Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru

Kompas.com, 11 September 2026, 13:20 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Erupsi dari gunung berapi dapat menjadi awal terbentuknya ekosistem baru melalui proses suksesi primer.

‎Di balik rusaknya vegetasi dan habitat, erupsi gunung berapi tidak selalumenjadi akhir bagi kehidupan.

Hal ini tecermin dari kawasan Krakatau yang menjadi salah satu laboratorium alam paling utama untuk mempelajari bagaimana ekosistem berkembang dari kondisi hampir tanpa kehidupan hingga terbentuk komunitas vegetasi dan satwa.

‎Ahli konservasi tumbuhan sekaligus dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Agus Hikmat mengatakan, letusan Krakatau pada 1883 menjadi studi kasus klasik dalam kajian perkembangan ekosistem.

Baca juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Tak Lagi Terdeteksi Menyebar di Lampung

‎Kemunculan Anak Krakatau pada 1927 dari sisa letusan tersebut menghadirkan ekosistem baru yang pada awalnya kosong dari flora dan satwa liar.

‎“Erupsi gunung berapi akan mereset ekosistem yang ada menjadi ekosistem yang baru. Ekosistem di kawasan Krakatau merespons dalam tiga fase, yaitu fase penghancuran, kolonisasi, dan stabilisasi ekosistem,” ujar Agus, dilansir dari IPB University, Jumat (11/9/2026).

‎Pada fase penghancuran, berbagai indikator, seperti suhu panas, abu vulkanik, gas beracun seperti sulfur dioksida (SO2), sampai tsunami bisa menyebabkan vegetasi mengalami kerusakan berat atau mati.

Dalam fase penghancuran, satwa liar juga terdampak karena kematian, melarikan diri, dan terbawa gelombang. Namun, sebagian satwa, seperti burung laut, kelelawar, dan serangga terbang dapat bertahan, bahkan sekaligus berperan sebagai agen penyebar biji.

‎Proses tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi suksesi primer. Setelah permukaan pulau tertutup pasir atau batuan vulkanik, organisme pionir, seperti mikroba, lumut, dan jamur, mulai hadir. Seiring perubahan substrat dan kondisi lingkungan, rerumputan, semak, perdu, sampai pohon-pohon kecil secara bertahap dapat berkembang dan membentuk hutan muda.

‎“Proses suksesi primer dapat berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun, bergantung pada kondisi lingkungan dan keberadaan agen penyebar biji,” tutur Agus.

Baca juga: Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik

‎Selain menghancurkan, kata dia, erupsi juga dapat menciptakan habitat baru. Lava yang mendingin menjadi batuan vulkanik dan melalui pelapukan bisa berkembang menjadi tanah kaya mineral.

Material vulkanik di laut juga dapat menjadi substrat bagi pertumbuhan karang. Sedangkan gua lava, kawah, serta tebing baru dapat menjadi niche bagi kelelawar, burung, kadal, atau organisme lainnya.

‎Biarkan alam pulih‎

‎Gunung Anak Krakatau merupakan kawasan konservasi berupa cagar alam dan masih aktif secara vulkanik. Agus menggarisbawahi pentingnya membiarkan proses alami pemulihan berlangsung.

Konservasi perlu dilakukan dengan mencegah spesies asing invasif, tidak mengintroduksi tanaman dari luar, serta melakukan pemantauan erupsi, tsunami, vegetasi, dan satwa liar secara jangka panjang.

‎“Krakatau adalah laboratorium alam proses suksesi primer. Tugas konservasi bukan mengembalikan alam seperti semula, tetapi melindungi proses suksesi alami agar berjalan dengan baik,” ucapnya.

‎Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau mengganggu proses fotosintesis tanaman karena stomata pada daun dan batang tertutup oleh lapisan debu.

Menurut pakar ilmu tanah IPB University, Iskandar, kondisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Risiko itu bergantung berapa lama abu vulkanik menempel pada permukaan daun.

Baca juga: Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem

‎“Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen,” ujar Iskandar, dilansir dari laman resmi IPB University, Senin (7/9/2026).

‎Dampak abu vulkanik terhadap tanaman sangat bergantung pada lama tanaman terpapar abu. Semakin lama gangguan berlangsung, maka bertambah besar pula potensi kerusakan yang ditimbulkan.

‎“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” ucapnya. Dampak abu vulkanik terhadap tanaman juga dipengaruhi oleh jarak dari pusat letusan. Di wilayah yang relatif dekat dengan pusat letusan, kata dia, abu vulkanik yang jatuh masih memiliki suhu cukup tinggi, sehingga berisiko menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau