Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia

Kompas.com, 30 September 2026, 23:39 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – “With great power comes great responsibility.” 

Kalimat yang populer lewat karakter Paman Ben dalam Spider-Man itu menggambarkan bahwa kekuatan selalu datang bersama tanggung jawab. Namun, ketika dibawa ke konteks yang lebih nyata, maknanya terasa relevan untuk menggambarkan kekayaan sumber daya alam Indonesia, termasuk sumber daya mineral.

Indonesia memiliki beragam sumber daya mineral yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satunya adalah nikel yang kini menjadi salah satu komoditas strategis dalam rantai industri global.

Berdasarkan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia Tahun 2025 yang disusun Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia tercatat memiliki sumber daya bijih nikel sekitar 19,158 miliar ton dan cadangan sekitar 5,914 miliar ton.

Posisi Indonesia dalam industri nikel juga terlihat dari sisi produksi. Mineral Commodity Summaries 2026 dari United States Geological Survey (USGS) memperkirakan produksi tambang nikel Indonesia mencapai 2,6 juta ton pada 2025. Angka tersebut merupakan yang terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar dua pertiga dari produksi nikel tambang global yang diperkirakan mencapai 3,9 juta ton pada tahun yang sama.

Baca juga: Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa nikel merupakan salah satu modal sumber daya yang dimiliki Indonesia. Namun, keberadaan mineral di dalam tanah belum dengan sendirinya menciptakan nilai tambah bagi perekonomian.

Setelah ditemukan, sumber daya mineral harus melalui proses panjang, mulai dari penambangan, pengolahan, pembangunan industri, pengembangan teknologi, hingga penyerapan tenaga kerja.

Oleh karena itu, pertanyaan mengenai nikel tidak berhenti pada seberapa banyak yang dimiliki Indonesia, tetapi juga bagaimana sumber daya tersebut dikelola.

Nikel Indonesia dan peluang membangun rantai industri

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan, sebagian besar endapan nikel Indonesia berupa nikel laterit yang terbentuk melalui proses pelapukan batuan ultramafik. Persebarannya terutama terdapat di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara.

Nikel digunakan dalam berbagai kebutuhan industri, antara lain untuk produksi baja tahan karat dan sejumlah teknologi baterai. Perkembangan kendaraan listrik kemudian membuat komoditas ini semakin mendapat perhatian karena beberapa jenis baterai lithium-ion menggunakan material berbasis nikel sebagai salah satu komponennya.

Hasil produksi nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan.KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Hasil produksi nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan.

Kondisi tersebut menempatkan nikel bukan hanya sebagai komoditas pertambangan, tetapi juga sebagai bagian dari rantai industri yang lebih luas. Bagi Indonesia, posisi ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas di dalam negeri melalui pengolahan sebelum hasil tambang digunakan sebagai bahan baku industri.

Kebijakan hilirisasi menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mendorong proses tersebut. Dalam konteks nikel, bijih yang ditambang di dalam negeri diolah menjadi berbagai produk turunan sebelum masuk ke tahap pemanfaatan lebih lanjut.

Baca juga: PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih

Jumlah fasilitas pengolahan nikel di dalam negeri juga terus bertambah. Kementerian ESDM mencatat, hingga Desember 2025 terdapat 79 smelter nikel yang telah beroperasi, sementara fasilitas lainnya masih dalam tahap konstruksi dan perencanaan.

Pada saat yang sama, terdapat 365 Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di enam provinsi penghasil nikel.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa hilirisasi tidak berhenti pada kebijakan, tetapi juga diikuti pembangunan kapasitas pengolahan di dalam negeri. Aktivitas pertambangan kemudian terhubung dengan fasilitas industri yang mengolah mineral menjadi produk dengan bentuk dan kegunaan yang lebih beragam.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut hilirisasi sebagai bagian dari proses transformasi ekonomi Indonesia. Menurutnya, proses tersebut mendorong Indonesia tidak berhenti pada kegiatan mengambil dan menjual komoditas, tetapi mengolahnya menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

“Hilirisasi ini adalah anak tangga untuk sebuah negara berkembang menjadi negara maju,” kata Bahlil saat memberikan kuliah umum di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Perkembangan nilai ekspor produk turunan nikel turut menjadi salah satu gambaran dari proses itu. Bahlil menyebut hilirisasi telah meningkatkan nilai ekspor produk turunan nikel dari 3,3 miliar dollar AS pada 2017 menjadi 33,9 miliar dollar AS setelah kebijakan larangan ekspor bijih nikel diterapkan

Namun, pembangunan industri hilir membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas pengolahan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
Pemerintah
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
LSM/Figur
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
Pemerintah
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
LSM/Figur
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Pemerintah
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Pemerintah
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau