pusat Ekonomi Baru
Gagasan pemanfaatan energi matahari untuk sektor perikanan sebenarnya telah mulai diinisiasi sejak Rokhmin menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Saat itu, kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dilakukan untuk mengembangkan pemanfaatan energi surya di sektor tersebut.
Upaya membangun rantai dingin yang lebih berkelanjutan pada saat yang sama mendorong berkembangnya teknologi penyimpanan yang tidak hanya mampu menjaga kualitas hasil perikanan, tetapi juga menggunakan energi secara lebih efisien.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan bagi wilayah pesisir dan sentra perikanan yang membutuhkan fasilitas penyimpanan dingin untuk menjaga hasil tangkapan sebelum didistribusikan ke pasar. Teknologi cold storage yang lebih fleksibel dan hemat energi dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan untuk menjawab kebutuhan itu adalah cold storage portabel dari TITAN Containers. PT DS Solutions International, sebagai perwakilan resmi TITAN Containers di Indonesia, menghadirkan teknologi tersebut dalam pameran RHVAC Indonesia 2026 yang berlangsung di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2, Hall 5 dan 6, mulai Rabu (9/9/2026) hingga Jumat (11/9/2026).
Dalam ajang yang mempertemukan pelaku usaha, engineer, dan operator industri refrigerasi, HVAC, serta cold chain tersebut, TITAN Containers menghadirkan dua unit cold storage portabel, yakni ArcticBlast 20FT dan ArcticStore Horizon 40FT.
Baca juga: Bisnis Cold Chain Mulai Bidik Pasar Indonesia, Diklaim Bisa Stabilkan Harga Pangan
ArcticBlast 20FT dirancang untuk proses rapid chilling dan blast freezing. Dengan sistem mesin ganda, unit ini mampu menurunkan suhu hingga -40 derajat Celsius. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk komoditas yang membutuhkan proses pendinginan atau pembekuan secara cepat, termasuk seafood, sehingga kualitas produk dapat lebih terjaga selama proses penyimpanan.
Sementara itu, ArcticStore Horizon 40FT merupakan generasi terbaru keluarga ArcticStore yang diperkenalkan untuk pertama kalinya di Indonesia melalui ajang tersebut. Unit ini memiliki rentang suhu -30 hingga +30 derajat Celsius.
Dari sisi efisiensi energi, TITAN menyebut ArcticStore Horizon dapat mengurangi konsumsi energi rata-rata hingga 55 persen dibandingkan reefer konvensional. Efisiensi tersebut didukung panel insulasi generasi terbaru dan penggunaan refrigeran dengan Global Warming Potential (GWP) sebesar 0,5.
Baca juga: KAI Logistik Perkuat Layanan Cold Chain, Angkutan Reefer Melonjak 39 Persen
Unit Horizon juga dapat dilengkapi panel surya opsional yang secara tipikal mampu mengurangi konsumsi energi hingga 25 persen lebih lanjut. Pemanfaatan teknologi seperti ini menunjukkan bagaimana kebutuhan menjaga kualitas pangan dapat berjalan beriringan dengan upaya mengurangi konsumsi energi dalam rantai pasok.
Pengembangan rantai dingin juga membutuhkan lebih dari sekadar penyediaan teknologi. Pemanfaatan fasilitas secara optimal membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dari nelayan, pembudidaya, pengolah, pedagang, hingga konsumen.
Karena itu, Rokhmin mendorong keterlibatan seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, industri, akademisi dan peneliti, komunitas nelayan serta pelaku usaha perikanan, dan media.
Pemerintah, kata dia, memiliki peran penting karena memiliki anggaran, sumber daya, sekaligus kewenangan untuk membangun kebijakan yang mendukung ekosistem tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya