Menurut peneliti menggabungkan pembersihan energi listrik secara besar-besaran, penerapan penuh seluruh teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, serta penggunaan bahan baku berbasis hayati yang cukup ternyata masih belum mampu membawa sektor ini mencapai nol emisi bersih (net zero) pada tahun 2050.
Ini adalah hasil yang sangat mengejutkan. Artinya, hanya membersihkan proses produksi saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah.
Baca juga: SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
"Bahkan skenario yang sangat optimistis dengan menggabungkan penurunan emisi jaringan listrik, penerapan penuh penangkapan dan penyimpanan karbon, serta bahan baku hayati yang memadai masih belum bisa membawa sektor ini ke titik nol emisi pada 2050," kata Meng.
"Mengurangi permintaan terhadap produk-produk petrokimia harus menjadi bagian dari solusinya, bersisian dengan proses produksi yang lebih bersih, yang datanya dapat didukung oleh penelitian ini," paparnya.
Kendati demikian bukan berarti perbaikan teknis itu sia-sia karena itu dapat memberi landasan nyata bagi industri dan pemerintah mengenai di mana harus memulai mengatasi permasalahan. Termasuk kesediaan untuk memikirkan ulang seberapa banyak bahan petrokimia yang sebenarnya benar-benar perlu dikonsumsi oleh dunia.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya