KOMPAS.com - Temuan dari penelitian IPB University terhadap DNA tanah Poboya, Sulawesi Tengah, mengungkapkan bahwa lahan bekas tambang tidak sepenuhnya miskin spesies.
Berdasarkan hasil analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi Oxford Nanopore Sequencing (ONT) dan pendekatan metagenomik di kawasan konsesi tambang emas Poboya, komunitas mikroba di dalam lahan bekas tambang masih memiliki kemampuan bertahan dan berpotensi mendukung pemulihan lingkungan.
Padahal, selama ini, lahan bekas tambang kerap dipandang sebagai lingkungan yang telah kehilangan kehidupan.
Baca juga: Ascenso Bidik Pasar Tambang Indonesia, Investasi 100 Juta Dollar AS di India
“Tanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies. Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang,” ujar salah satu peneliti IPB University dari Departemen Biokimia, Rahadian Pratama, dilansir dari laman resmi IPB University, Jumat (11/9/2026).
Menurut Rahadian, penutupan vegetasi (vegetation cover) justru menjadi faktor dominan yang memicu pemulihan komunitas bakteri tanah dibandingkan riwayat pertambangan itu sendiri.
Melalui analisis sekuensing terhadap sampel tanah, tim peneliti berhasil mengidentifikasi konsorsium mikroba yang memiliki perangkat metabolik (metabolic toolkit) unik untuk bertahan hidup di lingkungan tercemar.
Salah satunya adalah isolat bakteri, seperti Variovorax. Analisis genomik menunjukkan bakteri tersebut membawa gen-gen pengurai polutan, gen resistensi logam berat, serta penyerap besi (siderophores). Bakteri ini juga dilengkapi gen pendorong pertumbuhan tanaman (plant-growth promotion).
“Analisis genom ini memberikan bukti konkret mengenai potensi bioremediasi asli dari tanah Sulawesi. Ini menjadi petunjuk nyata untuk memulihkan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya,” tutur Rahadian.
Baca juga: Bupati Sumbawa Cek Lokasi Tambang yang Longsor dan Tewaskan 3 Penambang
Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan tidak serta merta membuat tanah kehilangan seluruh potensi mikrobiologisnya. Penutupan vegetasi menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan pemulihan komunitas bakteri tanah.
Menurut Rahadian, tanah di kawasan Wallacea merupakan sumber daya genom yang sangat kaya. Namun, potensi sumber daya genom tanah di kawasan Wallacea belum banyak tereksplorasi.
Karena itu, pemantauan mikrobioma juga perlu dilakukan di tanah selain pada area bekas tambang. Misalnya, pemantauan mikrobioma pada lahan yang mengalami alih fungsi menjadi pertanian.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya