Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia

Kompas.com, 30 September 2026, 23:39 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Teknologi, sumber daya manusia, investasi, dan kemampuan industri nasional menjadi bagian dari rantai yang menentukan sejauh mana nilai tambah dapat dibangun di dalam negeri.

Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya berbicara tentang mengolah bijih menjadi produk antara. Proses tersebut juga berkaitan dengan bagaimana Indonesia membangun kapasitas industri dan manusia di dalam rantai nilai mineral.

Pada saat yang sama, kegiatan pertambangan dan pengolahan tetap membutuhkan pengelolaan terhadap lingkungan serta wilayah di sekitarnya.

Hilirisasi dan tantangan menjaga keberlanjutan

Pertambangan berlangsung di ruang yang juga menjadi bagian dari ekosistem dan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan lahan, air, energi, reklamasi, dan keanekaragaman hayati menjadi bagian dari kegiatan pertambangan.

Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan PT Vale Indonesia dalam menjalankan operasi pertambangan nikelnya di Sulawesi.

Baca juga: Produksi Nikel Matte Vale Indonesia Tembus 29.773 Ton, Pendapatan Ikut Naik

Di Sorowako, Sulawesi Selatan, misalnya, kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel telah berlangsung selama puluhan tahun. Di kawasan tersebut terdapat Danau Matano yang menjadi bagian dari bentang alam sekitar wilayah operasi.

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Bernadus Irmanto mengatakan bahwa perseroan melakukan rehabilitasi lahan secara progresif serta membangun sarana untuk mengendalikan erosi dan sedimentasi di sekitar Danau Matano.

“Kalau danau ini adalah jantung kehidupan operasi PT Vale, maka adalah sebuah keharusan buat perusahaan untuk menjaga kelestarian danau ini,” tegas dia.

Salah satu upaya juga dilakukan dengan reklamasi lahan. Hingga Desember 2025, lahan yang berhasil direklamasi tercatat mencapai 50,23 persen atau seluas 3.862,56 hektar dari total area terbuka.

Hingga 2024, PT Vale Indonesia telah merehabilitasi lahan seluas 2,5 kali dari area yang dibuka untuk kegiatan tambang. Rehabilitasi dilakukan secara progresif dengan membagi area tambang menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga pemulihan lahan dapat dilakukan secara bertahap.

PT Vale juga menyebut telah menanam lebih dari lima juta pohon dan mengembangkan fasilitas pembibitan untuk mendukung kegiatan rehabilitasi.

Di titik ini, agenda hilirisasi bertemu dengan tantangan pengelolaan sumber daya alam. Ketika rantai industri dikembangkan semakin panjang, pengelolaan dampak kegiatan pertambangan menjadi bagian yang ikut menentukan keberlanjutan proses tersebut.

Hilirisasi jadi investasi untuk masa depan

Besarnya aktivitas hilirisasi juga tecermin dari arus investasi yang masuk ke sektor tersebut. Kementerian Investasi dan Hilirisasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi bidang hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp 584,1 triliun.

Baca juga: DPR Ungkap Kunci Hilirisasi Minerba: SDM dan Penguasaan Teknologi

Angka itu tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan menyumbang 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional. Dari jumlah tersebut, sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 373,1 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi telah berkembang menjadi bagian dari aktivitas investasi yang lebih luas. Di sektor nikel, salah satu contohnya terlihat dari pengembangan proyek yang dilakukan PT Vale Indonesia melalui sejumlah Indonesia Growth Project (IGP).

Indonesia Growth Project (IGP) Morowali PT Vale Indonesia memasuki fase konstruksi pada September 2024PT Vale Indonesia Indonesia Growth Project (IGP) Morowali PT Vale Indonesia memasuki fase konstruksi pada September 2024

Salah satunya adalah IGP Morowali di Sulawesi Tengah. Proyek tersebut mencakup pengembangan tambang serta pembangunan fasilitas pengolahan berbasis high pressure acid leach (HPAL) dengan nilai investasi sekitar 2 miliar dollar AS.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada periode 2026 hingga 2027. Menurut PT Vale, pengembangan IGP Morowali ditujukan untuk memperkuat ekosistem hilirisasi mineral nasional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi Indonesia.

Bernardus memastikan bahwa pengembangan proyek tersebut dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja, kepatuhan terhadap regulasi, dan perlindungan lingkungan.

“Kami berharap, kemitraan strategis ini dapat terus berjalan dan semakin memperkuat kontribusi sektor hilirisasi bagi pembangunan daerah,” tegas Bernardus.

Baca juga: Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
Pemerintah
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
LSM/Figur
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
Pemerintah
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
LSM/Figur
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Pemerintah
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Pemerintah
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau