KOMPAS.com - Sebuah analisis terhadap ajang maraton menemukan bahwa tingginya kadar nitrogen dioksida yang merupakan polutan udara yang umum berasal dari lalu lintas kendaraan, berhubungan dengan waktu tempuh garis finis yang lebih lambat, khususnya bagi pelari rekreasi.
Sebagai informasi pelari rekreasi adalah orang yang berlari terutama untuk tujuan kesehatan, kebugaran, hobi, rekreasi, atau kepuasan pribadi, bukan untuk mengejar karier sebagai atlet profesional atau mengincar hadiah uang
Melansir Earth, Sabtu (26/9/2026) temuan ini sendiri didapat setelah para peneliti menganalisis 2.756.553 catatan waktu finis dari ajang World Marathon Majors di Berlin, Boston, Chicago, London, New York City, dan Tokyo.
Lomba-lomba tersebut berlangsung antara tahun 2010 hingga 2024, mencakup 75 acara maraton yang berbeda.
Para peneliti membandingkan waktu finis dengan tingkat nitrogen dioksida (NO2) dan partikel halus (PM 2,5) pada hari perlombaan. Partikel yang sangat kecil ini dapat melayang dan bertahan lama di udara.
Sementara data tingkat polusi diambil dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service. Setiap pelari dalam satu ajang maraton diberi perkiraan tingkat polusi yang sama, berdasarkan kualitas udara di dekat area garis start.
Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Artinya, peneliti tidak mengetahui secara persis seberapa banyak polusi yang dihirup oleh masing-masing pelari. Mereka juga tidak memantau kualitas udara di sepanjang rute maraton sejauh 42,2 kilometer tersebut.
Ketika seseorang berolahraga berat, mereka menghirup jauh lebih banyak udara dibandingkan saat beristirahat. Artinya, polutan di udara dapat masuk dan meresap lebih dalam ke dalam paru-paru selama perlombaan jarak jauh.
Dr. James Donaldson, peneliti posdoktoral bidang kesehatan dan lingkungan di University of Leicester, menjelaskan dua jenis polutan yang diteliti timnya.
"Nitrogen dioksida adalah polutan yang utamanya dihasilkan oleh lalu lintas jalan raya dan proses pembakaran, sedangkan partikel halus terdiri dari partikel-partikel kecil di udara yang dapat dihasilkan dari emisi kendaraan, industri, pemanas, dan sumber lainnya," kata Dr. Donaldson.
"Kedua polutan tersebut telah terbukti berdampak buruk bagi kesehatan, khususnya pada jantung dan paru-paru. Dari analisis kami terhadap lebih dari dua juta pelari maraton, kami mengamati bahwa tingkat nitrogen dioksida berhubungan kuat dengan waktu finis mereka," katanya lagi.
Dampak nitrogen dioksida (NO2) terlihat jauh lebih jelas memperlambat waktu tempuh pelari dibandingkan dengan partikel halus (PM2,5).
Studi menyimpulkan setiap kenaikan nitrogen dioksida sebesar satu mikrogram per meter kubik, waktu finis pelari menjadi lebih lambat 1,43 menit pada pria dan 1,56 menit pada wanita.
Dr. Donaldson juga menjelaskan mengapa pelari yang lebih lambat menunjukkan dampak yang lebih kuat dari polusi.
"Ada banyak kemungkinan alasan di balik pola ini. Pertama, pelari yang lebih lambat berada di lintasan maraton lebih lama, sehingga mereka menghirup paparan polutan dalam jumlah yang lebih banyak selama hari perlombaan," kata Dr. Donaldson.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya