Teknologi, sumber daya manusia, investasi, dan kemampuan industri nasional menjadi bagian dari rantai yang menentukan sejauh mana nilai tambah dapat dibangun di dalam negeri.
Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya berbicara tentang mengolah bijih menjadi produk antara. Proses tersebut juga berkaitan dengan bagaimana Indonesia membangun kapasitas industri dan manusia di dalam rantai nilai mineral.
Pada saat yang sama, kegiatan pertambangan dan pengolahan tetap membutuhkan pengelolaan terhadap lingkungan serta wilayah di sekitarnya.
Pertambangan berlangsung di ruang yang juga menjadi bagian dari ekosistem dan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan lahan, air, energi, reklamasi, dan keanekaragaman hayati menjadi bagian dari kegiatan pertambangan.
Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan PT Vale Indonesia dalam menjalankan operasi pertambangan nikelnya di Sulawesi.
Baca juga: Produksi Nikel Matte Vale Indonesia Tembus 29.773 Ton, Pendapatan Ikut Naik
Di Sorowako, Sulawesi Selatan, misalnya, kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel telah berlangsung selama puluhan tahun. Di kawasan tersebut terdapat Danau Matano yang menjadi bagian dari bentang alam sekitar wilayah operasi.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Bernadus Irmanto mengatakan bahwa perseroan melakukan rehabilitasi lahan secara progresif serta membangun sarana untuk mengendalikan erosi dan sedimentasi di sekitar Danau Matano.
“Kalau danau ini adalah jantung kehidupan operasi PT Vale, maka adalah sebuah keharusan buat perusahaan untuk menjaga kelestarian danau ini,” tegas dia.
Salah satu upaya juga dilakukan dengan reklamasi lahan. Hingga Desember 2025, lahan yang berhasil direklamasi tercatat mencapai 50,23 persen atau seluas 3.862,56 hektar dari total area terbuka.
Hingga 2024, PT Vale Indonesia telah merehabilitasi lahan seluas 2,5 kali dari area yang dibuka untuk kegiatan tambang. Rehabilitasi dilakukan secara progresif dengan membagi area tambang menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga pemulihan lahan dapat dilakukan secara bertahap.
PT Vale juga menyebut telah menanam lebih dari lima juta pohon dan mengembangkan fasilitas pembibitan untuk mendukung kegiatan rehabilitasi.
Di titik ini, agenda hilirisasi bertemu dengan tantangan pengelolaan sumber daya alam. Ketika rantai industri dikembangkan semakin panjang, pengelolaan dampak kegiatan pertambangan menjadi bagian yang ikut menentukan keberlanjutan proses tersebut.
Besarnya aktivitas hilirisasi juga tecermin dari arus investasi yang masuk ke sektor tersebut. Kementerian Investasi dan Hilirisasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi bidang hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp 584,1 triliun.
Baca juga: DPR Ungkap Kunci Hilirisasi Minerba: SDM dan Penguasaan Teknologi
Angka itu tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan menyumbang 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional. Dari jumlah tersebut, sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 373,1 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi telah berkembang menjadi bagian dari aktivitas investasi yang lebih luas. Di sektor nikel, salah satu contohnya terlihat dari pengembangan proyek yang dilakukan PT Vale Indonesia melalui sejumlah Indonesia Growth Project (IGP).
Indonesia Growth Project (IGP) Morowali PT Vale Indonesia memasuki fase konstruksi pada September 2024Salah satunya adalah IGP Morowali di Sulawesi Tengah. Proyek tersebut mencakup pengembangan tambang serta pembangunan fasilitas pengolahan berbasis high pressure acid leach (HPAL) dengan nilai investasi sekitar 2 miliar dollar AS.
Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada periode 2026 hingga 2027. Menurut PT Vale, pengembangan IGP Morowali ditujukan untuk memperkuat ekosistem hilirisasi mineral nasional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi Indonesia.
Bernardus memastikan bahwa pengembangan proyek tersebut dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja, kepatuhan terhadap regulasi, dan perlindungan lingkungan.
“Kami berharap, kemitraan strategis ini dapat terus berjalan dan semakin memperkuat kontribusi sektor hilirisasi bagi pembangunan daerah,” tegas Bernardus.
Baca juga: Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya